Etza Meisyara: Menghubungkan Indra Melalui Ingatan

Berangkat dari kenangan masa kecil hingga inspirasi dari gerakan Futurisme, karya-karyanya di atas pelat logam merekam resonansi sebuah pengalaman yang terus bergerak dan berubah.
Etza Meisyara – A Blur is A Memory
Ingatan tentang kamar masa kecil yang penuh coretan menjadi titik berangkat karya-karya terbaru Etza Meisyara. Dari ruang yang intim itu, ia menghubungkan bunyi, tubuh, dan pengalaman sehari-hari dalam satu praktik intermedia.

Jika Luh’De Gita berbicara tentang ingatan melalui lanskap Bali, Etza Meisyara justru memulainya dari pengalaman sensori. Sebagai perupa intermedia, praktiknya bergerak di antara seni bunyi, performans, video, dan seni grafis. Baginya, pengalaman artistik tidak pernah dibatasi oleh satu medium.

“Sebagai seniman intermedia, saya tertarik mengeksplorasi bagaimana berbagai indra saling terhubung. Bukan hanya lewat pendengaran, tetapi juga sentuhan, ruang, dan ambience,” ujarnya kepada DEWI pada Sabtu (11/7) sore lalu di ISA Art Gallery Jakarta. 

Pendekatan tersebut ia hadirkan pula di pameran duo “A Blur is A Memory” di ISA Art. Alih-alih menggunakan kertas seperti dalam praktik seni grafis konvensional, Etza memilih pelat logam sebagai medium. Permukaannya dapat digores, dibakar, dan menyimpan berbagai lapisan proses, menghadirkan ruang bagi bunyi, gerak, dan gambar untuk bertemu dalam satu bidang.

Advertisement

Kembali ke Ruang Masa Kecil

Berbeda dengan beberapa proyek sebelumnya yang lebih metodologis, Etza mengaku kali ini ingin kembali pada sesuatu yang lebih personal. Ia mencoba mengingat kembali kamar masa kecilnya, ruang yang dipenuhi coretan, gambar, dan tulisan yang tumbuh begitu saja tanpa aturan.

“Untuk pameran ini saya ingin reconnect dengan diri saya waktu kecil. Dulu kamar saya penuh coretan. Rasanya seperti playground, tempat saya bebas menggambar dan menulis apa saja. Karena itu saya juga menata karya-karya ini dengan cara yang lebih intim, seperti mengajak orang masuk ke ruang tersebut.”

Ingatan itu kemudian diterjemahkan ke dalam seri Sonic Gesture. Etza menggunakan foto-foto makro yang diambil dari dokumentasi performansnya sendiri, baik saat menjadi pelaku maupun penonton, lalu mengolahnya dengan efek motion blur dan manipulasi warna. Hasilnya bukan dokumentasi performans yang utuh, melainkan jejak visual yang menyerupai ingatan: samar, bergerak, dan terus berubah.

Terinspirasi oleh gerakan Futurisme di Italia pada awal abad ke-20 yang berupaya menangkap energi dan gerak dalam bahasa visual, Etza mencoba menerjemahkan sesuatu yang tidak kasatmata, yakni bunyi. Melalui teknik etsa pada pelat logam, ia mengabadikan resonansi suara dan pergerakan tubuh menjadi permukaan yang menyimpan bekas pengalaman. Yang direkam bukan sekadar sebuah momen, melainkan sisa-sisa getaran yang masih tertinggal setelah sebuah performans berakhir.

Mencipta dengan Kepekaan

Bagi Etza, proses berkarya selalu berawal dari apa yang ia sebut sebagai sensing, yakni kepekaan terhadap lingkungan sekitar. Inspirasi tidak selalu datang dari peristiwa besar, melainkan dari pengalaman sehari-hari yang sering kali luput dari perhatian.

“Saya selalu menggunakan kata sensing. Proses mencipta itu berangkat dari kepekaan terhadap hal-hal yang kita temui setiap hari.”

Ia mengenang pengalamannya ketika melewati kawasan Jatayu di Bandung. Bagi banyak orang, kawasan tersebut mungkin hanya terdengar bising oleh suara logam dan aktivitas bengkel. Namun bagi Etza, kebisingan itu justru membentuk ritme yang menarik untuk disimak.

“Ketika saya berada di sana, suasananya memang berisik. Tapi justru saya merasa ada ritme di dalamnya. Dari situ saya sadar, hal-hal yang kita temui dalam keseharian sebenarnya menyimpan banyak kemungkinan untuk diolah menjadi karya.”

Cara berpikir tersebut juga membantunya menghadapi situasi yang serba tidak pasti. Etza banyak terinspirasi oleh gerakan Futurisme yang lahir di tengah pergolakan sosial dan ancaman perang. Baginya, yang menarik bukan hanya estetikanya, melainkan sikap para senimannya yang memilih terus bergerak ketika masa depan terasa tidak menentu.

“Menurut saya, itu sangat relevan dengan sekarang. Ketika dunia terasa penuh ketidakpastian, saya memilih untuk terus bergerak dan terus berkarya. Mungkin memang seperti itulah cara manusia bertahan.”

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
Luh’De Gita – A Blur is A Memory

Luh'De Gita: Membaca Ulang Eksotisme Lewat Ingatan tentang Bali

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.