
Masyarakat sering kali memiliki cara sendiri untuk mempertahankan keteraturan: mereka yang berbeda diminta menyesuaikan diri, sementara mereka yang menolak mengikuti aturan bersama perlahan ditempatkan di luar lingkaran. Mereka bisa disebut aneh, sulit, tidak waras, atau dianggap membawa masalah. Dalam situasi seperti itu, menjadi berbeda bukan sekadar persoalan identitas, tetapi juga dapat menentukan apakah seseorang masih merasa memiliki tempat untuk tinggal.
Persoalan tersebut menjadi napas penting dalam film Empat Musim Pertiwi, film terbaru karya sutradara Kamila Andini yang mengikuti perjalanan Pertiwi (Putri Marino), seorang perempuan yang kembali ke desa tempat ia dilahirkan setelah bertahun-tahun pergi. Di sebuah desa, di kaki pegunungan di Jawa, kepulangannya membuka kembali berbagai peristiwa yang selama ini terkubur, termasuk pengalaman kekerasan seksual yang dialaminya ketika masih remaja dan kasus pembunuhan yang kemudian membuatnya dipenjara.
Dalam budaya bermasyarakat di Indonesia, kata “pulang” biasanya membawa gambaran tentang rumah, keluarga, kehangatan, dan tempat untuk diterima kembali. Namun, Empat Musim Pertiwi justru mempertanyakan gambaran tersebut. Dalam percakapan dengannya mengenai film ini, Kamila Andini mengajukan pertanyaan yang terasa sederhana tetapi mengusik: “Kenapa yang berbeda harus pergi dan nggak bisa tinggal di tanah kelahirannya?”
Pertanyaan ini menjadi salah satu alasan mengapa Empat Musim Pertiwi layak masuk daftar tontonan. Berikut lima hal yang membuat film ini menarik untuk disaksikan.
1. Mengangkat Pengalaman Perempuan yang Sering Tidak Dipercaya
Salah satu kekuatan film ini terletak pada caranya menyampaikan pengalaman Pertiwi tanpa terburu-buru menjelaskan semuanya kepada penonton. Sejak adegan pembuka, ketika Pertiwi terbaring di rerumputan dengan napas berat, tubuhnya seolah lebih dahulu bercerita sebelum masa lalunya terungkap. Informasi tentang apa yang pernah dialaminya diberikan sedikit demi sedikit melalui dialog, gestur, visual, dan metafora.
Penonton kemudian diajak memahami betapa pengalaman kekerasan dapat menjadi semakin menyakitkan ketika seseorang tidak dipercaya. Pertanyaan tentang apakah kejadian tersebut benar-benar terjadi, bagaimana hal itu bisa dibuktikan, hingga keraguan terhadap cerita korban menjadi bagian dari pengalaman yang terasa akrab bagi banyak perempuan. Empat Musim Pertiwi tidak menjadikan trauma sebagai perangkat kejutan, melainkan memberi ruang bagi Pertiwi untuk perlahan mengambil kembali kendali atas kisahnya sendiri.
Kehadiran Raras (Hanna Aretha) pun memperkuat narasi ini. Raras adalah seorang remaja tunawicara, yang pengalamannya mengingatkan Pertiwi pada masa lalunya. Sebagai seseorang yang pernah berada dalam posisi serupa, Pertiwi mengenali rasa takut dan ketidakberdayaan itu. Ia kemudian memilih untuk hadir, menjadikan pengalaman pribadinya sebagai alasan untuk melindungi seseorang yang kini berada di tempat yang pernah ia tempati.
2. Para ‘Orang Buangan’ yang Saling Mengenali
Sosok Pertiwi tidak digambarkan sebagai satu-satunya orang yang berada di luar norma sosial. Di sekitarnya terdapat orang-orang yang dianggap berbeda oleh masyarakat, termasuk Mak Ira (Christine Hakim), pelacur tua yang buka warung makan untuk turis yang datang, dan sahabat Pertiwi sejak SMA, si Kuntet (Dwika Pradnyana) yang telah lama dipasung karena dianggap mengalami gangguan jiwa. Namun, dari sudut pandang penonton, label ‘buangan’ dan ‘aneh’ tersebut perlahan dipertanyakan.
Ada kesan bahwa yang dianggap ‘bermasalah’ justru adalah mereka yang tidak bersedia mengikuti aturan yang sudah ditentukan. Ketika masyarakat berusaha mempertahankan status quo, orang-orang yang mempertanyakan aturan tersebut dapat dengan mudah diberi label sebagai aneh, sulit, atau tidak sesuai.
Menariknya, film ini tidak perlu menjelaskan konsep non-conformity atau marginalisasi secara teoritis. Penonton cukup melihat seperti apa karakter-karakter tersebut diperlakukan dan merasakan ketidakadilan yang mereka alami. Para outcasts ini kemudian saling mengenali karena mereka memiliki pengalaman yang sama: pernah diminta pergi hanya karena tidak sesuai dengan apa yang dianggap normal.
3. Memberi Ruang bagi Perempuan untuk Membayangkan Keadilan
Pengalaman Pertiwi menjadi semakin kuat ketika ia bertemu dengan Raras (Hanna Aretha), seorang remaja tunawicara yang pengalamannya mengingatkan Pertiwi pada masa lalunya. Raras membawa pengalaman yang mengingatkan Pertiwi pada masa lalunya sendiri. Sebagai seseorang yang pernah berada dalam posisi serupa, Pertiwi mengenali rasa takut dan ketidakberdayaan itu tanpa membutuhkan banyak penjelasan.
Dari sini, film memberikan perempuan bahasa visual untuk pengalaman yang sering sulit diartikulasikan, terutama terkait kekerasan seksual, represi, dan kontrol. Penonton perempuan dapat melihat pengalaman yang selama ini hanya menjadi percakapan, ketakutan, atau kemarahan pribadi hadir dalam bentuk cerita yang dapat disaksikan bersama.
Film juga memberi ruang untuk membayangkan konsekuensi bagi orang-orang yang menyalahgunakan kekuasaan. Dalam kehidupan nyata, konsekuensi tersebut tidak selalu hadir dengan segera atau memberikan rasa keadilan yang utuh. Melalui sinema, Empat Musim Pertiwi memungkinkan penonton membayangkan sebuah dunia ketika mereka yang selama ini tidak tersentuh akhirnya harus menghadapi akibat dari tindakan mereka.
4. Mengolah Kemarahan melalui Realisme Magis
Ketegangan yang dibangun sepanjang film kemudian menemukan pelepasan melalui elemen magis dan budaya lokal. Salah satu yang paling mencolok hadir dalam adegan pertunjukan kuda lumping, ketika unsur supernatural mengambil alih situasi dan membawa konsekuensi bagi para pejabat yang datang ke desa.
Jika dibaca secara realistis, adegan tersebut memang terasa ganjil. Namun, Empat Musim Pertiwi memang tidak sepenuhnya bergerak dalam logika realisme. Kamila Andini memadukan realitas, budaya Jawa, simbolisme, dan magis untuk menyampaikan sesuatu yang sulit diwujudkan melalui kenyataan sehari-hari.
Selama film berlangsung, penonton diajak mengumpulkan kemarahan terhadap kekerasan, ketidakpercayaan, represi, dan penyalahgunaan kekuasaan. Ketika konsekuensi akhirnya datang melalui bentuk supernatural, adegan tersebut terasa seperti pelepasan. Kemarahan kolektif mendapatkan bentuknya sendiri.
5. Menawarkan Arti ‘Pulang’ yang Berbeda
Pada akhirnya, perjalanan Pertiwi kembali ke desa bukan sekadar perjalanan menuju tempat asal. Dalam konteks Indonesia, “pulang” sering diasosiasikan dengan keluarga, penerimaan, dan tempat untuk kembali menjadi diri sendiri. Namun, apa yang terjadi ketika tanah kelahiran justru menjadi tempat yang pernah menolak seseorang?
Pertanyaan tersebut membuat perjalanan Pertiwi terasa semakin personal. Ia kembali membawa luka, ingatan, dan pertanyaan yang belum selesai. Bersamaan dengan itu, ia bertemu dengan orang-orang lain yang juga mencari tempat di dalam dunia yang terus meminta mereka untuk menyesuaikan diri.
Film ini memang berbicara sangat dekat dengan pengalaman perempuan, tetapi ruang yang dibangunnya tidak eksklusif untuk perempuan. Justru karena Pertiwi memperlihatkan dunia dari pengalaman seorang perempuan, penonton laki-laki diberi kesempatan untuk melihat konsekuensi dari kekerasan, pembungkaman, dan ketidakpercayaan dari sisi yang mungkin selama ini tidak mereka alami sendiri. Pengalaman tersebut tidak perlu dialami secara langsung untuk dapat dipahami sebagai sesuatu yang menyakitkan dan tidak adil.
Empat Musim Pertiwi akhirnya tidak menawarkan dunia yang tiba-tiba menjadi adil. Film ini memberikan ruang untuk membayangkan keadilan: ketika pengalaman perempuan dipercaya, kekerasan memiliki konsekuensi, mereka yang berbeda tidak lagi dipaksa pergi, dan setiap orang memiliki hak untuk tetap tinggal di tanah yang mereka sebut rumah. Sebab, jika “pulang” seharusnya berarti kembali ke tempat yang menerima kita, film ini berani bertanya siapa yang selama ini dibuat merasa bahwa mereka tidak berhak pulang.