
Ada masa ketika pakaian pria dibangun di atas satu keyakinan: tubuh harus mengikuti pakaian. Selama hampir satu abad, gagasan itu menjadi bagian dari identitas Lanvin Homme. Namun untuk Spring/Summer 2027, Peter Copping memilih memulai dari arah sebaliknya.
Melalui Exquisite Bodies, ia tidak berusaha mendefinisikan ulang maskulinitas, melainkan mengubah hubungan antara tubuh dan busana. Tubuh tidak lagi dikoreksi oleh konstruksi pakaian. Sebaliknya, pakaian mengikuti ritme tubuh, menghadirkan siluet yang ringan, nyaman, dan tetap elegan.
Struktur yang Mulai Melunak

Perubahan itu terasa pada jas double-breasted, celana longgar, hingga trench coat yang tetap mempertahankan presisi khas Lanvin, namun hadir dengan konstruksi yang lebih ringan. Material seperti wol tipis, washed silk, dan katun bertekstur membuat setiap siluet bergerak alami mengikuti tubuh.
Peter Copping juga menghadirkan safari jacket, jumpsuit, dan workwear trousers dalam material yang lebih halus, mempertemukan fungsi dan kemewahan tanpa kehilangan karakter khas maison.
Surealisme Sebagai Cara Pandang

Jeanne Lanvin memiliki kedekatan dengan sejumlah tokoh Surealis, dan warisan tersebut diterjemahkan Peter Copping tanpa pendekatan yang teatrikal. Alih-alih mengutip simbol atau motif secara langsung, ia menghadirkan semangat Surealisme melalui proporsi yang memanjang, detail yang subtil, dan siluet yang selalu terasa hidup. Surealisme hadir sebagai cara berpikir, bukan sekadar estetika.
Warisan yang Terus Bergerak

Tahun ini Lanvin Homme merayakan satu abad perjalanannya. Alih-alih bernostalgia, maison ini memilih melihat arsip sebagai titik berangkat. Kolaborasi bersama John Smedley, motif chevron dari arsip, hingga presentasi koleksi di Hôtel de Botterel-Quintin memperlihatkan bagaimana warisan terus berkembang mengikuti zaman.

Pada akhirnya, Exquisite Bodies menjadi pernyataan tentang kemewahan yang terasa lebih relevan hari ini. Bukan lagi pakaian yang membentuk tubuh, melainkan pakaian yang bergerak bersama pemakainya.