
Perairan Indonesia menyimpan lebih dari sekadar kekayaan alam. Di balik sungai, danau, rawa, hingga bentang pesisirnya, tersimpan tradisi kuliner yang tumbuh bersama kehidupan masyarakat setempat. Melalui Blue Food, The Dharmawangsa Jakarta berkolaborasi dengan NUSA Gastronomy untuk merayakan keragaman tersebut sekaligus mengajak masyarakat mengenal pangan perairan yang bergizi dan bersumber secara berkelanjutan. Program ini berlangsung pada 12 hingga 31 Oktober 2026 sebagai bagian dari upaya mendukung inisiatif Wonderful Indonesia Gastronomy (WIG).
Membaca Kekayaan Perairan Lewat Kuliner
Pangan biru atau Blue Food merujuk pada bahan pangan yang berasal dari ekosistem perairan, baik air tawar maupun laut. Lebih dari sekadar hidangan laut, konsep ini membuka ruang bagi beragam bahan lokal yang selama ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia. Di saat yang sama, pemanfaatannya secara bertanggung jawab menjadi penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan keberlanjutan sumber pangan bagi generasi mendatang.
Dalam kolaborasi ini, Chef Eksekutif Julio dari The Dharmawangsa Jakarta dan Chef Ragil Imam Wibowo dari NUSA Gastronomy Foundation merangkai kekayaan bahan pangan perairan Indonesia ke dalam pengalaman bersantap yang berangkat dari tradisi lokal. Terinspirasi oleh nelayan dan komunitas pesisir, keduanya mengangkat bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat menjadi sajian dengan pendekatan gastronomi yang lebih kontemporer.
Membawa Cerita Bahari ke Meja Bersantap

Pengalaman utama Blue Food hadir melalui jamuan makan malam berkonsep pasar yang berlangsung setiap hari pukul 18.00 hingga 21.00 di Jakarta Restaurant dan The Courtyard. Ruang bersantap ditata menyerupai pasar hasil perairan tradisional Indonesia, lengkap dengan sejumlah stan kuliner interaktif yang menghadirkan ragam cita rasa dan bahan pangan dari berbagai daerah.
Nuansa tersebut diperkuat oleh interior yang memadukan elemen alam dengan identitas Nusantara. Instalasi yang diangkat dari Museum Bahari turut menghadirkan narasi tentang warisan maritim Indonesia, menghubungkan pengalaman bersantap dengan sejarah panjang masyarakat yang hidup berdampingan dengan perairan. Kehadiran elemen visual ini membuat kekayaan pangan biru tidak hanya hadir melalui sajian, tetapi juga melalui suasana ruang yang mengajak pengunjung mengenali hubungan antara alam, budaya, dan tradisi kuliner.
Pilihan hidangannya dibagi ke dalam empat kategori. Stan air tawar mengangkat sajian seperti Ikan Naniarsik dari Samosir, Bakwan Ikan Nike dari Gorontalo, dan Gabus Pucung khas Betawi. Sementara itu, kekayaan laut pesisir hadir melalui Ikan Rabe Rabe dari Ternate, Godok Bada dari Pariaman, serta Ikan Jebong Bakar dari Belitung.
Menyelami Karakter Rasa dari Papua hingga Buton


Di antara ragam sajian yang dihadirkan, Oyster Noorhasori dari Papua dan Tumis Pedas Kaumbai dari Buton memperlihatkan keunikan bahan pangan perairan Indonesia melalui pendekatan yang berbeda.
Oyster Noorhasori menarik perhatian lewat tiram yang ditimpa sagu, mempertemukan hasil laut dengan bahan pangan yang lekat dengan tradisi masyarakat Papua. Sementara itu, Tumis Pedas Kaumbai mengangkat sea urchin atau bulu babi dengan sentuhan pedas khas Buton. Olahan ini menyimpan kejutan pada karakternya yang menghadirkan cita rasa menyerupai tape, menambah dimensi rasa yang tak terduga dalam eksplorasi pangan biru.
Kedua sajian ini memperlihatkan bahwa kekayaan pangan perairan Indonesia tidak hanya terletak pada keragaman bahan, tetapi juga pada cara setiap daerah membangun identitas kulinernya. Dari perpaduan tiram dan sagu di Papua hingga olahan bulu babi di Buton, setiap hidangan membawa cerita tentang bahan lokal, tradisi, dan hubungan masyarakat dengan lingkungan perairan yang menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Menemukan Cerita di Balik Pangan Perairan

Dengan konsep pasar, setiap stan menyuguhkan ragam bahan dan olahan dari daerah yang berbeda, mulai dari ikan air tawar hingga hasil laut dan rumput laut. Pengalaman ini memperlihatkan bahwa kuliner perairan Indonesia jauh lebih beragam daripada yang kerap kita bayangkan.
Ada sesuatu yang menarik ketika makanan tidak hanya dipandang dari apa yang tersaji di atas piring, tetapi juga dari asal-usulnya. Nama-nama hidangan yang membawa identitas daerah masing-masing menjadi pengingat bahwa tradisi kuliner tumbuh dari hubungan masyarakat dengan lingkungan tempat mereka hidup.
Melalui Blue Food, kekayaan perairan Indonesia hadir sebagai cerita yang dapat dikenali lewat rasa, tradisi, dan pilihan bahan pangan. Inisiatif ini sekaligus mengingatkan bahwa merayakan kuliner Nusantara tidak berhenti pada pelestarian resep, tetapi juga mencakup kepedulian terhadap ekosistem yang menopang keberlangsungannya.
Teks: Cut Rashya Z.L Shiddiqie
Editor: Akib Aryo Utomo
