Reset Tubuh dan Pikiran: Cara Menjaga Sistem Saraf Tetap Seimbang

Melalui praktik sederhana seperti meditasi dan latihan napas, kita belajar meregulasi sistem saraf agar hidup tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.

Di tengah ritme kota yang terus bergerak, istirahat sering kali hanya kita pahami sebagai jeda fisik: tidur lebih lama di akhir pekan atau meluangkan waktu untuk liburan singkat. Namun, bagi banyak orang yang hidup di kota besar, rasa lelah tidak selalu hilang meski tubuh sudah berhenti bergerak. Pikiran tetap aktif, napas terasa pendek, dan tubuh seperti belum benar-benar pulih.

Mira Madjid, dokter gigi spesialis periodontologi sekaligus pendiri Bodhichitta Circle, menjelaskan bahwa kita perlu memiliki kemampuan untuk meregulasi sistem saraf kita sendiri. Bodhichitta Circle sendiri adalah sebuah komunitas wellness yang berfokus pada praktik kesadaran (mindfulness) dan pendekatan holistik terhadap kesehatan mental dan emosional.

Di salah satu sesi grounding yang ia pandu di RAW Yoga, Mira juga menyebut bahwa praktik kesadaran bukan sekadar menenangkan diri. Menurutnya, melakukan praktik kesadaran juga berarti mengingatkan kita pada keterhubungan dengan orang lain.

Advertisement

Parasimpatik dan Pentingnya ‘Reset

Menurut Mira, tubuh hanya dapat melakukan proses penyembuhan ketika kita masuk ke sistem saraf parasimpatik. Ini merupakan fase ketika tubuh benar-benar beristirahat dan melakukan regenerasi.

“Masalahnya, banyak dari kita—termasuk saya sendiri, dulu—selalu beroperasi di mode simpatik tanpa pernah meregulasi saraf untuk beristirahat,” ujarnya. “Akibatnya, saat kita sudah berbaring di ranjang, meski badan sangat lelah, otak tetap terjaga.”

Ia menggambarkan kondisi ini dengan analogi yang sederhana namun mudah dipahami. Katanya, “Tubuh kita itu ibarat ponsel atau mesin. Jika terus-menerus panas tanpa pernah di-reset, suatu saat ia akan mati mendadak.”

Fenomena ini, menurutnya, bisa menjelaskan mengapa seseorang yang terlihat sangat sehat dan aktif tiba-tiba mengalami kolaps saat olahraga atau aktivitas berat. Tubuh yang terus dipacu tanpa kesempatan untuk pulih pada akhirnya mencapai titik over-capacity, lalu shutdown.

Di sinilah praktik seperti meditasi, latihan napas, atau somatic awareness menjadi penting. Bukan untuk menghentikan produktivitas, melainkan untuk memberi tubuh kesempatan kembali ke keadaan seimbang.

Dengan melakukan reset, sistem saraf dapat kembali bekerja secara optimal, membuat pikiran lebih jernih dan tubuh lebih kuat saat kembali memasuki aktivitas.

Cara Melakukan Reset untuk Regulasi Sistem Saraf

Mira juga menyarankan beberapa cara melakukan reset untuk regulasi sistem saraf. Salah satu cara paling cepat untuk memberi sinyal aman pada tubuh adalah melalui napas dengan ekshalasi yang lebih panjang daripada inhalasi.

Latihannya sederhana. Tarik napas melalui hidung selama empat hitungan, tahan satu hingga dua hitungan, lalu buang napas perlahan melalui hidung selama enam hingga delapan hitungan. Lakukan selama tiga hingga lima menit.

Menurut Mira, ekshalasi yang panjang membantu mengaktifkan saraf vagus, bagian penting dari sistem saraf parasimpatik yang bertugas menenangkan tubuh. Ketika saraf vagus aktif, otak menerima pesan bahwa kondisi kita aman. Secara alami, tubuh pun mulai beralih dari mode stres menuju mode pemulihan.

Selain itu, kita juga bisa melakukan pernapasan diafragma. Caranya, letakkan satu tangan di perut, lalu tarik napas perlahan hingga perut mengembang. Buang napas dengan lembut hingga perut kembali turun. Pastikan rahang tetap rileks dan bahu tidak terangkat. Latihan ini dapat dilakukan sekitar lima menit.

Mira menyebut bahwa napas diafragma membantu menurunkan aktivitas amigdala, pusat respons stres di otak, sekaligus meningkatkan aliran oksigen ke jaringan tubuh. Ketika rahang tidak lagi tegang, tekanan pada gusi berkurang dan sirkulasi mikro menjadi lebih optimal. Dalam kondisi ini, detak jantung melambat, hormon stres lebih stabil, dan tubuh mulai memasuki fase penyembuhan.

Hidup yang Berkelanjutan

Bagi Mira, inti dari semua praktik ini bukanlah performa spiritual atau tren gaya hidup baru. Ia menyebut satu kata yang menurutnya paling penting: keberlanjutan.

“Untuk apa kita mengejar achievement besar sekarang jika di usia 50 semuanya justru kolaps?” katanya.

Mindfulness, dalam pandangannya, adalah cara menjaga agar hidup dapat berjalan dalam jangka panjang. Ia mungkin tidak terlihat ambisius atau dramatis, tetapi justru memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk bertahan.

Pada akhirnya, keberhasilan hidup bukan hanya tentang seberapa cepat kita mencapai garis finis. Lebih dari itu, kemenangan sejati adalah kemampuan untuk terus berjalan; dengan tubuh yang sehat, pikiran yang jernih, dan sistem saraf yang cukup tenang untuk menikmati perjalanan itu sendiri.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Kisah Teratai di Tuileries, Dior Fall/Winter 2026-2027

Next Post

Ramadan Skin Shift: Panduan Holistik Merawat Kulit dan Rambut

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.