10 Prinsip Kepemimpinan Perempuan Versi Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez

Kepemimpinan perempuan di Indonesia tidak lahir dari satu jalur yang seragam. Melalui pengalaman sebagai profesional, ibu, dan pengambil keputusan, tiga pemimpin perempuan ini merumuskan prinsip hidup yang relevan bagi generasi berikutnya

Dinamika dunia kerja terus berubah, dan kepemimpinan perempuan di Indonesia terus bertumbuh melalui pengalaman yang berlapis: sebagai profesional, pengambil keputusan, sekaligus individu dengan kehidupan personal yang utuh. Dari perjalanannya masing-masing, Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez merumuskan refleksi dan pelajaran penting yang relevan bagi generasi pemimpin perempuan berikutnya. Bukan dalam bentuk formula baku, melainkan prinsip hidup yang lahir dari praktik nyata, kegagalan, kompromi, dan keberanian untuk tetap setia pada diri sendiri.

1. Jadilah banyak hal, tapi jangan pernah kehilangan dirimu sendiri

Menjadi perempuan sering kali berarti menjalani lebih dari satu peran dalam waktu yang bersamaan. Namun, hal itu tidak seharusnya menghapus identitas diri. “Ketahuilah bahwa Anda diperbolehkan melakukan banyak hal sekaligus tanpa kehilangan diri sendiri,” ujar Amira.

Keyakinan serupa juga dipegang oleh Imelda. Ia menegaskan bahwa memberi 100 persen di rumah dan di tempat kerja bukanlah sesuatu yang saling meniadakan. “Saya bisa melakukannya karena saya adalah seorang sekaligus wirausaha, dan saya memastikan anak-anak saya memahami hal ini,” tuturnya.

Advertisement

2. Tidak perlu membuat rencana yang berlebihan

Alih-alih memandang hidup sebagai garis lurus, Amira mengajak perempuan untuk menerima bahwa hidup bergerak secara dinamis. Ia menekankan pentingnya tidak terjebak dalam perencanaan yang terlalu kaku. Ada masa ketika keluarga menjadi prioritas utama, ada masa ketika karier menuntut perhatian penuh, dan ada pula fase di mana keduanya hadir bersamaan, dan itu tidak apa-apa. Fleksibilitas, menurutnya, justru menjadi kunci ketahanan.

3. Memimpin dengan femininitas

Dalam dunia kerja yang masih sarat standar maskulin, perempuan kerap merasa perlu menyesuaikan diri agar diterima. Amira menegaskan bahwa hal tersebut tidak harus terjadi. “Terkadang sebagai pemimpin perempuan, perempuan merasa perlu berubah dan menjadi lebih maskulin agar bisa diterima, namun hal ini tidak perlu,” katanya. Menjaga keaslian diri, termasuk femininitas, justru menjadi fondasi kepemimpinan yang berkelanjutan.

4. Pimpinlah dengan integritas

Keaslian perlu berjalan beriringan dengan integritas. Anandita mengingatkan bahwa di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh kompromi, memiliki prinsip diri menjadi semakin penting. Tetap membumi, memahami nilai yang diyakini, dan berani memegangnya adalah bentuk kepemimpinan yang relevan di masa kini.

5. Fokus pada merit atau prestasi

Bagi Anandita, meritokrasi adalah pijakan penting, terutama ketika seseorang lahir dalam posisi yang kerap diasosiasikan dengan privilese. “Menjadi penerus generasi ke-2 sangatlah sulit karena orang-orang mengenal Anda sebagai ‘putri bos’,” ungkapnya. Ia tidak menampik keberadaan privilese, namun menegaskan bahwa keberlanjutan posisi ditentukan oleh kinerja. “Bukan gender yang menentukan posisi Anda di sebuah perusahaan, namun prestasi dan kinerja Anda.”

6. Mentransfer keterampilan antara dunia pekerjaan dan pribadi

Pengalaman di ranah personal kerap membentuk cara memimpin di dunia profesional. Baik Amira maupun Anandita menemukan bahwa keterampilan hidup, seperti kepercayaan dan pendelegasian, bersifat lintas konteks.

Amira menerapkan prinsip ini di rumah dengan mendorong anak-anak yang lebih besar untuk membantu yang lebih kecil, sekaligus menghindari micro-managing di tempat kerja. Sementara itu, Anandita menyoroti pentingnya kondisi mental. “Anda tidak bisa mengajar seseorang yang berada dalam kesulitan,” katanya, seraya membandingkan dinamika tim dengan pola pengasuhan.

“Bagaimanapun, sosok saya sebagai seorang pemimpin saat ini sangatlah dibentuk oleh kenyataan bahwa saya juga seorang ibu,” ujar Anandita lagi.

7. Definisikan kembali ‘work-life balance

Alih-alih mengejar keseimbangan yang sempurna, Anandita memilih untuk mengubah perspektif. “Tidak ada yang namanya keseimbangan,” ujarnya jujur. Setiap hari membawa tantangan yang berbeda, dan menerima ketidakseimbangan tersebut justru membuat hidup lebih realistis dan manusiawi.

8. Lepaskan hal-hal kecil

Kesadaran bahwa kita tidak bisa melakukan semuanya sekaligus adalah bentuk kedewasaan. Amira berbagi pengalamannya tentang melepaskan ekspektasi-ekspektasi kecil. Mulai dari urusan antar-jemput sekolah hingga detail administrative, demi menjaga energi dan kewarasan. Fleksibilitas dan kreativitas dalam memecahkan masalah menjadi kunci untuk tetap berjalan.

9. Jangan segan minta bantuan

Dalam budaya yang kerap mengagungkan kemandirian, meminta bantuan sering disalahartikan sebagai kelemahan. Padahal, bagi Amira, hal tersebut adalah strategi bertahan. “Saya nggak keberatan untuk meminta bantuan, dan saya nggak merasa harus gengsi,” katanya. Prinsip it takes a village berlaku, baik dalam pengasuhan maupun dalam perjalanan karier.

10. Kelilingi diri Anda dengan mentor

Kepemimpinan bukan perjalanan yang harus ditempuh sendirian. Seperti yang disampaikan Imelda, “kepemimpinan bukanlah pendakian seorang diri,”  Anandita dan Amira pun menekankan pentingnya kehadiran mentor. Baik itu mentor dari keluarga, lingkungan profesional, maupun komunitas, sebagai ruang belajar dan bertumbuh bersama.

***

Pada akhirnya, perjalanan Anandita Makes, Amira Ganis, dan Imelda Harsono Velez menegaskan satu kebenaran penting: jalan perempuan pekerja di Indonesia memang tidak selalu mudah, namun sangat mungkin untuk dijalani. Dengan pola pikir kewirausahaan, keberanian menantang norma, serta kekuatan karakter feminin seperti empati dan intuisi, perempuan dapat merumuskan definisi suksesnya sendiri.

Kisah-kisah ini menjadi pengingat bahwa mimpi profesional dan kehidupan personal tidak harus berjalan terpisah. ‘Kebenaran pahit’ yang kerap dihadapi perempuan pekerja bukanlah akhir, melainkan bagian dari proses yang bisa dilampaui, dengan kesadaran, dukungan, dan keberanian untuk tetap menjadi diri sendiri.

Teks: Alda Prawitera
Editor: Mardyana Ulva

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Harmoni Budaya dalam Irama: K-Life & K-Live Indonesia Persembahkan Konser Kolaboratif "HUG K-Pop Concert" 2026

Next Post

Tentang Kemandirian Perempuan dan Seni Mengubah Arah Hidup

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.