
Menyambut Ramadan dan Idul Fitri 2026, Scarf Media berkolaborasi dengan Sarinah Jakarta menghadirkan sebuah konsep ritel baru. “Modest Luxe”, pop-up store ini, hadir di lantai 2 Sarinah, menjadi ruang pamer ragam koleksi modest wear lebih dari 25 jenama lokal tanah air yang berlangsung mulai 18 Februari hingga 31 Maret 2026 ini.
Dari Misi Dagang ke Ruang Fisik
Bagi Temi Sumarlin, Founder Scarf Media, “Modest Luxe” bermula dari percakapan, bukan dari ambisi membuka toko. “Sebetulnya ketika merilis ide “Modest Luxe” ini tidak terpikir akan jadi pop-up concept store di mall,” ujarnya.
Sebagai media partner di berbagai Modest Fashion Week internasional, Scarf Media selama ini membawa misi dagang, yakni membuka jalan bagi jenama modest wear Indonesia ke panggung global. Misi tersebut kemudian dibagikan kepada tim Sarinah dalam sebuah diskusi yang ternyata menemukan irisan visi.
“Saya sampaikan ke Sarinah, kami selalu punya misi dagang ke berbagai negara. Lalu kenapa tidak kita coba dulu satu tempat yang bisa jadi rumah untuk teman-teman modest dan Muslim fashion di sini?” lanjut Temi. Dari sana, gagasan tentang “rumah” itu menemukan bentuk nyatanya.
Kurasi yang Terus Bertumbuh
Saat ini, “Modest Luxe” menghadirkan lebih dari 25 jenama, dan jumlahnya masih terbuka untuk bertambah. “Artinya tidak menutup kemungkinan untuk terus bertambah, karena kurasinya tetap berjalan,” jelas Temi.
Di lorong awal, koleksi dari Ria Miranda menyambut pengunjung. Berderet setelahnya, Heart Troops dan By Ayudia Andari menawarkan karakter print yang kontras satu sama lain; menunjukkan bahwa dalam satu spektrum modest wear pun, identitas bisa sangat beragam.
Taza, jenama busana syar’i yang menggunakan material ramah lingkungan, memperkuat dimensi keberlanjutan dalam kurasi ini. “Walaupun mereka berderet di satu area, karakternya tetap berbeda,” ujar Temi, menekankan bahwa keberagaman adalah kekuatan utama “Modest Luxe”.
Sejalan dengan Transformasi Sarinah
Di sisi lain, Sarinah melihat kolaborasi ini sebagai bagian dari transformasi yang tengah dijalankan. Elsa Laela Dewi, Marketing, Promotion, and Event Group Head Sarinah, menilai kurasi Modes Luxe memiliki fondasi yang kuat.
“‘Modest Luxe’ ini memiliki kurasi yang cukup bagus. Positioning-nya jelas, kualitasnya juga jelas, sehingga sangat sejalan dengan transformasi Sarinah Indonesia sebagai pusat budaya dan creative commerce,” ujarnya.
Bagi Elsa, modest fashion bukan sekadar tren musiman yang datang dan pergi. “Kami melihat modest fashion ini bukan hanya tren musiman, tapi sebagai bagian dari kekuatan industri kreatif Indonesia yang memiliki potensi global,” tambahnya.
Karena itu, sebelum melangkah ke pasar internasional, Sarinah menjadi ruang uji sekaligus ruang kolaborasi. “Rencananya memang untuk pasar global, tapi kita coba dulu pertama di Sarinah sebagai ruang kolaborasi dan juga Cultural Experience Center,” jelas Elsa.
Ekosistem Gaya Hidup
Tak hanya fashion, Modes Luxe juga merangkul kategori lifestyle. NASL, Nagita Slavina, Amapola by Paula Verhoeven, Yizuda, MYMD, hingga Jinal Kaya memperkaya pilihan ready-to-wear. Untuk hijab, Parte bahkan sudah menjadi best-seller sebelum grand opening resmi berlangsung.
Sentuhan akhir hadir melalui Good Vibes dengan diffuser dan parfum, VAIA untuk sepatu dan tas, serta Your Hands lewat aksesori, membentuk ekosistem gaya hidup di area belanja ini. Secara umum, “Modest Luxe” menghadirkan koleksi inklusif, beragam pilihan bagi perempuan berhijab maupun non-hijab dengan desain busana ready-to-wear untuk setiap perempuan dengan preferensi gayanya masing-masing.