
Forka Films merilis trailer dan poster resmi Empat Musim Pertiwi, film terbaru sutradara Gadis Kretek, Kamila Andini, yang akan menjalani world premiere di Toronto International Film Festival 2026 pada September ini sebelum tayang di bioskop Indonesia pada 8 Oktober. Film yang dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi ini mengikuti kepulangan seorang perempuan ke tanah kelahirannya setelah puluhan tahun pergi. Di sana, ia kembali bertemu dengan orang-orang yang pernah menjadi bagian dari berbagai fase hidupnya.
Bagi Dini, sapaan akrab sang sutradara, gagasan tentang empat musim sudah tumbuh sejak 2017, ketika ia berlibur bersama keluarganya di Bromo. Ia melihat lanskap kawasan tersebut seperti menyimpan tekstur empat musim, meski Indonesia tidak mengenal pergantian musim seperti itu.
“Di titik itu memang dulu ingin sekali cerita tentang empat musim kehidupan perempuan atau fase kehidupan perempuan,” ujarnya. Gagasan tersebut kemudian dikembangkan kembali pada 2023 hingga akhirnya menjadi film yang ia sebut sebagai sesuatu yang sangat berbeda dari karya-karya sebelumnya.
Empat Musim untuk Membaca Fase Kehidupan Perempuan
Dalam Empat Musim Pertiwi, perjalanan pulang menjadi pintu untuk membuka kembali pengalaman yang pernah membentuk sosok Pertiwi, yang diperankan oleh Putri Marino. Poster yang baru dirilis menampilkan wajah Pertiwi sebagai perempuan yang seolah telah melewati berbagai musim kehidupannya, sementara trailer memperlihatkan kepulangannya membawa kembali hubungan, kenangan, dan persoalan dari masa lalu.
Metafora musim kemudian terasa dekat dengan pengalaman perempuan yang hidup melalui perubahan yang tidak selalu berjalan secara linear. Ada masa ketika seseorang merasa sedang tumbuh, ada fase ketika hidup terasa kehilangan arah, dan ada saat ketika luka yang lama disimpan harus kembali dihadapi. Bagi Kamila, proses membawa gagasan tersebut ke layar pun tidak sederhana.
“Pada saat penulisan juga ada hal-hal yang membuat saya harus berhenti. Benar, nggak, ya saya mau menulis tentang ini? Kalau benar-benar mau menulis tentang ini, saya harus go all the way, harus push the boundaries,” katanya. Ia bahkan sempat ingin berhenti membuat film ini, sebelum akhirnya merasa bahwa cerita tersebut memang perlu diwujudkan.
Dari Bromo ke Toronto, Mencari Kekuatan di Tengah Ketidakadilan
Pilihan Bromo sebagai ruang cerita juga memberi Empat Musim Pertiwi hubungan yang kuat dengan lanskap Indonesia. Film ini akan mempertemukan kembali Dini dengan Putri Marino, dan Arya Saloka, tim yang sebelumnya bekerja bersama dalam Gadis Kretek. Film ini juga menghadirkan Dwika Pradnyana, aktor dengan vitiligo, serta Hanna Aretha, aktor tuli, sebagai bagian dari representasi keberagaman di dalam pemeran.
Namun, perjalanan Pertiwi tidak berhenti pada persoalan personal. Dini melihat kisah ini sebagai ruang untuk memikirkan berbagai bentuk ketidakadilan yang hadir di sekitar kita. “Di Indonesia itu ketidakadilan wajahnya banyak, bentuknya banyak,” ujarnya. Karena itu, film ini juga mengajak penonton mencari kembali kekuatan yang sebenarnya berada di sekitar mereka.
Film ini juga mengajak penonton mencari kembali kekuatan yang sebenarnya berada di sekitar mereka.
“Kalau kita berhadapan sama ketidakadilan itu rasanya kayak nggak tahu mau ngapain. Tapi sebenarnya kekuatan-kekuatan itu ada,” kata Dini. Kekuatan tersebut, menurutnya, bahkan bisa muncul dari sesuatu yang selama ini dianggap sepele atau disingkirkan oleh masyarakat.
Dengan world premiere di Toronto dan penayangan di Indonesia pada 8 Oktober, Empat Musim Pertiwi membawa perjalanan Pertiwi dari lanskap Bromo menuju penonton yang lebih luas. Empat musim yang menjadi metaforanya pun terasa seperti ajakan untuk melihat kehidupan perempuan sebagai rangkaian perubahan: tidak selalu indah, tidak selalu mudah, tetapi selalu menyimpan kemungkinan untuk menemukan kembali kekuatan yang sempat hilang.