
Malam penghargaan EE British Academy of Film and Television Arts (BAFTA) di Royal Festival Hall, London, terasa seperti perpanjangan musim kemenangan bagi Jessie Buckley. Dua hari setelah membawa pulang penghargaan serupa dari Irish Film and Television Academy di Dublin, aktris Irlandia itu kembali mencatat sejarah: ia menjadi perempuan Irlandia pertama yang memenangkan kategori Aktris Terbaik di BAFTA
Jessie Buckley: Aktris Terbaik di BAFTA
Kemenangannya atas peran Agnes Shakespeare dalam Hamnet (2025)—film arahan Chloé Zhao—menegaskan langkah mantapnya menuju Oscar. Namun yang membuat momen ini begitu menyentuh bukan hanya prestasinya, melainkan cara ia memaknai panggung itu.
“Ini benar-benar gila,” ujarnya sambil tersenyum, mengenakan gaun biru yang membuatnya tampak bersinar, setelah menerima penghargaan dari sesama aktor Irlandia, Cillian Murphy.
Ia lalu menambahkan bahwa penghargaan itu bukan hanya miliknya. “Penghargaan ini saya persembahkan untuk para perempuan—yang telah ada sebelum saya, yang hidup hari ini, dan yang akan datang nanti—yang mengajarkan saya, dan terus mengajarkan saya, bagaimana melakukan semuanya dengan cara yang berbeda.”
Dengan suara yang lebih lembut, ia berbagi tentang putrinya. “Saya juga berbagi momen ini dengan anak perempuan saya, yang sudah ikut bersama saya sejak usianya enam minggu dalam perjalanan ini. Peran terbaik dalam hidup saya adalah menjadi ibumu,” katanya. “Dan saya berjanji akan terus menjadi perempuan yang ‘tidak patuh’, supaya kamu bisa tumbuh di dunia yang memberi ruang bagi seluruh keberanian dan keliaranmu sebagai perempuan muda.”
Kemenangan ini menandai sejarah baru. Untuk pertama kalinya, seorang aktris Irlandia memenangkan kategori Aktris Terbaik di ajang tersebut. Ia membawa pulang salah satu penghargaan paling bergengsi malam itu, sekaligus melanjutkan langkah kuatnya menuju Oscar.
Robert Aramayo: Aktor Terbaik dan Rising Star BAFTA

Jika kemenangan Buckley telah diprediksi, maka kategori Aktor Terbaik menghadirkan kejutan besar. Aktor muda asal Yorkshire ini, bintang film drama I Swear karya sutradara Kirk Jones, berhasil mengalahkan nama-nama besar seperti Timothée Chalamet dan Leonardo DiCaprio untuk membawa pulang penghargaan Aktor Terbaik di BAFTA tahun ini.
Dalam film tersebut, Aramayo memerankan John Davidson, seorang aktivis asal Skotlandia yang berani memperjuangkan kesadaran tentang sindrom Tourette. I Swear sukses besar di Inggris dan Irlandia, meski tidak terlalu menonjol dalam musim penghargaan internasional.
Saat namanya diumumkan, Aramayo tampak benar-benar terkejut. Dengan mata berkaca-kaca saat menerima trofi, ia berkata kepada para hadirin, “Saya sungguh tidak percaya ini.”
Tak hanya itu, sebelumnya pada malam yang sama, ia juga memenangkan penghargaan Rising Star BAFTA, yang diberikan kepada aktor dan aktris pendatang baru yang dinilai paling menjanjikan. Kemenangan ganda ini mencatat sejarah baru: untuk pertama kalinya, seorang aktor atau aktris memenangkan kategori Aktor Terbaik sekaligus Rising Star dalam tahun yang sama.
***
Kemenangan Jessie Buckley dan Robert Aramayo menghadirkan dua wajah sinema yang sama-sama kuat: empati yang lembut dan keberanian yang lantang. Dari kisah perempuan yang berduka hingga potret perjuangan kemanusiaan, malam itu mengingatkan bahwa film bukan hanya tentang prestasi, melainkan tentang cerita-cerita yang membuat kita merasa lebih terhubung; dengan sejarah, dengan sesama, dan dengan diri kita sendiri.