Asmara Abigail Tentang Balada Manusia di Tengah Pandemi
Asmara Abgail menceritakan pengalamannya terjebak di tengah pandemi di negeri orang serta perenungannya akan kemanusiaan.
11 Jun 2020



Italia telah membuka status lockdown tepat saat Dewi berbincang dengan Asmara Abigail melalui panggilan video. Asmara memang berada di Italia sejak tanggal 19 Febuari 2020. Harusnya ia pulang ke Indonesia pada 25 Maret 2020 lalu. Namun, wabah COVID-19 memaksanya untuk tinggal di Milan lebih lama. Dicabutnya status lockdown memungkinkan masyarakat untuk keluar rumah dengan tetap menggunakan masker. Penyesuaian dilakukan bertahap. Sekarang, perusahaan menerapkan sistem kerja sebulan dua kali kehadiran dan bergantian. Sedangkan restoran dan bar bisa buka mulai bulan Juni. “Respons saya biasa saja. Justru, saya takut akan muncul gelombang kedua setelah ini. Mengingat juga belum ada vaksin. Belum lagi kenyataan bahwa Italia belum sepenuhnya bersih. Setiap hari kasus baru tetap bertambah meskipun tidak separah yang lalu,” katanya.

Batas maksimal waktu kunjungan selama 90 hari sudah habis. Ia belum bisa pulang karena situasi belum kondusif dan sulitnya mendapat tiket pesawat baru. Birokrasi untuk mengurus pengembalian dana atau mengatur ulang jadwal terbang melalui maskapai dan agen perjalanan cukup membuatnya sebal. “Maskapai yang saya gunakan tidak terbang hingga bulan Juni. Jikapun saya terpaksa segera pulang sekarang karena masa tinggal sudah habis. Saya harus mengambil maskapai lain dari Roma yang memakan waktu perjalanan selama empat hari untuk sampai ke Jakarta,” katanya. Bagaimana tidak, dari Milan, ia harus terbang ke Roma. Kemudian menempuh rute Roma - Frankfrut - Doha - Jakarta.

Selama kurang lebih dua bulan dalam di rumah saja. Ia sudah mengalami beberapa tahapan emosi. “Mula-mula saya masih santai. Toh, pemerintah Italia sudah menanganinya. Tapi, nyatanya makin parah. Saya panik. Semua acara batal, pekerjaan berantakan, urusan birokrasi asuransi, tiket, dan visa sangat melelahkan. Segalanya menumpuk dan membuat saya sangat stres. Saya tidak bisa tidur. Lalu sering marah-marah,” kisahnya. Kekacauan tersebut membuatnya terasa terbentur tembok. Hingga akhirnya, ia pasrah dan menerima. Ia juga mencoba terbiasa terhadap kehidupan baru seperti sekarang.

 


Baginya,  di masa seperti ini, tinggal di Italia lebih menguntungkan. Ia merasa mendapatkan pengalaman menghadapi wabah dari sudut pandang berbeda. Terutama dalam menyaksikan dan merasakan langsung keputusan-keputusan pemerintahnya yang juga mengarah pada drama politik. Melihat tayangan berita di Italia cukup menyenangkan dan mencerahkan. Informasi yang diberikan seragam di stasiun televisi manapun. Pemerintah dan media sangat transparan. Pemberitaan juga tidak hanya berfokus pada lokasi tertentu tapi nyaris ke seluruh penjuru dunia. Sehingga ia menjadi lebih paham akan situasi. “Senang punya pengalaman seperti ini di sini. Saya melihat peraturan pemerintah bisa menyelamatkan warga. Pemerintah Italia sempat merasa bersalah dan minta maaf karena tidak mengambil langkah cepat untuk lockdown yang mengakibatkan ledakan jumlah penderita,” ungkap pecinta olahraga berkuda ini.

Peristiwa ini menuntunnya pada sebuah evaluasi besar. “Mungkin generasi kita sudah terlalu merasa nyaman dengan segala kemudahan yang ada. Barangkali pula, ini adalah roda kehidupan yang harus kita lalui supaya lebih kuat dan tahan mental,” katanya. Menurut Asmara, generasi sekarang belum pernah berada dalam situasi genting dimana kita dihadapkan oleh hidup dan mati. Kualitas manusia bisa dilihat dari bagaimana menghadapi masalah. “Coba lihat Amerika Serikat yang dalam keadaan di mana orang harusnya tinggal di rumah untuk keselamatannya dirinya sendiri, namun beberapa manusia yang lain justru turun ke jalan menyuarakan anti-lockdown,” ia mengambil contoh.

 


“Kita itu aneh,” kata Asmara yang nyaris kehilangan kata untuk melanjutkan kalimat. “Terkadang saya merasa manusia adalah penyakit yang sebenarnya. Saya tidak tahu ada apa di balik semua ini. Apakah konspirasi atau lainnya. Tapi yang merugi adalah rakyat sipil,” ujarnya. Ia meyakini, manusia punya peran atas kekacauan yang terjadi pada kehidupan maupun alam. “Misalnya saja kerusakan ekosistem,” ia melanjutkan. Jumlah manusia yang sangat banyak membutuhkan asupan untuk hidup. Manusia mengambil dari alam mulai dari udara, bahan makanan, dan energi. Akan tetapi enggan menjaga apalagi mengembalikan. “Manusia merasa posisinya di atas dalam sebuah paramida. Padahal, kita adalah bagian dari lingkaran kehidupan yang harus menghargai makhluk lain. Kita ada dalam ekosistem,” ia menambahkan.

Manusia diberkahi akal dan hati. Maka, manusia selalu punya keinginan untuk maju dan terus menciptakan sesuatu yang baru. Kalau globalisasi yang berjalan tidak sejalan dengan menjaga ekosistem. Bukan tidak mungkin wabah ini hanya sebagai pintu gerbang menuju kasus-kasus besar lainnya. Sebagian manusia bukan evaluasi dan mencari solusi tapi saling menyalahkan dan mementingkan ego pribadi. “Tapi emang itu sifat kita. Kadang, saya malu jadi manusia. Kita sangat buruk. Globalisasi yang bergerak sangat cepat seperti tidak menyediakan waktu untuk manusia berpikir dan menyesuaikan. Sehingga seringkali kita tergilas arus tanpa benar-benar memahami apa yang sebenarnya terjadi,” begitu ujar Asmara.

Teks: Wahyu Septiyani
Foto: Hilarius Jason
Pengarah Gaya: Erin Metasari  
Busana: Toton
Aksesori: Mahija


 

 


Topic

Cover Story

Author

DEWI INDONESIA