Kata Hannah, Tara, Marissa, dan Asmara tentang Berita Bohong dan Persatuan Indonesia
Hannah Al Rashid, Tara Basro, Asmara Abigail, dan Marissa Anita berbagi pandangan mereka tentang maraknya berita bohong.

Marissa Anita, Hannah Al Rashid, dan Tara Basro.


Kemampuan untuk mendeteksi berita bohong jadi kekuatan super yang diidamkan Hannah. Menurutnya ini hal yang sangat relevan sekarang ketika berita bohong yang kian masif beredar di masyarakat. Terutama di waktu-waktu genting seperti masa pergantian pemerintahan. Begitu mudah perpecahan disulut oleh isu-isu yang beredar.
 
“Kita mudah diadu domba,” Tara menambahkan. Namun, Marissa masih menyuarakan optimisme. Meski di satu sisi, mudah sekali rasanya untuk menyulut perpecahan di Indonesia. Nyatanya, hingga kini orang Indonesia masih mau bersatu. Bagaimanapun caranya memecah bangsa ini, sampai sekarang, terbukti sulit dilakukan.
 
Mereka semua pun setuju keberagaman adalah kekuatan Indonesia. “Meski suku, tampilan, atau agama sama, setiap manusia pasti berbeda. Tidak ada manusia yang sama. Masing-masing dari kita saling melengkapi dan membuat dunia ini indah karena adanya perbedaan,” begitu kata Asmara. Beberapa cara untuk merangkul perbedaan antara lain dengan bergotong-royong dan membuka kembali dialog antaragama. Mungkin terdengar klise, tapi benar adanya. 
 
Salah satu masalah yang juga bisa menjadi biang perpecahan ialah, kurangnya komunikasi memang kerap kali menjadi sumber konflik. Apalagi jika kita bicara tentang hal yang sensitif dalam tataran bermasyarakat, seperti agama dan suku. Belum apa-apa, sudah terbakar emosi. Padahal mungkin bukan apa-apa.
 
“Kita butuh sekali orang-orang yang mampu berpikir kritis tapi belum banyak manusia Indonesia yang bisa begitu,” kata Marissa. Menurut Marissa, sistem pendidikan Indonesia adalah salah satu biang keladinya. “Saat saya sekolah, murid yang bertanya ke guru dianggap sebagai sesuatu yang ofensif,” lanjutnya.
 
Tentu tidak semua guru begitu. Tetapi karena kebanyakan seperti itu, kebanyakan murid di Indonesia seperti ‘disuapi’ terus. Hannah setuju. Kebanyakan ilmu di Indonesia disebarkan secara oral saja, namun jarang didukung dengan riset lebih lanjut dari penerima ilmu tersebut. Padahal setiap orang, dengan latar belakangnya masing-masing, pasti memiliki penafsiran tersendiri atas sesuatu yang kemudian membentuk opininya.
 
(Teks: Nofi Triana Firman, Auli Hadi, Wahyu Septiyani/Foto: Ig Raditya Bramantya)
 
 
 

 


Topic

Profile



JOIN OUR COMMUNITY