Estetika LIEBESKIND BERLIN Hadir Kembali di URBAN ICON
“Éthérée”, Sebuah Puisi Mode yang Mengudara dari Phangsanny

“Éthérée”, Sebuah Puisi Mode yang Mengudara dari Phangsanny

Melalui 20 tampilan Terbuai dan 22 karya Phangsanny Couture, rumah mode ini merayakan keindahan yang paling halus dan nyaris tak tersentuh

Di bawah kemilau lampu kristal Astor Ballroom, The St. Regis Jakarta, sebuah malam menjelma menjadi kanvas bagi kemewahan yang berbisik. Phangsanny, rumah mode yang selama ini dikenal dengan sentuhan feminin nan detil, mempersembahkan “Éthérée”. Sebuah pergelaran busana yang menjadi perayaan estetis atas keindahan yang melampaui batasan fisik.

Mengambil inspirasi dari kata Perancis yang berarti “ethereal” atau dunia lain, Éthérée memang terasa seperti jeda; sebuah tarikan napas panjang di tengah hingar-bingar. Phangsanny merangkai emosi lewat kain, payet, dan siluet yang tampak melayang ringan, membawa para tamu melintasi dua babak yang saling melengkapi: Terbuai dan Phangsanny Couture.

Babak Pertama: Terbuai – Saat Tradisi Nusantara Menari Bersama Angin Tropis

Peragaan dibuka oleh lini Terbuai by Phangsanny, lini resort wear yang telah menjadi jembatan antara kemewahan dan kenyamanan sehari-hari. Sebanyak 20 tampilan resort mengalir tanpa hambatan, seolah menari mengikuti ritme angin pantai.

Advertisement

Yang membedakan Terbuai musim ini adalah caranya merayakan kekayaan budaya Nusantara tanpa terjebak dalam literalisme. Motif-motif tenun dan batik klasik diinterpretasikan ulang dalam palet warna lembut: gading, sage, dan langit senja. Hasilnya adalah harmoni tak terduga antara tradisi dan sensibilitas kontemporer, sebuah undangan untuk melanglang buana dengan keanggunan yang sejuk.

Puncak Pertunjukan: Phangsanny Couture dan Arsitektur Adibusana yang Etereal

Beralih dari kelembutan Terbuai, panggung kemudian meninggi menuju Phangsanny Couture. Di sini, 22 karya adibusana berdiri sebagai monumen bagi presisi dan ketekunan tangan-tangan artisan. Material seperti tulle, organza, dan satin sutra disusun berlapis-lapis, menciptakan konstruksi yang membingkai tubuh tanpa mengekangnya.

Taburan payet dan kristal tidak hadir secara mencolok, melainkan berkilau subtil seperti embun di helai rumput saat fajar. Gaun pengantin penutup menjadi puncak narasi: sebuah kreasi bervolume megah namun terasa ringan, dengan ekor panjang yang mengembang seakan terbuat dari kabut. Busana untuk momen-momen istimewa lainnya, dari cocktail dress hingga gaun malam, tampil sebagai simbol kemewahan yang tidak berisik. Di tangan Phangsanny, kemewahan adalah bisikan, bukan teriakan.

Suara di Balik Éthérée: Tentang Makna yang Lebih Dalam

“Ini adalah tentang menghadirkan sesuatu yang terasa ringan, namun memiliki makna yang dalam, sebuah refleksi dari keindahan yang tidak selalu kasat mata,”

-Phangsanny, sang desainer.

Pernyataan tersebut merangkum keseluruhan Éthérée dengan sempurna. Lewat 42 penampilan yang berpendar bak mimpi. Phangsanny menciptakan ruang di mana budaya, emosi, dan imajinasi bertemu. Di mana penonton diajak untuk percaya bahwa keindahan sejati memang tidak selalu harus berwujud nyata, melainkan dirasakan diam-diam di sela-sela helaan napas. Dan malam itu, di Astor Ballroom, keindahan semacam itu benar-benar hadir tanpa batas, dan abadi dalam ingatan.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Estetika LIEBESKIND BERLIN Hadir Kembali di URBAN ICON

Estetika LIEBESKIND BERLIN Hadir Kembali di URBAN ICON

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.