Tissot Gentleman 38 mm: Teman Setia di Setiap Detik Perjalanan
Pameran Seni “Menyibak Kabut”: Menghadirkan Kembali Jejak dan warisan perupa Zaini

Pameran Seni “Menyibak Kabut”: Menghadirkan Kembali Jejak dan warisan perupa Zaini

Salah satu karya yang hadir dalam pameran ini adalah Demonio (1961), lukisan yang membawa jejak perjalanan panjang sejak dipamerkan di São Paulo Biennale pada 1979 hingga kembali bertemu publik hari ini.

Ada sesuatu yang menarik ketika sebuah pameran tidak hanya mengajak kita melihat karya seni, tetapi juga menelusuri perjalanan panjang yang membuat karya-karya itu bisa hadir kembali di hadapan publik. Itulah yang terasa dalam Menyibak Kabut, pameran survei karya Zaini yang dikuratori oleh Ibrahim Soetomo untuk memperingati 100 tahun kelahiran sang pelukis di Taman Ismail Marzuki.

Alih-alih sekadar mengenang nama besar dalam sejarah seni rupa Indonesia, pameran ini mengajak pengunjung melihat kembali mengapa Zaini masih relevan hingga hari ini. Menurut Ibrahim, warisan Zaini tidak hanya terletak pada kiprahnya sebagai pendiri Dewan Kesenian Jakarta atau perancang kurikulum seni. “Cara Zaini mengabstraksi, cara dia menyerap suasana dalam konteks seni lukis, menurut saya masih diterapkan oleh pelukis-pelukis sekarang,” ujarnya.

Siapa Zaini dalam Sejarah Seni Rupa Indonesia?

Lahir di Pariaman, Sumatra Barat, Zaini merupakan bagian dari generasi perupa Minangkabau yang, bersama Nashar, Oesman Effendi, dan Mochtar Apin, membantu menggeser seni rupa Indonesia dari estetika Mooi Indië menuju bahasa visual yang lebih modern dan mandiri.

Advertisement

Perjalanan artistiknya dibentuk oleh sejumlah nama besar seperti Wakidi, S. Sudjojono, dan Basoeki Abdullah, sebelum kemudian bergabung dengan kelompok Pelukis Rakyat yang didirikan Affandi dan Hendra Gunawan. Selain dikenal lewat lukisan-lukisan lanskapnya yang puitis dan ekspresif, Zaini juga aktif sebagai editor majalah budaya serta menjadi salah satu pendiri Dewan Kesenian Jakarta pada 1968. Ia kemudian memimpin Institut Kesenian Jakarta pada dekade 1970-an. Karena itu, pameran ini terasa seperti sebuah kepulangan simbolis: karya-karyanya kembali dipamerkan di institusi budaya yang turut ia bangun semasa hidupnya.

Di Galeri Cipta I, pengunjung diajak mengikuti perkembangan bahasa visual Zaini, dari bentuk-bentuk yang masih mudah dikenali menuju komposisi yang semakin bebas dan ekspresif. Sementara di Galeri Cipta II, sketsa, gambar, vinyet, dan monotipe memperlihatkan bagaimana garis menjadi fondasi penting dalam cara berpikir artistiknya.

Demonio, Lukisan yang Membawa Sejarahnya Sendiri

Salah satu karya yang paling menyita perhatian adalah Demonio (1961), sebuah lukisan abstrak yang mempertemukan energi modernisme dengan simbolisme Garuda dalam tradisi Nusantara. Dibuat beberapa tahun setelah Konferensi Asia-Afrika Bandung, karya ini merefleksikan semangat Indonesia yang tengah membangun identitas budaya di tengah percakapan dunia.

Meski tidak menampilkan figur Garuda secara langsung, Zaini menerjemahkan simbol tersebut melalui sapuan warna dan gestur abstrak. Menariknya, ia memilih judul Demonio, yang berarti “iblis” dalam bahasa Portugis. Ketegangan antara sosok pelindung dan gagasan tentang yang destruktif dibiarkan hidup berdampingan, menghadirkan pembacaan yang terbuka tentang kekuatan, spiritualitas, dan manusia.

Namun bagi Ibrahim, kehadiran Demonio dalam pameran ini penting bukan semata karena kualitas artistiknya.

“Selain mengumpulkan lukisan, kami juga mengumpulkan lukisan dengan sejarahnya masing-masing. Misalnya Demonio yang pernah dipamerkan di São Paulo Biennale tahun 1979. Jadi bobot historis setiap lukisan itu juga ada,” jelasnya.

Di sinilah makna judul Menyibak Kabut mulai menemukan konteksnya. Istilah “kabut” sendiri pertama kali digunakan oleh pengamat seni Bambang Bujono untuk menggambarkan cara Zaini mengolah warna. Alih-alih mencampurkannya di atas palet, Zaini langsung mempertemukan berbagai warna di atas kanvas sehingga menghasilkan gradasi yang terasa mengambang, seolah diselimuti kabut.

Namun bagi Ibrahim, kabut dalam pameran ini juga memiliki makna yang lain.

“Jadi ini kayak menyibak kabut. Nggak hanya kabut di dalam lukisan, tapi juga kabut di luar lukisan,” katanya.

Yang dimaksud adalah kabut sejarah. Banyak karya seni modern Indonesia kini tersebar di berbagai koleksi pribadi, berada di luar negeri, atau kehilangan jejak dokumentasinya. Mengumpulkan kembali karya-karya tersebut berarti sekaligus menelusuri riwayat pameran, arsip, kepemilikan, hingga cerita yang menyertainya. Karena itu, di ruang pamer hampir tidak ditemukan caption panjang. “Saya membayangkannya sebagai gestur puitik untuk melihat karya-karya Zaini sebagaimana adanya,” ujar Ibrahim.

***

Pada akhirnya, Menyibak Kabut bukan sekadar pameran retrospektif untuk memperingati seabad kelahiran Zaini. Pameran ini menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak hanya bertahan karena cat di atas kanvas, tetapi juga karena selalu ada orang-orang yang merawat arsip, melacak jejaknya, dan menghadirkannya kembali ke ruang publik. Barangkali itulah makna paling penting dari menyibak kabut: bukan hanya melihat kembali lukisan-lukisan Zaini, tetapi juga menemukan kembali ingatan yang selama ini perlahan menghilang dari sejarah seni rupa Indonesia.

“Menyibak Kabut”, Pameran Survey Karya Zaini
📍Galeri Cipta I & II Gd. Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki
🗓️20 Juni – 11 Juli 2026

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Tissot Gentleman 38 mm: Teman Setia di Setiap Detik Perjalanan

Tissot Gentleman 38 mm: Teman Setia di Setiap Detik Perjalanan

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.