Hotel Estetik di China untuk Penikmat Fashion di Musim Panas
Senja Teduh Pelita: Ketika Lagu-Lagu MALIQ Menemukan Cerita Baru di Panggung Musikal

Senja Teduh Pelita: Ketika Lagu-Lagu MALIQ Menemukan Cerita Baru di Panggung Musikal

Bagi MALIQ & D'Essentials, Senja Teduh Pelita menghadirkan cara baru untuk melihat kembali perjalanan kreatif mereka. Bagi penonton, musikal ini menawarkan kesempatan menikmati lagu-lagu yang telah akrab di telinga melalui sebuah narasi utuh yang berbeda
Senja Teduh Pelita (1)
Pertunjukan musikal hasil kolaborasi Jakarta Movin dengan grup musik MALIQ & D’Essentials serta didukung Indonesia Kaya ini akan dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 3-12 Juli 2026. 

Lagu sering kali menemani berbagai fase kehidupan. Namun, bagaimana jika lagu-lagu yang selama ini hidup sebagai potongan kenangan dirangkai menjadi sebuah kisah utuh di atas panggung? Itulah yang ditawarkan musikal Senja Teduh Pelita, sebuah pertunjukan yang menginterpretasikan sekitar 20 lagu MALIQ & D’Essentials ke dalam cerita fiksi sains tentang sekelompok anak yang berusaha membangun kembali dunia yang porak poranda.

Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, pada 3 hingga 12 Juli 2026, musikal ini juga mengajak penonton merenungkan hubungan manusia dengan alam, harapan, dan masa depan.

Interpretasi Musikal Lagu-Lagu MALIQ & D’Essentials

Senja Teduh Pelita (4)

Lagu-lagu seperti Senja Teduh Pelita, Himalaya, Aurora, Jalan Pulang, hingga sejumlah karya dari album terbaru Begini Begitu hadir dalam bentuk yang mungkin berbeda dari bayangan sebagian penggemar. Alih-alih dipentaskan secara utuh dari awal hingga akhir, lagu-lagu tersebut diurai menjadi bagian dari perjalanan emosional para tokohnya. Sepenggal lirik muncul sebagai dialog, beberapa bait dinyanyikan pada momen-momen tertentu, sementara melodi menjadi jembatan yang menghubungkan satu adegan dengan adegan berikutnya.

Advertisement

Di atas panggung, musik berpadu dengan tata cahaya, multimedia, koreografi, tata kostum, dan tata panggung untuk membangun dunia fiksi yang menjadi latar cerita. Pertunjukan ini melibatkan 32 pemeran, termasuk 11 aktor anak, serta sekitar 200 insan kreatif di balik layar. Selama lebih dari dua jam, lagu-lagu MALIQ & D’Essentials tidak hadir sebagai nomor-nomor musikal yang berdiri sendiri, melainkan tumbuh bersama alur cerita dan perkembangan para karakternya.

Perjalanan 25 Tahun yang Dilihat dari Sudut Baru

Senja Teduh Pelita (3)

Pengalaman tersebut rupanya juga dirasakan oleh para personel MALIQ & D’Essentials, yang turut hadir di pementasa perdana musikal ini pada Jumat (3/7) petang. Menutup pertunjukan perdana itu, Widi dan Angga Puradiredja, dua personel grup musik ini, naik ke panggung dan mengaku kesulitan menggambarkan kekaguman yang baru saja mereka saksikan dari bangku penonton.

“Oh, ternyata begini rasanya nonton MALIQ,” ungkap Widi terharu.

“Ini pertama kali kami bisa merasakan seperti apa lagu-lagu MALIQ ketika disatukan dalam sebuah cerita,” sambungnya. Selama ini, menurut Widi, setiap lagu lahir dari proses yang sederhana. “Apa, sih, kerennya MALIQ? Di studio kami enggak pernah berpikir mana yang komersial atau mana yang idealis. Kami selalu bikin lagu yang paling jujur dari hati, yang membuat kami bahagia.”

Melihat lagu-lagu tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah pertunjukan musikal juga membuat Angga menyadari bahwa kejujuran dalam proses berkarya mampu membangun hubungan emosional yang kuat dengan penonton. Dan di penghujung malam, Angga juga menyampaikan rasa terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam mewujudkan Senja Teduh Pelita. Baginya, apresiasi itu tidak bisa ditujukan kepada satu atau dua orang saja, melainkan kepada seluruh tim yang bekerja di depan maupun di belakang panggung.

“Saya bahkan bingung harus mengucapkan terima kasih kepada siapa dulu, karena rasanya penghargaan ini milik semua orang yang terlibat,” ujar Angga.

“Setelah 24 tahun berkarya, kami mendapat rezeki yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Pertunjukan ini adalah sebuah mahakarya bagi kami dan memberi energi baru yang sangat besar untuk kembali berkarya dengan lebih baik lagi,” tutupnya.

***

Melalui Senja Teduh Pelita, lagu-lagu MALIQ & D’Essentials menemukan ruang untuk dibaca ulang. Bagi penonton, musikal ini menawarkan pengalaman menikmati karya-karya yang telah akrab di telinga dalam bentuk narasi yang baru. Sementara bagi MALIQ sendiri, pertunjukan ini menjadi cara lain untuk melihat kembali perjalanan kreatif yang telah mereka bangun selama seperempat abad.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Tiongkok (China) memiliki berbagai hotel estetik yang wajib dikunjungi oleh penikmat mode. Foto: Pu Li Shanghai.

Hotel Estetik di China untuk Penikmat Fashion di Musim Panas

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.