Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang

Merayakan 20 tahun The Papilion Kemang, pameran “Gedung Kaca” menghadirkan kembali sketsa, maket, material, dan dokumentasi proses perancangannya bersama arsitek Yolodi + Maria Architects serta karya Davy Linggar dan Indra Leonardi.
1

Menandai dua dekade perjalanan The Papilion Kemang, pameran “Gedung Kaca: 20 Tahun The Papilion Kemang” mengajak pengunjung melihat kembali proses lahirnya sebuah bangunan yang telah menjadi bagian dari lanskap Kemang. Dirancang pada awal 2000-an oleh d-associates, yang kini bernama Yolodi + Maria Architects, bangunan ini hadir ketika Kemang mulai bergeser dari kawasan hunian menuju kawasan komersial dan gaya hidup.

Berada di sudut Jalan Kemang Raya, The Papilion dirancang tanpa satu fasad utama dan terbuka ke berbagai arah. Penggunaan bidang kaca kemudian menjadi karakter yang membuatnya dikenal sebagai “Gedung Kaca”. Bagi Maria Rosantina, salah satu arsitek di balik perancangannya, arsitektur berangkat dari pemikiran tentang bagaimana sebuah ruang dibentuk dan bagaimana keberadaannya kemudian memengaruhi kehidupan manusia.

Melihat Kembali Proses Perancangan

3

Pameran yang berlangsung di lantai dasar The Papilion menghadirkan sketsa, gambar kerja, maket, material, serta dokumentasi proses desain dari dua dekade lalu. Materi tersebut ditempatkan berdampingan dengan foto dan video yang merekam kondisi The Papilion dari masa ke masa.

Advertisement

“Pameran ini tidak kami buat sekadar untuk bernostalgia. Kami ingin melihat kembali The Papilion dalam konteksnya hari ini,” ujar Maria. Pendekatan tersebut membuat pameran tidak berhenti pada sejarah bangunan, tetapi turut melihat bagaimana sebuah ruang terus digunakan dan mengalami perubahan bersama lingkungannya.

Arsitektur Bertemu Seni

2

Gagasan tersebut kemudian diperluas melalui karya Davy Linggar dan Indra Leonardi, dua seniman yang diundang untuk merespons The Papilion melalui perspektif masing-masing. Karya keduanya menghadirkan pembacaan lain terhadap bangunan melalui cahaya, bidang, gerak, dan tekstur.

“Kami ingin mereka melihat The Papilion dengan kacamata masing-masing dan menerjemahkannya melalui media yang sesuai dengan apa yang mereka tangkap dari bangunan ini,” jelas Maria.

Kehadiran karya seni tersebut juga kembali pada gagasan awal The Papilion sebagai ruang yang mempertemukan arsitektur dengan aktivitas sehari-hari dan kehidupan urban.

5

Pameran “Gedung Kaca” mengajak pengunjung mengingat kembali ke masa ketika The Papilion dibangun, sekaligus melihat betapa gagasan arsitektur terus menemukan maknanya ketika ditempati, digunakan, dan menjadi bagian dari kehidupan kota. Pameran ini terbuka untuk umum hingga 13 September 2026.

Previous Post

Kisah di Balik Busana Pernikahan BRAy. Y.M. Tunku Aishah Johara binti Tunku Abu Bakar dan Muhammad Idris Ismail Yahya

Advertisement
Sign in