“Nafasan Bumi” di Singapore Art Week 2026: Ketika Seni, Material, dan Ekologi Berjumpa

Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest, menghadirkan karya dua seniman Indonesia, Elia Nurvista dan Bagus Pandega. Pameran ini akan menjadi salah satu sorotan di Singapore Art Week 2026.

Setiap Januari, Singapore Art Week (SAW) mengubah Singapura menjadi panggung seni rupa Asia Tenggara. Hadir dalam format art fair dan rangkaian festival seni tahunan, SAW mempertemukan museum, galeri, seniman, dan publik global dalam satu musim yang padat dan dinamis. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, pameran “Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest” di Singapore Art Museum (SAM) muncul sebagai salah satu sorotan yang diproyeksikan memberi jeda reflektif di antara gemerlap perayaan seni SAW 2026.

Dibuka untuk umum pada 16 Januari 2026, pameran ini menghadirkan karya dua seniman Indonesia, Elia Nurvista dan Bagus Pandega, dalam presentasi perdana mereka di SAM. Sebagai bagian dari edisi ketiga inisiatif Material Intelligence, “Nafasan Bumi” menelusuri praktik kerajinan, industri, dan teknologi saling bertaut dalam membentuk masa depan ekologis Asia Tenggara, dengan material sebagai bahasa utamanya.

Berangkat dari penggunaan minyak sawit dan nikel, yakni dua komoditas kunci dalam ekonomi ekstraktif Indonesia, “Nafasan Bumi” merefleksikan cara tuntutan produksi industri meresap hingga ke lapisan paling intim kehidupan sehari-hari. Pameran ini merefleksikan narasi sebagaimana tuntutan produksi industri meresap ke dalam kehidupan sehari-hari. Patung lilin sawit yang perlahan melunak, sabuk konveyor yang bergerak mengikuti biofeedback tanaman tropis, serta denting bijih nikel yang jatuh berulang kali, menciptakan lanskap hidup di mana waktu, kerja, dan alam bernegosiasi tanpa henti.

Advertisement

Lebih dari sekadar pengalaman visual, “Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest” mengajak pengunjung merenungkan keterhubungan global yang tercipta melalui rantai produksi dan konsumsi, beserta tanggung jawab kolektif yang menyertainya. Di tengah gemerlap musim seni Singapura, pameran ini hadir sebagai pengingat bahwa bumi terus bernapas, dan pilihan kita menentukan panjang pendeknya tarikan itu.

Teks: Kinar Laimaura
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Instalasi "Akar Perjalanan" Menghidupkan Fasad Stasiun BNI City

Next Post

Perempuan, Karier, dan Pilihan yang Tak Harus Dipertentangkan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.