
Kamasan adalah tentang cerita yang menolak menjadi masa lalu. Berakar dari lingkungan kerajaan Gelgel pada abad ke-16 dan berkembang di istana Klungkung, gaya lukis ini membawa mitologi, ritual, dan kosmologi Bali melalui bahasa garis, warna, dan gestur yang khas. Kini, jejak panjang tersebut dipertemukan dengan suara generasi masa kini dalam KAMASAN: The Noble Tradition of Balinese Painting, pameran temporer pertama SAKA Museum, AYANA Bali, Jimbaran
Alih-alih memandang Kamasan sebagai sesuatu yang telah selesai, pameran ini membacanya sebagai tradisi yang terus tumbuh. Lebih dari 30 karya dari akhir abad ke-19 hingga masa kini memperlihatkan perjalanannya, mulai dari kain ritual, karya pada daun lontar, kalender astrologi Palelintangan, hingga karya seniman yang membawa bahasa visual Kamasan ke persoalan yang lebih dekat dengan masa sekarang.
Dari istana ke kanvas masa kini

Kamasan mengambil namanya dari sebuah desa di Kabupaten Klungkung. Gaya ini berkembang di bawah pengaruh kerajaan Gelgel dan kemudian matang di lingkungan istana Klungkung. Ceritanya berakar pada Ramayana, Mahabharata, folklor Bali dan Jawa, serta mitologi dan kosmologi yang diterjemahkan ke dalam figur manusia, hewan, dan dewa. Mata berbentuk almond, tubuh memanjang, serta pengaruh wayang kulit membuat sosok-sosoknya mudah dikenali.
Namun, akar seni lukis Bali sendiri jauh lebih tua. Prasasti lempeng tembaga bertahun 1022 Masehi yang disimpan di Pura Puseh, Batuan, telah menyebut citrakara, atau pelukis. Kamasan kemudian menjadi salah satu cabang penting dari tradisi panjang tersebut, sekaligus bagian dari warisan yang pada 2015 diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Pemerintah Indonesia.
Saat pakem mulai berbicara dengan zaman

Dikuratori Farah Wardani dan Made Chandra, pameran ini menempatkan karya klasik dan kontemporer dalam satu alur. Bagi para seniman muda, pakem bukan hanya seperangkat aturan yang harus diwariskan, tetapi juga bahasa yang dapat dipertanyakan dan diperluas. Eka Sutha, misalnya, mempertemukan mitologi dan spiritualitas Bali dengan pendekatan pop collage, sementara Eka Mardys menghadirkan figur Kamasan dalam tafsir yang lebih futuristis. Karya-karya mereka menyentuh isu identitas, ekologi, teknologi, hingga ingatan tentang pandemi.
Perempuan, ritual, dan kesinambungan

Salah satu sorotan pameran hadir melalui Mangku Muriati, seniman Kamasan sekaligus pemangku pura. Ia menjadi perempuan pertama dari generasinya yang menjalankan kedua peran tersebut. Karyanya telah dipamerkan dalam Sharjah Biennial 2025 dan masuk dalam koleksi Australian Museum di Sydney serta Ibsen Museum di Oslo.
Kehadiran Muriati menunjukkan sisi lain Kamasan. Bukan hanya soal seni, tetapi juga ritual dan spiritualitas. Di tangannya, keduanya berjalan beriringan dengan kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, pameran ini mempertemukan dua zaman. Karya klasik membawa kita pada akar Kamasan. Sementara itu, para seniman kontemporer menunjukkan bagaimana bahasa visualnya dapat dibaca kembali melalui persoalan hari ini. Cerita lama pun menemukan cara baru untuk berbicara.
Teks: Cut Rashya Z.L Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo