
Di titik tertentu dalam hidup, berlari bukan lagi tentang kecepatan semata. Ia menjadi cara untuk hadir: menyelaraskan napas, tubuh, dan ruang yang kita pijak. Dari semangat inilah POCARI SWEAT Run tahun ini, yang memasuki perjalanannya yang ke-13, akan hadir sebagai pengalaman sport tourism yang menghubungkan gerak raga manusia dengan keindahan destinasi.
Pada gelaran tahun ini, POCARI SWEAT Run akan digelar di dua lokasi dengan karakter yang berbeda namun sama-sama berjiwa kuat: Lombok, Nusa Tenggara Barat, dan Bandung, Jawa Barat. Dua kota, dua ritme, satu benang merah, yakni berlari sebagai bentuk perayaan hidup yang aktif dan sadar.
Lombok: Lari di Antara Matahari Terbit dan Terbenam
Rangkaian ini akan dibuka dengan POCARI SWEAT Run Lombok 2026 pada 11–12 Juli, bertempat di Pertamina Mandalika International Circuit. Sebuah lokasi ikonis yang biasanya menjadi arena adu kecepatan mesin, kini berubah menjadi lintasan bagi langkah-langkah manusia yang ingin menguji diri dwngan penuh determinasi.
Empat pilihan jarak ditawarkan: 4.3K (satu putaran sirkuit), 10K, Half-Marathon, hingga Marathon. Keunikan Lombok terletak pada pengalaman berlari saat matahari terbit dan terbenam, ketika cahaya perlahan menyentuh aspal sirkuit dan angin laut membawa ketenangan tersendiri. Cuaca bulan Juli yang relatif sejuk pun memberi ruang bagi pelari untuk lebih menyatu dengan ritme tubuh.
Sepanjang lintasan, pelari akan disambut oleh keramahan warga lokal serta sentuhan budaya Sasak yang terasa dari dekorasi hingga lanskap alam di sekeliling. Di sini, berlari menjadi dialog yang riil antara tubuh dan alam.
Bandung: Menyusuri Kota dengan Langkah Sadar
Perjalanan ini akan mencapai puncaknya lewat POCARI SWEAT Run Bandung 2026 pada 19–20 September, dengan fokus pada kategori 10K dan Half-Marathon. Start dan finish yang berlokasi di Kota Bandung ini akan mengajak pelari menikmati denyut kota yang kreatif, hangat, dan berkarakter.
Rute dirancang melewati titik-titik ikonis dan kawasan yang merepresentasikan sisi lain Bandung. Bukan sekadar kota tujuan, tetapi ruang hidup yang terus bergerak. Dukungan masyarakat dan komunitas lokal di sepanjang jalur menambah energi kolektif, terlebih dengan momentum penyelenggaraan yang bertepatan dengan Hari Jadi Kota Bandung.
Sport Tourism sebagai Gerak yang Berkelanjutan
Menurut Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Puspa, kolaborasi antara sektor swasta dan destinasi unggulan seperti Lombok dan Bandung merupakan contoh nyata pengembangan sport tourism yang berkelanjutan.
“Kolaborasi melalui POCARI SWEAT Run ini menjadi magnet bagi pelari domestik dan internasional, sekaligus mendorong dampak ekonomi bagi masyarakat lokal,” ujarnya.
Pandangan ini sejalan dengan penjelasan Maya Watono, Direktur Utama InJourney, Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata. Ia menekankan bahwa event olahraga berskala besar berperan sebagai katalis penggerak destinasi.
“Kehadiran event seperti POCARI SWEAT Run Lombok menciptakan multiplier effect nyata: dari peningkatan kunjungan wisatawan, okupansi hotel, hingga pergerakan ekonomi lokal. Mandalika pun semakin mengukuhkan posisinya sebagai destinasi sportainment unggulan Indonesia.”
Berlari sebagai Cara Merawat Diri dan Destinasi
POCARI SWEAT Run 2026 menghadirkan pengalaman yang mengajak kita bergerak dengan kesadaran. Lewat kompetisi lari ini, kita diundang untuk menghormati tubuh, merayakan ruang, dan menyapa budaya setempat dengan penuh hormat. Sebuah pengingat bahwa olahraga, ketika dirancang dengan nilai dan tujuan, dapat menjadi jembatan antara kesehatan personal dan keberlanjutan destinasi.
Pendaftaran POCARI SWEAT Run 2026 akan dibuka serentak pada waktu ini:
- Lombok: 26 Januari
- Bandung: 2 Februari
Informasi lebih lanjut dapat diakses melalui akun Instagram @pocarisportid.