Safe Space, Kebutuhan Emosional yang Semakin Penting di Era Modern
ICAD 16 “Being: Becoming”, Respons 40 Seniman terhadap isu sosial dan Memori Budaya

ICAD 16 “Being: Becoming”, Respons 40 Seniman terhadap isu sosial dan Memori Budaya

Meleburkan seni, desain, dan ruang publik di kawasan Kemang untuk merefleksikan identitas sekaligus memproyeksikan masa depan.
ICAD
Suasana perhelatan Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) edisi ke-16 bertajuk Being: Becoming di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, yang meleburkan ruang publik hotel menjadi instalasi seni dan desain interaktif.

Indonesian Contemporary Art and Design (ICAD) kembali digelar di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Bertempat di grandkemang Hotel, pameran edisi ke-16 ini mengusung tema kuratorial Being: Becoming untuk merespons kondisi saat ini sekaligus memproyeksikan kemungkinan masa depan. Dalam ruang-ruang hotel yang membaur dengan aktivitas publik, karya seniman lokal dan internasional melebur merespons ruang secara inklusif bersama para pengunjung.

“Tahun ini banyak hal baru. Selain fashion design dan konteks berbagai art, ada respons-respons terhadap ruang yang baru. Kita dapat 13 kamar yang nanti bisa ditengok, mulai dari fashion designer, fotografer, dan juga dari teman-teman komunitas,” ujar Diana Nazir, founder dan komite ICAD.

Diana menambahkan bahwa tema Being: Becoming mengajak peserta berefleksi tentang keberadaan saat ini dan melangkah ke masa depan. “Hasilnya sangat beragam dan memberikan entertainment serta education buat kita semua,” jelasnya.

Advertisement

Arsip Mode dan Refleksi Heart of Glass

ICAD (2)
Didi Budiardjo menghadirkan pameran retrospektif The Heart of Glass di ICAD 16 untuk menyuarakan krusialnya pusat informasi dan pengarsipan mode di Indonesia.

Di antara jajaran perupa yang berpartisipasi, perancang busana Didi Budiardjo menghadirkan instalasi khusus bertajuk The Heart of Glass. Di dalam ruang hotelnya, pameran retrospektif ini merespons pentingnya pengarsipan fashion di Indonesia yang dinilainya masih memerlukan perhatian serius.

“Kegalauan saya untuk pengarsipan fashion di Indonesia itu sudah saya suarakan lebih dari 15 tahun yang lalu, bahwa kita tidak punya pusat informasi tentang archive,” ungkap Didi Budiardjo.

Dalam instalasinya ini, ia mengurasi deretan material kaca, kristal, hingga ranjang antik abad ke-18. Kepada DEWI, ia menegaskan bahwa melalui arsip mode, generasi muda dapat belajar dan menatap masa depan dengan lebih baik.

Sinergi Ekosistem Menuju Distrik Desain

ICAD 16 juga menjadi medan diskusi hangat mengenai proyeksi kawasan Kemang sebagai distrik desain yang terintegrasi. Pemerintah daerah bersama para pelaku industri kreatif tengah merancang sinergi kolaboratif untuk menghidupkan koridor seni yang dapat dinikmati masyarakat secara luas. Jejaring antar-subsektor dan komitmen kolektif dipandang sebagai fondasi utama agar ekosistem kreatif di kawasan ini dapat tumbuh secara berkelanjutan.

Dialektika Being: Becoming dan Keberlanjutan Kreatif

Sorotan tema Being: Becoming juga mendapat sambutan dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, yang menilai gagasan ini memiliki kedalaman filosofis dan spiritual yang kuat.

“Ekonomi kreatif itu secara spiritual paling dekat sama hati dan paling dekat dengan makers. Creativity itu penting, tapi juga bagaimana kita mengizinkan diri kita menerima abundance supaya alirannya bisa terus mengalir. Kuncinya ada dua: entrepreneurship dan financial planning,” tuturnya.

Menurutnya, kemampuan menyampaikan karya ke khalayak luas menjadi krusial agar pesan yang diemban seniman dapat sampai dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.

Kehadiran ekosistem kolaboratif ini menjadi ruang pijak penting bagi dinamika industri kreatif tanah air. Pameran ICAD 16 berlangsung tanpa dipungut biaya di grandkemang Hotel, Jakarta Selatan, hingga 8 November 2026.

Previous Post
salihara -3

Safe Space, Kebutuhan Emosional yang Semakin Penting di Era Modern

Advertisement
Sign in