Luh’De Gita: Membaca Ulang Eksotisme Lewat Ingatan tentang Bali

Luh'De Gita mengajak kita melihat bahwa eksotisme Bali bukan sekadar citra wisata, melainkan bagian dari identitas yang terus berubah bersama masyarakatnya.
Luh’De Gita – A Blur is A Memory
Bali dalam karya Luh’DDe Gita hadir sebagai ruang ingatan yang terus ditulis ulang. Di antara lanskap yang terasa akrab, ia mengajak kita membaca ulang hubungan antara identitas, budaya, dan perubahan yang berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Bali telah lama menjadi tempat yang dibayangkan orang sebelum benar-benar dikunjungi. Pantai, pura, hamparan sawah, hingga upacara adat membentuk citra ‘pulau surga’ yang terus direproduksi dalam brosur wisata, film, hingga media sosial. Namun bagi seniwati Luh’De Gita, Bali bukan sekadar lanskap yang indah. Ia adalah rumah yang terus berubah, tempat tradisi, pariwisata, dan kehidupan sehari-hari saling bertemu sekaligus bernegosiasi.

Melalui pameran duo A Blur is A Memory di ISA Art, perupa asal Bali ini menghadirkan rangkaian lukisan yang berangkat dari arsip keluarga, foto-foto lama, serta dokumentasi pribadinya. Lapisan-lapisan citra yang tampak kabur bukan sekadar pilihan visual, melainkan cara untuk menunjukkan bahwa ingatan tidak pernah benar-benar utuh. Setiap kali diingat, ia selalu ditulis ulang.

Antara Eksotisme dan Identitas

Luh’De mengaku pernah merasa gamang ketika karya-karya awalnya banyak menampilkan pantai, pura, dan wisatawan asing. Ia khawatir tanpa sadar sedang menjual identitasnya sebagai perempuan Bali melalui citra yang selama ini dianggap eksotis.

Advertisement

“Saya sempat merasa seperti menjual identitas saya sebagai orang Bali,” ujarnya saat ditemui kala pembukaan pameran A Blur is A Memory pada Sabtu (11/7) sore lalu di ISA Art Gallery Jakarta. Pandangan itu berubah setelah menempuh studi magister di London. Berbagai diskusi yang ia jalani membuatnya melihat kembali posisinya sebagai perupa.

“Saya akhirnya sadar bahwa itu memang bagian dari identitas saya. Kenapa saya harus merasa malu merepresentasikan budaya saya sendiri?” sambungnya.

Baginya, persoalannya bukan terletak pada eksotisme itu sendiri, melainkan pada cara kita membacanya. Lanskap wisata yang selama ini menjadi simbol Bali juga menyimpan cerita tentang masyarakat lokal yang menghadapi perubahan akibat pariwisata, mulai dari alih fungsi lahan, meningkatnya biaya hidup, hingga semakin berkurangnya ruang bagi generasi muda untuk menjalankan tradisi.

“Tradisi itu bisa berubah seiring waktu. Sifatnya fleksibel. Jadi menurut saya, eksotisme bukan sesuatu yang buruk.”

Ingatan yang Terus Berubah

Pandangan tersebut hadir dalam lukisan-lukisannya. Luh’De menggunakan foto-foto arsip koleksi pribadi, hingga benda-benda antik yang berasal dari toko milik kakek dan neneknya sebagai titik berangkat. Potongan-potongan gambar itu kemudian ia susun kembali melalui teknik kolase dan sapuan cat yang membuat batas antara satu citra dan citra lain menjadi kabur.

Efek blur dalam karya-karyanya bukan semata persoalan estetika. Bagi Luh’De, ingatan selalu bersifat subjektif. Ia berubah setiap kali seseorang mengingatnya kembali. Karena itu, Bali yang ia tampilkan bukanlah Bali sebagai kartu pos wisata, melainkan Bali yang hidup di tengah perubahan sosial, ekonomi, dan budaya.

Lanskapnya tampak akrab, tetapi jadi timbul pertanyaan tentang siapa yang diuntungkan dari perkembangan pariwisata, siapa yang perlahan tersingkir, dan bagaimana sebuah budaya terus beradaptasi tanpa kehilangan akar yang membentuknya?

Luh’De Gita sejatinya tidak berusaha menghapus citra Bali yang selama ini dikenal dunia. Ia justru menggunakannya sebagai pintu masuk untuk membicarakan kehidupan masyarakat yang berada di baliknya. Dalam lukisan-lukisannya, eksotisme tidak hadir sebagai hiasan, melainkan sebagai ruang untuk membaca ulang identitas, ingatan, dan perubahan yang terus berlangsung.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post
The Gentlemen musim kedua first look (1)

First Look The Gentlemen Musim Kedua: Tayang September, Theo James Kembali

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.