Rayakan Hari Waisak, Nia Dinata Merilis Film Dokumenter “Unearthing Muarajambi Temples” di Candi Borobudur
Sebagai salah satu situs candi Buddha terluas di Indonesia, Nia Dinata mengangkat kisah peradaban Muarajambi dan kehidupan masyarakatnya hingga kini
13 Jun 2023




Menyambut Hari Raya Waisak, Nia Dinata meluncurkan film dokumenter garapan terbarunya berjudul “Unearthing Muarajambi Temples” di taman Candi Borobudur, Magaleng, Jawa Tengah. Pemutaran film dokumenter ini secara khusus dilaksanakan dalam rangka Road To Waisak dan diadakan dengan bergaya layar tancap. Film dokumenter ini menceritakan tentang sejarah lintas zaman tentang situs Candi Muarajambi di tepi Sungai Batanghari, Provinsi Jambi, Sumatra Barat. 

Kisah Peradaban Muarajambi

Situs Muarajambi adalah kompleks percandian Buddha terluas di Indonesia yang berlokasi di tepi Sungai Batanghari, Provinsi Jambi, namun selama ini belum banyak diketahui awam. Menurut penelitian arkeologi teranyar, kompleks Candi Muarajambi dulunya difungsikan sebagai maha vihara atau pusat pengajaran pengetahuan Buddha pada abad 6-12 M. Perjalanan pemikir Buddha kanon dunia, seperti I-Tsing, Ati?a Shrijnana Dipankara, serta Serlingpa Dharmakirti juga mengakar kuat di Muarajambi. Ajaran yang berkembang di Muarajambi menjadi benih beberapa aliran Buddha, khususnya aliran yang telah mekar di Tibet.

Saat ini, situs Candi Muarajambi memiliki sebelas candi berbatu bata yang telah dipugar dan ratusan reruntuhan lain yang sedang dalam proses pemugaran. Kini, selain difungsikan sebagai situs edukasi dan pariwisata, kompleks candi juga dipakai sebagai tempat peribadatan umat Buddha. Selain itu, kompleks ini juga sering digunakan sebagai media edukasi pembelajaran non-formal.

Kehidupan Masyarakat Asli Muarajambi

Tak hanya bercerita tentang warisan budaya masa lampau, film ini juga memperlihatkan bagaimana situs Muarajambi dihidupi oleh bermacam-macam masyarakat dari waktu ke waktu. Alih-alih situs budaya yang statis, Muarajambi merupakan ruang yang sangat hidup, sejak kejayaan kerajaan Sriwijaya, hingga situasi situs Muarajambi terkini yang jadi ruang hidup masyarakat adat Islam asli Jambi dan segala tradisinya.

Nia Dinata juga memilih para aktor yang akan tampil dalam filmnya yaitu merupakan penduduk asli masyarakat desa Muaro Jambi. Beberapa aktor ini memerankan karakternya dengan nama asli mereka sendiri, seperti Ahock (Abdul Hafiz), Borju (Mukhtarhadi) seorang guru sekolah alam, Kasmawati dan Aina, seorang supir becak motor perempuan di kawasan Candi Muaro Jambi.

Terinspirasi dari buku karya Elizabeth Inandiak 

Film “Unearthing Muarajambi Temples” terinspirasi dari buku “Mimpi-Mimpi dari Pulau Emas” karya  Elisabeth Inandiak, penulis yang telah lebih dari empat belas tahun menekuni dan berbaur dengan masyarakat Muarajambi, Buku ini menceritakan tentang peradaban Muaro Jambi yang merupakan situs arkeologi terluas di Indonesia dan ditulis dalam 5 bahasa (Indonesia, Inggris, Prancis, Mandarin, Sansekerta). 

Didukung penuh oleh Kementrian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi Republik Indonesia (Kemendikbukristek)

Film dokumenter ini merupakan hasil produksi Kalyana Shira Foundation yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) Republik Indonesia. Riset dan penggarapan film dokumenter ini berlangsung selama tahun 2022. Proses pengambilan gambar dan riset berlangsung di dua negara yakni Indonesia dan India, termasuk di Provinsi Bihar tempat situs Nalanda berdiri serta di Provinsi Himachal Pradesh, kota Dharamsala, tempat pengungsian Dalai Lama ke 14 sejak tahun 1959.

Pengambilan gambari di India ini sesuai dengan kisah sejarah yang amat erat kaitannya dengan  Mahavihara Nalanda, pusat pembelajaran Buddha di Bihar, India. Muarajambi sebagai pusat pengetahuan Buddhisme, melahirkan pemikir-pemikir Buddhist yang akhirnya menciptakan Candi Borobudur di Pulau Jawa, candi yang berbentuk mandala terbesar di dunia.

 

CARRA NETHANIA
Foto: Kalyana Shira Films

 


Topic

Art & Culture

Author

DEWI INDONESIA