
Bagaimana jika kehidupan sebuah pohon diceritakan lewat koktail? Pertanyaan itu menjadi titik awal The Life of the Tree, buku koktail terbaru dari Oliverra, sebuah beach club di Umana Bali, yang diperkenalkan pada Juli 2026. Berangkat dari filosofi Tri Hita Karana, sembilan koktail di dalamnya mengikuti kehidupan pohon dari benih hingga akar, bunga, buah, daun yang gugur, dan kehidupan baru. Setiap racikan membawa cerita yang berbeda, sekaligus mengajak kita menikmati cocktail dengan cara yang sedikit lebih personal
Ketika Cerita Berakhir di Dasar Gelas

Ada sesuatu yang menyenangkan dari cara Oliverra bercerita lewat koktail. Spirits berlapis bertemu botanical infusion, buah tropis dan aromatik lokal, sementara teknik bar memberi bentuk pada gagasan tentang pertumbuhan, keseimbangan, dan renewal. Hasilnya terasa ekspresif, tetapi tetap berpijak pada tempat di mana semuanya dimulai, di antara tebing kapur Ungasan dan lanskap Bali.
Maka, The Life of The Tree adalah caranya melihat hidup sebagai sesuatu yang terus berubah. Seperti pohon, kita tumbuh, bercabang, memberi, lalu pada waktunya belajar melepaskan. Di Oliverra, gagasan itu hadir secara sederhana. Ia cukup ada di atas meja, hadir lewat sembilan cocktail dan cerita yang berpindah dari satu gelas ke gelas berikutnya.
Dari Akar, Lalu Tumbuh



Cerita dimulai dari Namirasa, koktail yang terinspirasi dari benih dan momen ketika hubungan pertama dengan alam mulai terbentuk. Padu padan Toasted White Seasem, Coconut Rum, Pandan, Leci, Brine, dan Citrus membuat rasanya terasa tropis, creamy, dan familiar
Lalu, ada Genitri, yang mengambil bentuk akar, mencakup Four Pillars Yuzu Gin, Galliano, Herbal Liqueur, Mimosa Roots, Lemongrass, dan Sitrus membuatnya cocok ketika obrolan baru saja dimulai. Setelah itu, Niscaya hadir sebagai trunk dengan karakter yang lebih dalam lewat Nikka Days Japanese Whiskey, Sweet Vermouth, dan Mesui Wood Bitters.
Urutannya terasa sederhana, tetapi justru di situlah menariknya. Kita seperti diajak melihat sebuah pohon bukan sebagai sesuatu yang diam, melainkan sesuatu yang terus berubah.
Ada Satu Koktail untuk Setiap Suasana



Ada juga sisi Oliverra yang lebih ringan. Lohjina hadir dengan Rye Whiskey, Jalapeño, Ancho Reyes Verde, dan Olive Brine yang memberinya beragam rasa. Setelah itu, Amertaning membawa keseimbangan yang lebih segar lewat Timun, Basil, Mint, serta Basil Oil. Untuk sesuatu yang lebih floral, Padmasari mengambil inspirasi dari lotus dan memadukan Rose Syrup, Aperol, Sitrus, serta Rose Mist.
Rasanya mudah membayangkan ketiganya di waktu yang berbeda. Lohjina ketika percakapan mulai seru, Amertaning saat sore masih panjang, dan Padmasari ketika langit perlahan berubah warna. Mungkin jusru itu yang membuat koleksi ini terasa menyenangkan. Tidak semua minuman harus punya sesuatu untuk dibuktikan. Beberapa cukup dinikmati sambil melihat waktu berjalan.
Di Antara Rasa dan Keseimbangan

Mungkin di situlah The Life of the Tree terasa begitu dekat. Tri Hita Karana tidak perlu diterangkan panjang lebar untuk bisa dirasakan. Ia hadir dalam lanskap laut yang membentang di hadapan meja, dalam bahan-bahan yang membawa sedikit jejak alam Bali, juga dalam sembilan koktail yang perlahan mengajak kita mengikuti satu fase ke fase berikutnya.
Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya rasa, melainkan suasana yang menyertainya. Percakapan yang mengalir lebih lama, matahari yang turun perlahan, atau waktu yang terasa sedikit lebih lapang ketika dinikmati bersama. Di Oliverra, Tri Hita Karana memberi kedalaman pada pengalaman tersebut, membuat The Life of the Tree terasa bukan semata tentang kehidupan sebuah pohon, tetapi juga tentang hubungan yang kita bangun dengan tempat, sesama, dan momen yang kita jalani.
Teks: Cut Rashya Z. Lativa Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo