
Di tengah ruang pamer “Biophilia” di ISA Art Jakarta, karya-karya tentang bumi, luka, dan harapan saling berdialog. Di antara suara-suara itu, hadir satu praktik yang lahir bukan dari jarak, melainkan dari pertemanan, solidaritas, dan keterlibatan langsung: karya Fitri DK.
Fitriani Dwi Kurniasih, atau yang lebih dikenal sebagai Fitri DK, adalah pekerja seni dan seniman visual asal Yogyakarta. Dalam praktiknya, ia banyak menggunakan teknik seni grafis, khususnya hardboardcut print, yang dikenal kuat dan tegas secara visual. Meski demikian, ia tidak membatasi diri pada satu medium. Batik, tenun, hingga pensil warna menjadi bagian dari eksplorasinya untuk membuka dialog tentang persoalan sosial dan lingkungan, termasuk pada karya yang hadir dalam pameran kelompok di ISA Art ini.
Batik sebagai Ingatan Perempuan
Karya-karya Fitri DK tumbuh dari perjuangan warga Pegunungan Kendeng yang menolak tambang semen. Di sana, ia belajar tentang konsep Nyawiji Ibu Bumi, yakni sebuah cara pandang yang melihat kehidupan manusia, tanah, dan tanggung jawab moral sebagai satu kesatuan. Tidak terpisah.
Dalam pameran “Biophilia”, Fitri menghadirkan dua karya batik. Pilihan medium ini bukan kebetulan. Banyak perempuan Kendeng adalah pembatik.
“Selama ini batik hanya dipakai sebagai pakaian. Menurutku fungsinya bisa melampaui itu,” ujarnya.
Salah satu karya berbentuk seperti tenda. Katanya, ia terinspirasi dari tenda perjuangan yang didirikan warga di dekat lokasi pabrik. Di tenda-tenda itulah, para ibu meninggalkan rumah mereka demi menjaga tanah.
“Ibu-ibu itu rela tinggal di tenda dekat tapak pabrik,” katanya lagi.
Kain yang biasanya melekat di tubuh pun kini membawa cerita tentang tanah yang dipertahankan. Dengan menerjemahkan tenda ke dalam batik, Fitri mengubah kain menjadi simbol tempat berlindung. Ia menyimpan ingatan tentang tubuh-tubuh yang menunggu, bernegosiasi, dan menolak dipindahkan.
Mantra Ibu Bumi: Doa dan Peringatan
Banyak pemikir seperti Vandana Shiva dan Carolyn Merchant menjelaskan bahwa sistem ekonomi ekstraktif sering “memperempuankan” bumi. Gagasan ini menggambarkan bumi sebagai sosok yang selalu memberi dan diam, agar eksploitasi terlihat wajar.
Namun karya Fitri menolak logika itu. Ibu Bumi memang memberi, tetapi ia juga bisa menahan. Ia tidak selalu pasrah.
Dalam konteks Kendeng, hubungan timbal balik ini menjadi dasar perjuangan. Tanah bukan hanya tempat bercocok tanam, tetapi saksi atas kerusakan. Jika tanah dilukai terus-menerus, maka banjir, longsor, dan kekeringan bukanlah kejadian acak; melainkan akibat dari luka yang dibiarkan.
Melalui karya seperti Mantra Ibu Bumi, Fitri menerjemahkan semangat perlawanan itu ke dalam bahasa visual. Terinspirasi dari lagu-lagu yang dinyanyikan saat demonstrasi di Rembang dan Pati, karya ini menjadi doa sekaligus peringatan. Mantra di sini bukan sekadar simbol, tetapi pengingat bahwa pembangunan yang merusak adalah bentuk pengingkaran tanggung jawab.
Merawat Ingatan Perjuangan
Bagi Fitri, setiap karya bukan hanya soal bentuk, tetapi tentang bagaimana pesan di dalamnya bisa terus hidup dan menjangkau publik yang lebih luas. Karena itu, ia mempertimbangkan dengan hati-hati ke mana karyanya akan berlabuh.
“Aku berharap pesannya bisa terus disebarkan,” ujarnya. Ia merasa ruang seperti museum memberi kemungkinan itu, bahwa karya dapat dipamerkan kembali, dipinjam, dan menjadi bagian dari arsip yang terus diakses banyak orang.
Ia mengakui ada kekhawatiran jika karya tertentu hanya berada di ruang yang sangat terbatas. “Aku hanya ingin memastikan cerita dan persoalan yang kubawa tidak berhenti di satu tempat saja,” katanya pelan.
Untuk karya cukil kayu, situasinya berbeda. Karena tekniknya memungkinkan penggandaan, karya-karya tersebut bisa beredar lebih fleksibel. Namun untuk instalasi batik yang hanya satu itu, Fitri masih merasa perlu membawanya ke berbagai ruang dengan ragam pemirsanya.
“Yang batik ini cuma satu. Aku masih ingin membawanya ke mana-mana,” tuturnya.
Bagi Fitri, karya itu seperti pesan berjalan. Ia bergerak dari satu ruang ke ruang lain, bertemu publik yang berbeda, dan terus menyuarakan cerita tentang tanah, para perempuan, serta perlawanannya.