Dita Gambiro: Membangun Dunia, Membuka Cara Melihat

Dari production design hingga instalasi seni, Dita Gambiro terus membangun dunia yang mengajak kita melihat manusia, memori, dan lingkungan dari sudut yang berbeda.

Kalau film sering membuat penonton “menonton dari luar”, instalasi Dita ingin penonton masuk dan berpindah: menjadi saksi, menjadi outsider/insider, menjadi titik baca yang berbeda. Perbedaan posisi tersebut merangkum dua dunia yang selama ini dijalani Dita Gambiro. Sebagai production designer, ia membangun dunia untuk karakter yang hidup di dalam cerita. Sebagai seniman, ia membangun ruang yang justru meminta pengunjung mempertanyakan apa yang mereka lihat.

Dita bekerja dengan dua dunia yang memiliki logika waktu berbeda. Film memiliki durasi yang terbatas, sehingga ruang harus mampu menyampaikan karakter, suasana, dan informasi dalam tempo cerita. Seni rupa memberi waktu yang lebih lentur. Pengunjung dapat berjalan, berhenti, kembali melihat, mengambil posisi lain, dan menemukan makna yang bergeser bersamanya. Jika film menata dunia agar terbaca dan terasa sepanjang perjalanan cerita, instalasi Dita menata dunia agar dialami dari dalam.

Membangun Dunia untuk Cerita

Cara Dita memperhatikan lingkungan sebenarnya telah terbentuk sejak masa studinya di seni patung. Ia sempat mengeksplorasi berbagai material, termasuk rambut, sebelum menyadari bahwa ketertarikannya tidak berhenti pada objek. Dalam tugas akhirnya, ia membuat struktur menyerupai iglo berdiameter lima meter dengan bagian dalam dipenuhi rambut. Untuk memasukinya, pengunjung harus menunduk semakin rendah hingga merangkak.

Advertisement

“Orang dari sini harusnya jalan ke sini, terus apa, ya, yang mau dirasain orang?,” ujarnya. Dari sana, perhatian Dita terhadap pergerakan tubuh berkembang menuju pertunjukan, scenography, dan kemudian production design.

Di film, ia harus mengubah intuisi tersebut menjadi sistem visual yang mendukung cerita. Dalam film Penyalin Cahaya, misalnya, warna hijau dan kuning dikembangkan bersama Wregas Bhanuteja untuk membawa gagasan tentang rimba dan kepulauan Indonesia. Dalam Gadis Kretek, Dita bekerja bersama Kamila Andini melalui riset mendalam untuk membedakan masa lalu dan masa kini melalui warna, kemudian menerapkannya pada set, kostum, properti, hingga kemasan rokok.

Pengalaman tersebut berlanjut dalam film Empat Musim Pertiwi (2026). Bagi Dita, naskah yang tampak sederhana justru menyimpan banyak lapisan yang perlu dibongkar. Konsep penemuan, bahaya, batas, dan perlindungan menjadi beberapa gagasan yang membentuk dunia Pertiwi. Referensi lukisan serta bentuk-bentuk alam seperti tanah, akar, dan tumbuhan membantu membangun hubungan antara Pertiwi, tanah kelahirannya, dan proses kepulangannya.

Pekerjaannya juga menuntut kemampuan membayangkan kehidupan karakter sebelum cerita dimulai. Untuk film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga (2021), misalnya, ia merancang rumah seorang karakter lanjut usia dengan memikirkan sejarah bangunan, perubahan furnitur, bekas coretan anak, hingga bagian dinding yang mungkin aus karena sering tersentuh siku.

“Kalau tingginya segitu, enggak mungkin kotornya di dinding sebelah sini,” katanya.

Detail semacam itu membantu penonton mengenali seseorang tanpa harus diberi penjelasan panjang. Dalam durasi film yang terbatas, lingkungan menjadi bagian dari cara cerita memperkenalkan manusia yang tinggal di dalamnya.

Mempertanyakan Dunia dari Berbagai Sudut

Ketika kembali pada seni rupa, Dita tidak lagi harus membuat setiap keputusan bekerja secepat film. Ia dapat membiarkan pengunjung menghabiskan waktunya sendiri dengan karya. Ketertarikannya pada pengalaman tersebut kemudian bertemu dengan memori personal, terutama ketika ia mulai mengolah ingatan tentang perubahan kawasan Kebayoran setelah kerusuhan 1998.

Pada awalnya, Dita tidak menyebut peristiwa tersebut secara langsung. Ia memilih menghadirkan replika fasad, teralis, dan gagasan tentang batas. Namun ketika karya bertemu dengan publik, penonton justru menghubungkannya dengan 1998 dan membawa ingatan mereka sendiri ke dalam percakapan.

Dalam instalasi ArtJog, ia menggunakan teks dari berbagai kesaksian mengenai peristiwa tersebut dan menempatkannya sedemikian rupa sehingga apa yang terbaca bergantung pada posisi pengunjung. Seseorang dapat melihat teks tertentu dari satu sisi, tetapi kehilangan akses terhadapnya ketika berpindah ke sisi lain.

“Walaupun kejadiannya kita tahu atau mengalami hal yang sama, tapi belum tentu kita menerimanya sama,” ujar Dita.

Di sini, posisi tubuh menjadi cara untuk membicarakan posisi seseorang terhadap sejarah. Tidak ada satu sudut pandang yang dipaksakan sebagai jawaban. Pengunjung justru diajak menyadari bahwa pengalaman terhadap sebuah peristiwa turut dibentuk oleh tempat seseorang berdiri, apa yang ia lihat, dan apa yang tidak dapat ia akses.

Dari production design hingga seni rupa, perhatian Dita terus kembali kepada hubungan antara manusia, lingkungan, dan cara kita memahami sesuatu. Namun ketika ditanya apa yang ingin ia ciptakan untuk dirinya sendiri, jawabannya justru mengarah pada pembongkaran batas.

“Aku justru pengen mendobrak ruang menjadi tanpa sekat,” katanya. “Kayaknya punya ruang tanpa sekat yang bisa ngelihat tanpa batas kayaknya enak gitu.”

Setelah bertahun-tahun menciptakan dunia untuk karakter dan pengalaman untuk penonton, Dita membayangkan sesuatu yang lebih sederhana: kesempatan untuk melihat tanpa terlalu banyak pembatas. Barangkali di situlah arti making a life out of making things baginya. Terus membuat, bukan untuk menemukan satu jawaban final, melainkan untuk membuka cara baru dalam melihat manusia, ingatan, dan dunia yang kita huni.

Previous Post
YOUNG Restaurant

YOUNG x SU MA: Interpretasi Baru atas Hidangan Sehari-hari Korea

Advertisement
Sign in