Menilik Singapura yang Lebih Teduh di Resorts World Sentosa

Lewat hotel-hotel dalam kompleks resort ini, Resorts World Sentosa menghadirkan sisi lain Singapura: lebih tenang, hijau, dan tenteram.
The Laurus, a Luxury Collection Resort at Resorts World Sentosa 1

Singapura mungkin senantiasa mengingatkan kepada metropolitan sejati: pencakar langit, dengan gemerlap cahaya urban dan semarak hiruk-pikuk yang pekak. Pun, di Resorts World Sentosa, kita diajak menilik sisi lain sang Negeri Singa: sebuah firdaus tropis yang lamban, tenang, nan tenteram. Dalam sebuah ekskursi, DEWI menjelajah pulau kebanggaan jiran kita ini.

Resorts World Sentosa: Singapura yang lebih teduh, lebih tropis

Resort World Sentosa – Aerial  (2)

Rindang berbayang perpohonan yang ditengarai kicau merdu burung penyanyi. Ombak yang malas-malas menyapu hamparan pasir putih. Hujan muson yang kadang datang, silih berganti dengan terik berangin-angin. Di Resorts World Sentosa, inilah yang senantiasa menyambut; mengingatkan kita akan marwah tropis Singapura.

Resorts World Sentosa berdiri di sudut Pulau Sentosa, salah satu pulau terbesar dalam gugusan kepulauan di perairan Singapura. Terpisah dari pulau utama, wilayah ini didedikasikan khusus untuk pariwisata dan konservasi alam. Topografi berbukit membuat lanskap panoramanya lebih kaya, dengan setapak melalui belantara tropis berpadu dengan pedestrian berhias bangunan bersejarah.

Advertisement

Resorts World Sentosa sendiri merupakan kompleks sanggraloka (resort) terbesar di pulau ini. “Terbesar” bukanlah sebuah hiperbola. Demikian luas kompleks ini, ia mencakup berbagai wahana. Taman hiburan dari studio perfilman dunia, Universal Studios Singapore; akuarium terbesar di Asia Tenggara, Singapore Oceanarium; taman air Adventure Cove Waterpark; pusat perbelanjaan mewah, Weave dan The Galleria; hingga kasino paling bonafit di Asia, RWS Casino.

Dengan berbagai destinasi, Resorts World Sentosa seakan tidak ingin membikin para tamu jemu. Matahari Singapura terbit lebih siang, dan begitu fajar menjelang, DEWI akan terbangun untuk jogging keliling pulau. Bahkan akses antar-sanggraloka pun tersambung mulus dengan jalur pejalan kaki dan monorel. Menyambut hari dengan bermain air di Pantai Palawan, DEWI akan kembali ke hotel untuk sarapan. 

WEAVE
Pusat perbelanjaan Weave, dengan tata ruang biofilik.

Sepanjang hari lantas dihabiskan dengan mengunjungi masing-masing atraksi–bermain di Universal Studios Singapore, menyaksikan seni instalasi di Oceanarium, bermain air di Adventure Cove Waterpark, atau sekadar berbelanja dan hangout di Weave. Begitu petang hari menjelang, DEWI akan kembali ke kamar untuk berganti busana, dan turun bersantap malam di andrawina fine dining pilihan Resorts World Sentosa. Sungguh 24 jam penuh tualang dan gaya yang tidak dinyana.

Dari arsitektur tropis kontemporer hingga terinspirasi Peranakan

Library Lounge
Lobi The Laurus, properti terbaru dalam Resorts World Sentosa.

Ini belum menghitung pusparagam hotel dan sanggraloka yang ada di Resorts World Sentosa. Sejumlah penginapan berdiri di kompleks ini, masing-masing dengan rancang bangun dan tema butik yang beraneka ragam.

Taruhlah The Laurus, misalnya. Resor teranyar di Resorts World Sentosa ini dirancang oleh firma arsitektur P49 Design dengan arsitektur terinspirasi gaya Peranakan. Kaca patri keemasan bersanding dengan teralis dekoratif gelap dalam bangunan yang mengelilingi kolam renang luas. Lobinya berhias mozaik emas berhias kakatua dan rama-rama. Kandelir berbentuk mahkota salam (laurel) bersanding langit-langit dengan panel kayu dan kipas angin. Bahkan sekadar duduk di lobi membuat diri merasa bak nyonya Peranakan yang menyemarakkan skena sosial Asia Tenggara pada abad ke-sembilan belas.

Sementara The Equarius menjulang di antara teduh cemara dan kolam-kolam air. Penginapan ini memiliki rancang bangun tropis. Villa-nya mengelilingi sebuah danau buatan penuh dengan eceng gondok dan ilalang akuatik. Menariknya, The Equarius memiliki suite eksklusif yang terhubung dengan Oceanarium. Di Ocean Suite, ketika jendela singkap di hadapan tempat tidur dibuka, yang menyambut adalah panorama bawah laut. Rasanya nyaman sekali termangu berjam-jam untuk menyaksikan gerombolan ikan keperakan berenang-renang, sementara ikan pari manta melayang malas.

Bahkan Hotel Ora, yang dirancang untuk pelancong bisnis, masih menawarkan kenyamanan Singapura. Lobi hotel yang lengang menjadi ruang kerja mewah bagi nomaden digital. Meja coworking dengan colokan listrik berdampingan dengan bar penuh pastri yang harum mewangi. Dinding kaca menyajikan pemandangan jalan utama Resorts World Sentosa yang hijau dan penuh bunga. Meskipun tamu berlalu-lalang, privasi dan ketenangan terjaga apik. Sebuah work-life balance yang langka.

Masih terdapat Crockfords Hotel dan Hotel Michael di kompleks ini. Seluruh hotel ini sambung-menyambung satu sama lain. Kebanyakan berada di dalam ruangan, seperti The Galleria dan Weave. Selain itu, terdapat shuttle bus yang membantu pelancong menikmati jalanan Resorts World Sentosa. Lebih-lebih, semua pelancong dapat sarapan di hotel-hotel dalam Resorts World Sentosa. Tamu tidak terpaku ke satu pengalaman, tetapi diundang menjelajah pusparagam pelesir yang dihadirkan.

Menyongsong fajar baru Resorts World Sentosa

WEB HERO HEADER (14)

Sanggraloka ini seakan berbenah menyongsong fajar baru. Dalam sebuah makan malam istimewa, DEWI berbincang dengan Chen Si, Chief Operating Officer, Resorts World Sentosa. Chen memahami bahwa lanskap pelesir dunia tengah berubah. Semua orang, kini, mencari pengalaman baru yang lebih terkurasi dan personal. Pelancong Indonesia tidak ketinggalan. 

“Seiring kami terus menyambut wisatawan dari Indonesia dan kawasan sekitarnya, RWS terus berkembang untuk menghadirkan lebih banyak pengalaman bagi keluarga, sahabat, dan wisatawan dari berbagai generasi,” jelas Chen.

Resorts World Sentosa tengah menyiapkan sejumlah pembangunan teranyar. Perluasan kawasan pesisir dan pelabuhan, dihubungkan dengan akses transportasi umum, akan memudahkan pelancong dari pulau utama Singapura. Sementara itu, sejumlah arsitektur baru menggunakan pendekatan biofilik, sehingga pengunjung secara harfiah dapat hiking mendaki bangunan hotel.

“Mulai dari penemuan baru dan atraksi imersif hingga pelayanan berkualitas, kuliner, dan hiburan kelas dunia, kami ingin setiap pengunjung menemukan alasan baru untuk eksplorasi, terhubung, dan menciptakan kenangan di RWS,” ujar Chen.

Piring-piring sajian telah bersih, gelas-gelas koktail telah tuntas. Saya kembali ke kamar, menapaki koridor The Laurus yang kini lengang, nyanyian alam berdengung mengisi seantero hutan. Dari balkon kamar, saya menatap gemerlap Universal Studios Singapore yang berpendar. Di baliknya, sebuah selat pelabuhan, dan lebih jauh lagi, pencakar langit Singapura. Akan tetapi, dunia masih tetap hening dan tenang di Resorts World Sentosa. Saya segera lelap, menanti rekah pagi yang cerah dan hangat.

Previous Post
ICAD

ICAD 16 "Being: Becoming", Respons 40 Seniman terhadap isu sosial dan Memori Budaya

Advertisement
Sign in