CHANEL Spring/Summer 2027 Menyusuri Waktu, Merayakan Kebebasan

Matthieu Blazy menelusuri berbagai wajah Gabrielle Chanel melalui arsip, tailoring, dan gagasan tentang kebebasan di Chanel Spring Summer 2027

4

Ada perjalanan yang tidak bergerak lurus. Ia kembali menoleh ke belakang, menilik jejak yang telah dilalui, untuk menemukan kemungkinan yang belum selesai. Demikianlah CHANEL Spring Summer 2027 membaca kembali kehidupan Gabrielle Chanel: bukan sebagai masa silam yang beku dalam arsip, melainkan sebagai perjalanan yang terus bergerak, berubah, dan menemukan bentuk baru.

Dipersembahkan Matthieu Blazy di Grand Palais, Paris, koleksi ini menelusuri babak demi babak kehidupan Gabrielle Chanel, sekaligus evolusi gagasannya tentang perempuan. Dari korset era Edwardian yang pernah membatasi tubuh, hingga pembebasan melalui tailoring yang kemudian menjadi bahasa khas Chanel, perjalanan tersebut menemukan satu benang merah: kebebasan.

5

Gagasan “the women within a woman” menjadi poros perenungan. Sebab perempuan tidak pernah hadir sebagai satu rupa semata. Di dalam dirinya bersemayam beragam watak, hasrat, pengalaman, dan kemungkinan. Maka, busana pun dibiarkan bertransformasi, berpindah rupa, melampaui batas waktu. Masa silam bersua dengan masa kini; masa kini membuka jalan menuju masa mendatang.

Advertisement

Di sinilah Blazy memperlakukan arsip bukan sebagai peninggalan, melainkan sebagai bahan bakar pembaruan.

2

Tweed, salah satu penanda paling lekat dengan Chanel, memperoleh tafsir baru melalui smocked tweed, konstruksi elastis yang memungkinkan material bergerak mengikuti tubuh. Struktur yang semula dapat membatasi justru dilenturkan menjadi ruang gerak. Tailoring hadir lebih lapang, lapisan busana terasa ringan dan cair, sementara rok transparan, kilau, warna-warna berani, serta tweed bermotif harimau memperluas kosakata maison tanpa memutus pertaliannya dengan masa lalu.

6

Kebebasan itu pun hadir secara simbolis melalui burung dan camar yang memenuhi lanskap pertunjukan. Di Grand Palais, suasana menyerupai suaka burung menjadi latar bagi perjalanan koleksi, menghadirkan gagasan tentang gerak, migrasi, dan kebebasan untuk terbang tanpa batas.

Bahkan suara turut membawa penonton melintasi waktu. Pada runut bunyi pertunjukan, Nicole Kidman membacakan penggalan Orlando karya Virginia Woolf, sebuah karya tentang waktu, perubahan identitas, dan fluiditas gender. Pilihan tersebut memperdalam gagasan bahwa diri manusia tidak pernah sepenuhnya statis: ia berubah bersama waktu, pengalaman, dan cara ia memandang dirinya sendiri.

Namun, di tengah seluruh pergerakan itu, satu benda membawa Chanel kembali kepada titik asal.

3

Pertunjukan dibuka dan ditutup dengan tas 2.55 milik pribadi Gabrielle Chanel, dibawa oleh model Dyanira Hurbuscher langsung dari arsip maison. Sebuah gestur sederhana, tetapi sarat makna. Masa lalu tidak dipamerkan sebagai nostalgia; ia hadir sebagai ingatan yang terus bekerja.

Sebab bagi Chanel, warisan bukanlah perkara mengulang apa yang telah ada.

Warisan adalah keberanian untuk membebaskan apa yang telah ada, lalu membawanya menuju kemungkinan yang baru.

Masa silam. Masa kini. Masa mendatang. Tiga waktu bertemu dalam satu tubuh, satu busana, satu perjalanan. Dan di antaranya, seorang perempuan terus berubah, tanpa pernah kehilangan dirinya.

Previous Post
DEWI Website Terbaru (3)

Mirelle Aurellia Menorehkan Debut Global di Chanel Spring Summer 2027

Next Post
LUNGSARA

Tenun dalam Wajah Masa Kini: Cita Tenun Indonesia Mempersembahkan LUNGSARA bersama Tiga Jenama Muda

Advertisement
Sign in