SAPTO DJOJOKARTIKO: Warisan yang Berlapis, Maskulinitas yang Tenang

Apa arti maskulinitas ketika ia tak perlu meninggikan suara.
Ketika kehadiran justru lahir dari ketenangan.
Ketika tradisi tidak dikenakan sebagai simbol, melainkan dirasakan sebagai napas.

Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuka bab baru #SAPTOJOHeritage dari SAPTO DJOJOKARTIKO, diluncurkan di Jakarta pada 5 Januari 2026.

Melalui kapsul menswear edisi terbatas ini, Maison memperluas narasi warisannya ke dalam ranah busana pria dengan bahasa yang tetap setia pada esensinya. Tidak ada gestur berlebihan, tidak ada upaya untuk mendominasi ruang. Yang hadir adalah keseimbangan antara struktur dan kelembutan, antara kejelasan bentuk dan kebebasan bergerak. Sebuah refleksi tentang pria modern yang berpijak pada tradisi, namun hidup sepenuhnya di masa kini.

Advertisement

Sapto Djojokartiko merumuskan koleksi ini melalui permainan layering yang terasa intuitif. Jaket berstruktur jatuh dengan drape yang lunak, celana berpotongan lebar bergerak mengikuti ritme tubuh, sementara kemeja menyatukan kerah tegas dengan bordir tonal yang nyaris tak terdengar. Siluet-siluet ini terasa arsitektural namun membumi, dirancang untuk beradaptasi dari satu ruang ke ruang lain tanpa kehilangan karakter.

Bordir khas SAPTO DJOJOKARTIKO menjadi bahasa visual yang menyatukan keseluruhan koleksi. Motif Yayi Turanga dan Yayi Block hadir pada organza dan tulle yang ringan, membangun dialog antara transparansi dan kedalaman. Noni hand stitches pada katun halus menyisakan jejak tangan manusia, sebuah pengingat bahwa kemewahan sejati tumbuh dari ketekunan dan waktu. Outer bernuansa Cashmere dengan quilting Rikmadara memperkaya tekstur, dipertemukan dengan lapisan Nero yang memberi bobot dan kontras.

Palet warna bergerak dalam spektrum yang terukur. Oyster, Pampas, dan Papyrus membentuk fondasi yang terang dan lapang, sementara Lava, Slate, Cashmere, dan Nero mengikatnya dengan stabilitas yang dewasa. Di penutup narasi, kain tenun tradisional diolah menjadi outer berstruktur berwarna Clay, menjembatani masa lalu dan kini tanpa perlu menjelaskan dirinya sendiri

Pada akhirnya, koleksi ini bukan tentang apa yang terlihat, melainkan apa yang menetap. Seperti bayangan pohon tua di siang hari: tak pernah meminta perhatian, namun selalu memberi teduh.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Kedubes Prancis Memprakarsai Klub Galette des Rois Perdana di Indonesia, Berikut Daftar Lengkap Chef yang Bergabung

Next Post

Obsessive Artist: Seni Ambisi dalam Film

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.