Cerita Maera Panigoro Seputar Hobinya Menikmati Pertunjukan Musik dan Drama
Maera Panigoro mengaku dibesarkan dengan menonton berbagai pertunjukan musik dan drama.
20 Nov 2015


3 / 4
Sebagai sosok yang dikaitkan dengan dunia seni, Maera Panigoro terbilang cukup sering menonton berbagai drama musikal, baik di dalam negeri maupun hingga menyebrang benua. Mea, begitu ia kerap disapa, memang menyukai dunia seni sejak ia kecil, walaupun ia tidak memiliki latar belakang pendidikan di dunia seni. Mea mengaku dibesarkan dengan menonton berbagai pertunjukan seperti lawak Srimulat, Wayang Orang Barata di Senen, hingga pertunjukan teater Broadway dan teater West End di London, Inggris. Sejak kecil ia juga sudah diperkenalkan dengan berbagai macam jenis musik, seperti jazz, pop, slow, rock, hingga opera. Bahkan Mea kecil tidak dapat belajar jika tidak menggunakan musik.
            Easter Parade adalah drama musikal pertama yang Mea tonton. Pertunjukan yang dibintangi Judy Garland, Fred Astaire, Peter Lawford, dan Ann Miller ini sukses membuka mata dan membuat Mea jatuh cinta pada seni pertunjukan. Selanjutnya ia mulai menggemari The Sound of Music dan Oklahoma. Terlebih lagi ketika ia mendapat kesempatan untuk menonton langsung pertunjukan West End dan Brodway, seperti Phantom of The Opera, Les Miserables, hingga Miss Saigon. Mea begitu takjub pada pertunjukan drama musikal karena ia beranggapan ada sebuah harmoni dari tiga unsur seni sekaligus, yaitu musik, tari, dan akting. “Dalam pertunjukan drama musikal, bernyanyi tidak sekadar bernyanyi, namun berdialog melalui lagu, sekaligus harus bisa berakting yang bisa memengaruhi emosi penonton. Harmoni itu yang sangat menggungah aku ketika menonton drama musikal,” jelasnya.
            Begitu seringnya ia menyaksikan pertunjukan drama musikal, akhirnya timbul keinginan dalam diri Maera Panigoro untuk menampilkan pertunjukan seperti Broadway di Indonesia. Ia bahkan mengajak Ari Tulang, koreografer ternama di Indonesia, dan Dian HP, komposer musik, untuk studi banding di London. Alhasil sepulangnya dari sana, Mea semakin mantap untuk menampilakn pertunjukan teater musikal yang mudah diterima masyarakat Indonesia. Mea, bersama dengan Ari Tulang serta Dian HP, akhirnya mendirikan perusahaan yang bergerak di bisnis rumah produksi musik dan hiburan, khusus di bidang performing arts, yaitu Artswara. Dari situ lahir lah pertunjukan musikal Gita Cinta SMA dan Ali Topan yang cukup dapat diterima olah masyarakat karena membuka kembali nostalgia lama terhadap dua cerita yang sangat terkenal di tahun 80-an.
            Walau masih berbeda standar pertunjukan drama musikal di Indonesia dengan di Broadway, menurut Maera Panigoro janganlah menaruh ekspektasi yang berlebihan, karena ia merasa drama musikal di Indonesia sudah sangat mendekati, contohnya drama musikal Laskar Pelangi. “Meski bentuknya bukan Broadway, namun beberapa unsur yang dimiliki kita sudah cukup mendekati. Bahkan kesenian tradisional di Indonesia juga banyak mengandung cikal bakal musikal, hanya saja saat mengemasnya tentu perlu dibuat semenarik dan semegah mungkin, serta sedapat mungkin diterima oleh masyarakat karena saat ini dunia pertunjukan kekurangan penonton. Itu yang membuat dunia pertunjukan Indonesia masih kurang berkembang,” jelasnya menutup perbincangan. (TA) Foto: Dok. Dewi, Dok. Istimewa
 

 

 

Author

DEWI INDONESIA