
Menjelang Ramadan 1447 H RAYA Tobatenun menghadirkan presentasi wastra yang reflektif dan progresif.Acara ini digelar di Sopo Del Tower dengan suasana hangat dan inspiratif. Melalui kolaborasi desainer dan perajin, RAYA Tobatenun merayakan warisan tenun Nusantara yang relevan dan berkelanjutan.

Para perancang menghadirkan tafsir estetika yang beragam namun selaras: Itang Yunasz menampilkan busana muslim elegan dan adaptif dengan struktur tegas, sementara Felicia Budi melalui fbudi mengeksplorasi tenun jungkit dalam pendekatan konseptual yang modern.
Glashka karya Ega Augustia dan Sarah Sofyan menghadirkan nuansa puitis lewat perpaduan bordir Tasikmalaya dan tenun Sumatera Utara, sementara AMOTSYAMSURIMUDA melalui “MULAK” mengangkat tema pulang sebagai refleksi personal dan spiritual.

Sorotan presentasi ini adalah Abit Godang atau Abit Sadum Angkola dari Tapanuli Selatan. Ditenun dengan teknik pakan tambah jungkit serta hiasan marsimata dan sulam bonggit lilit, kain ini menampilkan pola geometris yang simbolis dan filosofis. Berbeda dari Ulos Sadum Toba yang figuratif, Abit Godang menegaskan identitas nonfiguratif khas budaya Batak Muslim Angkola dan Mandailing.

Sejak berdiri pada 2018, Tobatenun konsisten membangun ekosistem kolaboratif yang inklusif dan berkelanjutan bersama para perajin. Wastra pun dipandang bukan lagi artefak statis, melainkan ekspresi budaya yang hidup, relevan, dan terus berkembang. Melalui RAYA, Tobatenun menegaskan tradisi sebagai energi kreatif yang adaptif dan transformatif.