
Setiap orang punya cara sendiri dalam membayangkan busana pernikahannya. Ada yang sudah menentukan siluet dan warna sejak jauh hari, ada yang memilih untuk mengikuti adat, sementara sebagian lainnya ingin mengenakan sesuatu yang memiliki cerita personal. Pada pernikahan BRAy. Y.M. Tunku Aishah Johara binti Tunku Abu Bakar dan Muhammad Idris Ismail Yahya, cerita tersebut hadir lewat busana yang membawa bagian dari keluarga ke dalam perayaan mereka.
Keduanya merayakan rangkaian pernikahan di Pura Mangkunegaran, Surakarta, pada 29 Agustus 2026. Sebelumnya, akad dan perayaan telah berlangsung di Johor Bahru, Malaysia, pada 29 Mei 2026. Untuk rangkaian pernikahan tersebut, Svarna by IKAT Indonesia bersama Didiet Maulana dipercaya menghadirkan busana bagi kedua mempelai.
Sepotong Kain Cinde dari Pernikahan Sang Ibu

Salah satu detail paling personal terlihat dari penampilan Tunku Aishah di Mangkunegaran. Ia mengenakan kebaya kutubaru panjang dengan panel tengah dalam warna coral. Brokat dan bordir menjadi material utama, kemudian diperkaya dengan payet kristal tiga dimensi dalam nuansa coral, champagne, dan emas.
Namun, cerita utama dari penampilan ini justru datang dari kain yang dikenakannya. Kebaya tersebut dipadukan dengan batik klasik Cinde berbahan sutra, kain warisan keluarga yang sebelumnya dikenakan oleh sang ibu, GRAy Retno Astrini, ketika menikah pada 1990.

Lebih dari tiga dekade kemudian, kain tersebut kembali dikenakan dalam sebuah pernikahan. Kali ini oleh Tunku Aishah, di Pura Mangkunegaran, tempat yang juga memiliki kaitan erat dengan sejarah keluarganya.
Pilihan tersebut membuat keseluruhan penampilan terasa personal tanpa perlu mengubah karakter kebaya yang klasik. Sebuah kain lama mendapat tempat dalam cerita yang baru.
Kebaya Coral dengan Detail Kristal

Kebaya kutubaru Tunku Aishah hadir dalam siluet panjang dengan panel tengah yang menjadi ciri khas kutubaru. Warna coral memberikan kesan hangat, sementara brokat dan bordir membentuk permukaan yang kaya tekstur.
Detail yang paling mencuri perhatian adalah payet kristal tiga dimensi dalam warna coral, champagne, dan emas. Aksen tersebut memberi kilau pada kebaya sekaligus membuat tampilannya terasa lebih khusus untuk perayaan malam, tanpa menghilangkan bentuk tradisionalnya.
Kain Cinde kemudian menjadi elemen yang mengikat keseluruhan tampilan. Berbeda dari sekadar memilih kain untuk melengkapi kebaya, Tunku Aishah mengenakan kain yang telah lebih dulu menjadi bagian dari sejarah keluarganya.
Idris dalam Langenarjan dan Batik Sidomukti

Mendampingi Tunku Aishah, Muhammad Idris Ismail Yahya mengenakan Langenarjan koleksi pribadi dengan kain Batik Sidomukti antik.
Motif Sidomukti dikenal memiliki makna tentang harapan akan kehidupan yang sejahtera, mulia, dan penuh keberkahan. Pilihan tersebut membuat tampilan Idris tetap kuat dalam karakter busana Jawa, sekaligus selaras dengan kebaya dan batik yang dikenakan Tunku Aishah.
Keduanya hadir dalam busana yang berbeda, tetapi sama-sama berangkat dari tradisi. Tunku Aishah membawa kain keluarga ke dalam kebayanya, sementara Idris mengenakan kain antik dengan makna yang lekat dengan doa untuk kehidupan setelah pernikahan.
Tradisi di Pura Mangkunegaran

Busana tersebut kemudian menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang berlangsung di Pura Mangkunegaran. Prosesi diawali dengan perjalanan Idris bersama orang tuanya dari Prawedanan menuju Pendopo, sebelum menaiki kereta kuda Kyai Kasantosan, yang berarti kedamaian.
Sesampainya di Pendopo, rangkaian adat dilanjutkan dengan Tirto Wening, Gepyokan, dan Selindur. Perayaan kemudian disambut dengan Beksan Golek Montro dari Kawedanan Panti Budaya.
Kehadiran keluarga turut melengkapi momen tersebut, termasuk KGPAA Mangkoenagoro X dan kakak Tunku Aishah, GRAj Ancillasura Marina Sudjiwo.

Pada akhirnya, kebaya coral dan kain Cinde menjadi salah satu detail yang membuat penampilan Tunku Aishah terasa begitu dekat dengan cerita keluarganya. Bersama busana Idris yang berakar pada tradisi Jawa, keduanya membawa warisan yang sudah ada sebelumnya ke dalam sebuah hari yang menjadi milik mereka sendiri.