
Prancis dan ASEAN resmi meluncurkan Creative ASEAN, sebuah inisiatif kerja sama regional baru yang bertujuan untuk memperkuat kolaborasi di bidang seni, budaya, serta industri budaya dan kreatif. Bertempat di Wisma Duta Besar Prancis di Jakarta, program yang didukung oleh pendanaan ASEAN-France Fund ini diluncurkan untuk menyatukan berbagai inisiatif bilateral di bawah satu kerangka kerja regional yang terstruktur. Langkah strategis ini selaras dengan ASEAN Creative Economy Sustainability Framework guna menciptakan ekosistem kreatif yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Pilar Utama dan Inisiatif Unggulan di Kawasan ASEAN
Alfatika Aunuriella Dini, Direktur Innovation and Creativity Hub Universitas Gadjah Mada (UGM) yang menjadi kolaborator utama dalam Creative ASEAN ini, menekankan pentingnya wadah tersebut agar industri kreatif tidak lagi terasa eksklusif.
“Saya rasa dengan adanya Creative ASEAN ini menjadikan industri kreatif di Indonesia dan juga tentunya di ASEAN itu lebih inklusif. Kenapa? Karena bisa diakses dari multi-stakeholder. Bukan hanya profesional di bidang industri kreatif, tapi juga mahasiswa yang mungkin punya passion, dosen, dan penggiat kreatif di berbagai daerah,” ungkapnya.
Ia menguraikan pengalaman saat berkolaborasi dalam pameran Escape Numérique bersama Institut Français d’Indonésie yang berhasil menyedot hingga 70.000 pengunjung dan menjadi titik temu mahasiswa dari berbagai negara ASEAN. Menurutnya, banyak talenta berbakat di daerah memiliki potensi luar biasa, seperti para concept artist di Sleman yang menggarap proyek-proyek internasional dari Disney hingga Gameloft. Namun, mereka kerap kali belum mengetahui langkah awal untuk menembus industri.
Residensi Keliling, Pendekatan Ruang Berkarya Tanpa Sekat
Melalui model residensi keliling (itinerant tracks), seniman dapat melakukan riset di satu negara ASEAN, melanjutkan proses kreatif di negara anggota lain, lalu memamerkan karyanya di Prancis. Model dinamis ini mematahkan residensi konvensional yang statis sekaligus mendukung keberagaman media di era digital.
Program ini terbuka bagi seniman, kreator, dan profesional industri kreatif dari negara anggota ASEAN dan Prancis. Pendaftaran dibuka secara berkala melalui panggilan terbuka (open call) resmi di platform digital Creative ASEAN. Lewat platform tersebut, calon peserta dapat mengakses informasi program, syarat pendaftaran, rincian hibah (grants), hingga mekanisme seleksi secara transparan.
Semangat mobilitas ini tercermin dari partisipasi Alfatika dalam Future Leaders Initiative Program di Prancis. Diskusi bersama pengelola Centre Pompidou Paris menginspirasinya bahwa ruang berkarya kini bersifat borderless tanpa terbatas dinding galeri fisik. Pembelajaran ini diwujudkan lewat lokakarya di Yogyakarta yang melibatkan seniman Prancis dan pakar hukum UGM untuk mengeksplorasi pemanfaatan AI serta perlindungan hak kekayaan intelektual (IP) secara inklusif.
xxx
Peluncuran platform digital interaktif Creative ASEAN diproyeksikan menjadi pusat informasi jejaring, pemetaan creative hub, serta direktori profesional yang dapat diakses dengan mudah oleh seluruh pemangku kepentingan. Langkah ini tidak hanya meningkatkan visibilitas talenta lokal ke kancah global, tetapi juga membuka peluang kemitraan jangka panjang antara Asia Tenggara dan Eropa.
Teks : Bunga Aurelia
Editor : Mardyana Ulva