
Film Empat Musim Pertiwi mempertemukan Putri Marino dengan salah satu karakter paling kompleks dalam perjalanan aktingnya. Ditulis dan disutradarai Kamila Andini, yang sebelumnya menggarap Sekala Niskala (2017), Before, Now & Then (2022), serta mengadaptasi novel Gadis Kretek menjadi serial Netflix pada 2023, film ini mengikuti Pertiwi, perempuan yang kembali ke kampung halamannya setelah 20 tahun dan harus menghadapi kembali masa lalu, keluarga, serta luka yang membentuk hidupnya.
Memulai dari Titik Nol
Bagi Putri, Pertiwi terasa sangat jauh dari dirinya. Jika biasanya ia menemukan satu atau dua titik yang dapat dihubungkan dengan karakter yang diperankan, kali ini ia harus membangun pemahaman dari awal. “Pertiwi ini mungkin satu-satunya karakter yang paling kompleks. Dan sangat jauh berbeda dari Putri, dari diriku,” ujarnya dalam wawancara bersama DEWI pada Selasa (29/9/2026) di HK Studio, Jakarta Selatan.
Proses pendalaman dilakukan melalui workshop, reading intensif, diskusi, serta berbagai latihan untuk memahami dunia Pertiwi. Namun, satu bacaan kemudian menjadi kunci penting bagi Putri: Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi. Novel tersebut bercerita tentan sosok Firdaus, perempuan yang menuturkan perjalanan hidupnya dari balik penjara dan menghadapi berbagai bentuk kekerasan serta penindasan.
Perempuan yang “Mati” di Dalam
“Ini buku favorit saya sepanjang masa,” kata Putri. Menurutnya, Perempuan di Titik Nol membantunya memahami perjalanan hidup perempuan dan menyadari bahwa setiap tindakan memiliki sebab yang terbentuk dari pengalaman hidup seseorang. Bacaan tersebut juga membantunya mendekati kondisi batin Pertiwi, yang digambarkan masih mampu berjalan, bernapas, tertawa, dan merasakan emosi, tetapi telah ‘mati’ di dalam dirinya.
“Saya lumayan tertantang untuk menggali, bagaimana, ya, caranya untuk mengerti tentang orang yang rasanya ‘mati’, tapi dia masih hidup gitu,” ujarnya. Setelah membaca buku itu, Putri merasa menemukan pijakan emosional untuk memahami Pertiwi. “Buku itu sangat luar biasa karena bisa ngasih kita feeling. Oh, kayak gini ya rasanya. Kita bisa merasakan gitu. Jadi buku itu… chef kiss.”
Bagi Putri, perjalanan menuju Pertiwi akhirnya tidak berhenti pada memahami karakter, tetapi juga pada keberanian untuk melihat pengalaman seorang perempuan dari sudut yang berbeda. Dari sebuah naskah, latihan, dan satu buku yang begitu membekas, Pertiwi perlahan menemukan jalan untuk hidup melalui tubuh dan pengalaman Putri Marino.