Mendalami Makna Kain Bali di Kota New York
Diselenggarakan di Bard Graduate Center New York, pameran Fabricating Power with Balinese Textiles yang diselenggarakan di New York mengupas tentang makna kain bali

1 / 4
Kain tradisional Indonesia pada dua dekade terakhir ini telah menjadi bagian dari gaya sehari-hari di kota-kota besar di Indonesia. Keindahan kain tradisional Indonesia juga telah menarik minat para perancang busana kelas dunia seperti Oscar De La Renta dan Dris Van Noten. Desainer Indonesia sendiri seperti Prito Oktaviano dan Ayu Mirah Suardhana juga telah banyak melakukan proses yang disebut oleh antropolog dan penulis fesyen asal Amerika Serikat, Ted Polhemus dan Linda Procter sebagai “fashionalization”, yang berarti proses pengapropriasian gaya atau material tradisional ataupun non-Barat yang dilakukan oleh para perancang busana. Melalui proses tersebut, kain tradisional telah mengalami modifikasi warna, motif, bentuk dan telah beralih fungsi dari kegunaan asalnya pada ritual-ritual keagamaan ataupun upacara-upcara kehidupan.

Selain mempopulerkan keindahan dari beragam corak dan warna kain-kain Bali di panggung mode dunia seperti New York, mempopulerkan makna, nilai spiritualitas dan kaitannya dengan konteks kehidupan sehari-hari masyarakat Bali juga sama pentingnya. Usaha ini terlihat dari pameran berjudul Fabricating Power with Balinese Textiles (Menciptakan Kekuatan Melalui Tekstil Bali) yang diselenggarakan di Bard Graduate Center, New York, dari bulan Februari hingga Juli 2018 lalu.

Pameran ini di kuratori oleh Urmila Mohan, seorang antropolog berbasis di kota New York, sebagai bagian dari proyek riset yang diadakan oleh Bard Graduate Center dan American Museum of Natural History (AMNH). Mohan yangberasal dari India, tertarik mengangkat kain Bali menjadi tema pamerannya karena ketertarikannya melihat bagaimanana peran tekstil dalam ritual keagamaan agama Hindu Bali dan kosmologi animisme. Sebagian besar kain-kain yang di pamerkan dalam pameran ini merupakan bagian dari koleksi departemen antropologi AMNH yang di koleksi oleh Margaret Mead, seorang antropolog yang pada tahun 1936 hingga tahun 1938 pernah melakukan riset di Bali.

Pameran ini dibagi menjadi tiga bagian – kepercayaan dalam ritual menenun, persembahan dan upacara kehidupan masyarakat Bali. Masing-masing tema berusaha menempatkan kain-kain dari awal abad ke-20 ini ke dalam konteks kegunaan dan kekuatan spiritualnya. 

Dalam bagian ‘kepercayaan’, ruang pamer berusaha memberikan pengertian kepada para pengunjung mengenai tradisi menenun di Bali yang harus dikaji bukan hanya dari teknik dan material yang digunakan, tapi juga kepercayaan yang dianut oleh sang penenun.

Ruang pamer selanjutnya membagi objek pamer berdasarkan perannya dalam upacara-upacara transisi kehidupan orang Bali, dari upacara kelahiran hingga kematian. Tahap kehidupan yang diangkat oleh Mohan adalah upacara neluhbulanin (tiga-bulanan – 105 hari dalam hitungan Bali), upacara potong gigi atau metatah, pernikahan, dan upacara ngaben. 

Kain lainnya yang dipamerkan dan dianggap memiliki kekuatan proteksi lainnya adalah kain tenun dengan motif geringsing dari desa Tenganan Pegeringsingan. Dalam upacara potong gigi, motif kain geringsing digunakan sebagai alas bantal dan juga sebagai kain penutup dada, namun kain geringsing juga digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk fungsi penyembuhannya. Pada ruangan sisi kanan galeri, dipamerkan juga sebuah mesin tenun ikat atau cagcag dan ikatan-ikatan benang yang telah diwarnai.

Setiap kain di pamerkan ditemani dengan dokumentasi foto hitam-putih hasil jepretan dari tahun 1930-an ketika kain itu digunakan pada upacara-upacara keagamaan yang dikunjungi Mead dan rekannya.

Kian meningkatnya popularitas kain tradisional Indonesia di panggung mode dunia harus diimbangi dengan peningkatan edukasi mengenai sejarah dan makna dari motif dan proses pembuatan kain-kain tersebut. Mengedukasi publik di kota New York melalui pameran ini memang penting, namun tak kalah penting juga mengedukasi warga Indonesia sendiri mengenai pentingnya kain-kain tradisional ini agar kelestariannya tetap terjaga dan tidak diakui oleh bangsa lain. (Rifda Amalia) Foto: Dok. Rifda Amalia dan Bard Graduate Center

 



JOIN OUR COMMUNITY