
Kita mungkin tidak terlalu memikirkan bunyi dalam kehidupan sehari-hari. Ia hadir begitu saja: dering notifikasi, langkah kaki di lorong, suara kereta yang melintas, hujan di atap rumah, atau dengung kipas angin yang baru terasa ketika listrik tiba-tiba padam. Bunyi sering kali hanya menjadi latar yang menemani aktivitas kita. Padahal, tanpa disadari, bunyi selalu memberi tahu bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi.
Bagi perupa Mira Rizki, bunyi bukan sekadar sesuatu yang didengar. Bunyi adalah penanda keberadaan. Ia menunjukkan bahwa sesuatu sedang bergerak, seseorang sedang hadir, atau sebuah peristiwa baru saja berlangsung. Dari pemahaman sederhana itulah praktik artistiknya berkembang. Selama hampir satu dekade terakhir, Mira menjadikan bunyi sebagai cara untuk membaca ruang, merekam ingatan, hingga menghadirkan kembali hal-hal yang selama ini luput kita dengarkan.
Ketika Bunyi Menjadi Penanda Kehadiran
Ketertarikan Mira pada bunyi berawal ketika masih menempuh studi di Institut Teknologi Bandung. Berasal dari latar belakang musik dan sempat aktif bermain band, ia kemudian diperkenalkan pada praktik seni bunyi oleh salah satu seniornya di kampus. Sejak saat itu, bunyi menjadi medium yang terus ia telusuri.
Menariknya, Mira lebih memilih menggunakan kata bunyi daripada suara. Baginya, bunyi memiliki kemungkinan yang jauh lebih luas. “Ada bunyi itu penanda bahwa sesuatu telah terjadi,” ujarnya. “Bunyi punya kekuatannya sendiri untuk memperlihatkan bahwa sesuatu hadir atau eksis.”
Pemahaman itu berangkat dari hal yang sangat fisik. Bunyi lahir dari getaran, baik di udara maupun pada permukaan benda. Ketika getaran itu hadir, ada sesuatu yang sedang bekerja, bergerak, atau hidup. Dari situlah Mira mulai melihat bunyi sebagai penanda keberadaan.
Awalnya, karya-karyanya lebih banyak mengeksplorasi bagaimana bunyi terbentuk dan bagaimana kita mendengarkannya di dalam ruang. Namun, seiring waktu, praktiknya berkembang. Bunyi tidak lagi hanya membicarakan ruang, tetapi juga menjadi medium untuk membaca kondisi sosial. “Aku merasa bunyi bisa menyuarakan sesuatu tanpa harus mengatakannya secara jelas,” katanya. “Enggak perlu terdengar gamblang, tapi kita bisa menangkap petunjuk bahwa ada sesuatu di sana.”
Karya Mira yang lampau, Rebak Raung Warga, pernah dipamerkan di Museum MACAN, merekam bunyi-bunyian dari permukiman di Kecamatan Regol untuk melihat bagaimana pandemi mengubah relasi warga dengan ruang dan orang asing. Empat tahun kemudian, dalam Grrrm (Muted) yang dipamerkan di ARTJOG 2026, bunyi yang ia hadirkan bukan lagi tentang ruang fisik, melainkan ketakutan, kecemasan, frustrasi, dan harapan yang tertahan sebagai jejak material.
Arsip bagi Hal-Hal yang Sulit Diucapkan
Gagasan itu mencapai bentuk yang lebih utuh dalam Geram Teredam. Karya ini berangkat dari 21 rekaman pengakuan para pekerja kreatif, petani, hingga staf institusi yang menceritakan kegelisahan mereka sebagai warga Indonesia. Melalui panggilan terbuka yang diselenggarakan di Institut Cemeti, Yogyakarta, Mira mengundang masyarakat untuk berbagi pengalaman yang selama ini sulit mereka ucapkan di ruang publik. Percakapan-percakapan tersebut direkam, ditranskrip, dan atas persetujuan para partisipan kemudian diolah menjadi material bunyi. Sebagian rekaman lain berasal dari percakapan melalui telepon dengan teman-temannya di Sumatra dan Kalimantan yang menceritakan situasi di daerah masing-masing.
Alih-alih memutar rekaman itu apa adanya, Mira justru menempelkan speaker langsung ke pelat aluminium sehingga suara berubah menjadi distorsi. “Justru suara yang mampet itu yang aku suka,” ujarnya. “Distorsinya yang menjadi highlight. Kenapa dia jadi teredam seperti ini? Di situ poin utamanya.”
Distorsi yang biasanya dianggap sebagai gangguan justru menjadi bahasa utama dalam karya ini. Bukan untuk menyembunyikan makna, melainkan memberi ruang bagi penonton untuk mendekat, menyimak, dan menangkap petunjuk-petunjuk yang tersisa.
Getaran tersebut kemudian dipindahkan ke atas rosin, resin alami dari pohon pinus yang merekam pola-pola vibrasi menjadi bentuk fisik. Lembaran-lembaran rosin yang nyaris transparan itu menjadi semacam arsip material bagi bunyi yang secara alami hanya hadir sesaat. Bagi Mira, ini adalah upaya memperpanjang usia sesuatu yang pada dasarnya fana. Yang tersisa bukan lagi bunyinya, melainkan jejak dari sebuah peristiwa yang pernah bergetar.
***
Melalui praktik seninya, Mira Rizki memperlihatkan bahwa bunyi tidak pernah sekadar persoalan akustik. Ia dapat menghadirkan keberadaan seseorang, menyimpan ingatan sebuah tempat, merekam kemarahan dan kecemasan yang sulit diucapkan, sekaligus membuka ruang bagi suara orang-orang yang selama ini jarang terdengar.
Bahkan ketika kata-kata menghilang atau sengaja diredam, bunyi tetap meninggalkan jejak. Dan mungkin, justru melalui jejak-jejak itulah kita mulai memahami sebuah situasi sosial dengan cara yang lebih pelan, lebih peka, dan lebih bersedia untuk benar-benar mendengarkan.