RAN: Tiga yang Sempurna
13 tahun berkarya bersama, grup musik pop ini menunjukkan karakter individu di balik harmoni musik dan gaya mereka.


Trio pop asal Jakarta, RAN hendak menampilkan ciri khas masing-masing individu lewat gaya dan musik setelah 13 tahun berkarya bersa,a.

Tiga yang sempurna bisa jadi perumpamaan yang tepat menggambarkan harmoni dalam RAN. Rayi, Asta, dan Nino masing-masing menjadi elemen yang saling mengisi dan melengkapi membentuk DNA musik unit pop tersebut. Tiga belas tahun setelah single pertama mereka, Pandangan Pertama, menarik perhatian belantika musik Tanah Air, ketiganya hendak menunjukkan warna musik masing-masing yang selama ini saling berkelindan membentuk musik RAN yang publik kenal.

Lahirlah Omne Trium Perfectum, proyek terbaru dari trio musisi asal Jakarta ini. “Ini bukan album. Kami mau mengeluarkan serangkaian lagu yang masing-masing mewakili idealisme bermusik kami,” jelas Rayi. Nino menganalogikannya dengan tim pahlawan super ikonis dari Marvel, Avengers. Jika RAN adalah Avengers yang berisi sekumpulan pahlawan super, maka Omne Trium Perfectum layaknya stand-alone film yang menceritakan karakter masing-masing anggotanya.

Rayi membuka proyek tersebut dengan merilis Ain’t Gonna Give Up berkolaborasi dengan rapper Ramengvrl di gelaran Soundrenaline 2019, September lalu. “Oktober nanti ada proyeknya Asta, dan Desember ada proyeknya Nino. Jadi tahun ini kami akan mengeluarkan tiga lagu dalam waktu berdekatan,” lanjut Rayi.

Tak hanya dalam bermusik, selera mereka dalam berpakaian pun berbeda satu sama lain. Ada Rayi yang menyatakan gaya pribadinya bold and brave, ada pula Asta yang lebih menyukai pakaian-pakaian kasual untuk kesehariannya. Pakaian yang adem, sneakers, dan denim jadi andalan sang gitaris. Sementara Nino yang mengaku tak memiliki fashion sense menyatakan prinsipnya dalam memilih pakaian sehari-hari adalah yang penting nyaman. “Kalau saya membeli baju, gaya masuk jadi pertimbangan, tapi bukan karena saya pikir ini gaya banget dan bisa buat tampil,” jelas Nino.

Gaya pribadi ketiga personel unit pop ini memang kontras dengan penampilan mereka di panggung yang kerap cerah ceria dan penuh warna. Di panggung, mereka tampil untuk memanifestasikan semangat lagu-lagu mereka yang Rayi sebut young at heart. Tentu hal itu tak terbentuk dengan instan, butuh waktu bagi ketiga personel untuk menyesuaikan diri, terutama Asta dan Nino yang tidak neko-neko dalam memilih pakaian.

Asta misalnya. Pada awalnya ia sering tampil hanya dengan kaus dan celana jeans, terinspirasi dari salah satu musisi idolanya, John Mayer. “Saya melihat Pharrel (Williams) yang berani banget. Itu sangat bertabrakan dengan gaya saya. Akhirnya saya jadi berani juga ketika tampil di panggung, mencoba warna-warna shocking,” jelas Asta.

Hal itu diamini pula oleh Nino yang secara pribadi sebenarnya condong memilih warna-warna hitam dan monokrom dalam berpakaian. “Sama seperti Asta, seiring dengan berjalannya RAN, saya jadi belajar. Bukan untuk terus mengubah gaya, tapi untuk tidak apa-apa tampil dengan pakaian warna-warni kadang-kadang,” ungkap Nino.  

Keterbukaan ketiganya terhadap pilihan gaya di panggung itu memberikan ruang bagi para pengarah gaya dalam memilihkan pakaian. Dari situlah mereka berkenalan dengan pakaian-pakaian hasil kreasi berbagai brand dan desainer lokal. “Sering juga kami mengenakan baju dari desainer yang masih sekolah. Kami sadar, kami bisa menjadi manekin buat mereka. Kami pikir kita bisa saling support, kami butuh fashion sense mereka dan industri fashion juga butuh etalase dan manekin untuk karya mereka,” jelas Rayi.

Dari hasil coba-coba penampilan di panggung itulah kecintaan mereka terhadap brand dan desainer lokal tumbuh. Beberapa nama desainer menjadi favorit mereka. Nino misalnya menyukai pakaian-pakaian dari Amotsyamsurimuda dan Populo, “Itu juga nyaman banget dipakainya.” Sementara Asta menyukai hasil kreasi Danjyo Hiyoji, dan Rayi menyukai desain-desain dari Hattaco.

Tiga yang sempurna, begitulah ketiga pribadi dalam RAN saling berkelindan selama belasan tahun berkarya bersama. Saling meleburkan diri sekaligus menarik batas supaya masing-masing tetap mengakar pada karakter individunya. Sebab keunikan tiap-tiap di antara merekalah yang menjadikan RAN sebagai satu rumah yang utuh, bagi karya mereka pun bagi pendengarnya.
 
TEKS: SHULIYA RATANAVARA
PENGARAH GAYA: DINDA PRAMESTI
FOTO: IKMAL AWFAR
GROOMING: INEZ FABIOLA

 


Topic

Profile

Author

DEWI INDONESIA