
Kolaborasi seni perdana antara D’Gallerie dan pelukis Bali Putu Winata menghadirkan sebuah pameran yang terasa personal sekaligus kontemplatif. Bertajuk “Saujana”, 10 karya lukisan Winata dipresentasikan secara khusus di area Hotel Tentrem Jakarta, menyatu dengan ritme ruang dan atmosfernya. Lebih dari sekadar pameran, “Saujana” dibaca sebagai kenangan tentang perjalanan mencari keseimbangan, sebuah proses belajar menjalani hidup dengan rasa yang jujur dan penuh kesadaran.
Dalam bahasa Jawa, saujana merujuk pada hamparan pandang yang luas. Bagi Putu Winata, istilah ini menjadi fondasi filosofis yang menautkan pengalaman batin, alam, dan cara manusia memposisikan diri di tengah kehidupan.
Lukisan sebagai Lanskap Batin
Dalam Saujana, alam tidak hadir sebagai representasi geografis semata. Alam menjelma menjadi ruang refleksi tempat emosi, ingatan, dan pengalaman hidup berkelindan. Warna-warna yang tenang, bidang yang berlapis, dan ritme visual yang mengalir memberi kesan bahwa lukisan-lukisan ini tidak sedang berbicara keras, melainkan mengajak perlahan.
Kolaborasi ini menempatkan karya Winata sebagai bagian dari pengalaman budaya yang hidup. Hotel Tentrem Jakarta tidak hanya menjadi lokasi pamer, tetapi juga ruang perjumpaan antara seni, arsitektur, dan keseharian, memperkuat gagasan bahwa seni dapat hadir tanpa jarak.
Gerak sebagai Nafas Karya
Dalam proses kreatifnya, Putu Winata banyak berbicara tentang gerak. Ia menggunakan angin sebagai metafora utama, sebagai sesuatu yang tak memiliki bentuk, namun dampaknya terasa jelas.
Baginya, lukisan yang baik tidak harus statis. Ia perlu memiliki dinamika, seperti angin yang menggerakkan daun, pohon, atau tangan manusia. Gerak inilah yang ia kejar melalui karakter, komposisi, dan relasi antar unsur visual.
“Saya paling senang membuat karakter seperti ini, sehingga lukisan yang saya buat menjadi bergerak. Tapi saya tidak menyarankan harus seperti ini. Bisa di pohon, di bunga, atau di tangan. Gerakan itu yang ingin saya coba,” tuturnya.
Teknik, Kebebasan, dan Keseimbangan
Secara teknis, Winata memulai proses melukis dari elemen yang lebih gelap, lalu menambahkan lapisan gel dan warna secara bertahap. Cokelat kemerahan menjadi salah satu warna yang sering ia eksplorasi, melalui proses pencampuran yang intuitif untuk membangun kedalaman visual.
Namun teknik tidak pernah menjadi tujuan akhir. Ia menempatkan kebebasan berekspresi berdampingan dengan struktur. Karakter dalam lukisannya disiapkan secara kolektif, memiliki gradasi dari bentuk sederhana hingga kompleks, lalu digunakan untuk menekankan titik-titik tertentu dalam komposisi. Pendekatan ini menciptakan karya yang terasa hidup—bergerak, bernapas, dan terbuka terhadap tafsir.
***
Bagi Putu Winata, seni bukan sekadar medium visual, melainkan cara menjalani hidup. Dalam Saujana, ia merangkum keyakinannya bahwa keseimbangan tidak pernah statis. Keseimbangan ini terus dicari, dipelajari, dan dirayakan melalui cara pandang yang luas, tenang, dan penuh kesadaran. Pameran ini hadir di Hotel Tentrem Jakarta selama periode 17 Januari-17 Maret 2026.