East of Eden: Haruskah Kita Membenci Cathy Ames?

Di tangan Florence Pugh, sosok Cathy Ames terasa seperti seorang perempuan yang mengambil keputusan dengan caranya sendiri, sekalipun keputusan-keputusan itu kejam dan sulit dibenarkan.
Florence Pugh – East of Eden (1)
Haruskah kita membenci Cathy Ames? Florence Pugh membuat pertanyaan itu semakin sulit dijawab dengan menghadirkan perempuan yang menolak menjadi istri, ibu, atau milik siapa pun, tanpa harus menjadikannya perempuan yang baik untuk membuat kita memahami dirinya.

Cathy Ames (diperankan oleh Florence Pugh) bukan perempuan yang mudah dimasukkan ke dalam cetakan yang tersedia untuk perempuan pada zamannya. Ia cantik, tetapi tidak menggunakan kecantikannya untuk mengejar kehidupan sebagai istri yang baik. Ia cerdas, tetapi tidak memilih pendidikan sebagai jalan menuju kemandirian.

Sejak muda, Cathy justru menolak laki-laki yang berusaha mengatur, memiliki, atau menentukan hidupnya. Dalam East of Eden yang tayang di Netflix , karakter yang diperankan Florence Pugh ini membuat kita berhadapan dengan pertanyaan yang membuat kita tak nyaman daripada sekadar apakah ia perempuan baik atau jahat: haruskah kita membenci Cathy Ames?

Cathy Ames, Perempuan yang Menolak Menjadi Milik Siapa Pun

Dalam serial Netflix, perjalanan Cathy memperlihatkan bagaimana penolakannya terhadap kehidupan konvensional berkembang menjadi strategi bertahan hidup. Ia berpindah dari satu rumah bordil ke rumah bordil lain, lalu menikahi Adam Trask (Christopher Abbott) bukan karena menemukan kehidupan domestik yang diinginkannya, melainkan karena pernikahan tersebut menawarkan jalan keluar.

Advertisement

Setelah melahirkan anak kembar, Cal dan Aron, ia menembak Adam, meninggalkannya bersama kedua anak mereka, lalu membangun identitas baru sebagai Kate di rumah bordil milik Faye (Martha Plimpton). Bayangkan!

Secara moral, sulit membela keputusan-keputusan tersebut. Namun Florence Pugh tidak memainkan Cathy sebagai perempuan yang meminta penonton memaafkannya. Ia justru membuat kita memahami seorang perempuan yang memiliki kehendak sendiri, bahkan ketika kehendak itu membawa konsekuensi yang kejam.

Menariknya, ini bukan pertama kali Florence memainkan perempuan yang menolak peran konvensional. Sebagai Amy March dalam Little Women, ia menghadirkan perempuan yang memahami bahwa pernikahan juga merupakan persoalan ekonomi. Dalam Lady Macbeth, ia memainkan perempuan yang berusaha merebut kembali kendali atas hidupnya dari sebuah perkawinan yang menjadikannya bagian dari kepemilikan laki-laki. Sosok Cathy, pada akhirnya, terasa seperti perkembangan paling ekstrem dari karakter-karakter tersebut.

East of Eden, Salah Satu Karya Paling Personal John Steinbeck

Diterbitkan pada 1952, East of Eden merangkum hampir seluruh DNA kepengarangan John Steinbeck: tanah, keluarga, kemiskinan, manusia biasa, ambiguitas moral, mitologi Alkitab, dan harapan yang terus bertahan. Kisah keluarga Trask dan Hamilton juga sangat personal bagi Steinbeck, yang membawa Salinas Valley, tempat ia tumbuh, ke dalam novel yang ia bayangkan sebagai warisan untuk anak-anaknya.

Di tengah warisan keluarga, dosa, dan pilihan moral itulah Cathy berdiri sebagai karakter yang sulit dipahami secara hitam-putih. Kita tidak harus menyetujui Cathy untuk memahami mengapa ia memilih hidup dengan caranya sendiri. Dan lewat Florence Pugh, East of Eden memberi kita alasan untuk terus melihatnya, bahkan ketika kita tidak tahu apakah harus membenci atau memahaminya.

Florence Pugh tentang Perannya

Florence Pugh – East of Eden (2)
Perempuan tidak harus baik untuk layak dipahami. Florence Pugh membawa gagasan itu ke dalam East of Eden lewat Cathy Ames, karakter yang sulit dicintai, sulit dibenarkan, tetapi sulit pula untuk kita lihat sebagai sekadar perempuan jahat.

Dalam novel, Cathy diperkenalkan dengan citra yang jauh lebih dekat pada “monster” daripada perempuan yang dapat dipahami. Namun, adaptasi Zoe Kazan ini memilih membuka lipatan karakter tersebut. Zoe secara eksplisit mengatakan kepada Netflix bahwa ia ingin Cathy menjadi manusia, bukan sekadar arketipe, dan bahwa pengembangan karakternya tetap berakar pada teks Steinbeck. Satu visi dengan Zoe, Florence sendiri pun mengatakan dukungannya tentang ‘memberi kesempatan’ pada sosok Cathy.

“Salah satu hal yang saya banggakan adalah kemampuan untuk memberi kesempatan kedua kepada karakter-karakter yang tidak disukai,” ujar Florence, yang juga bertindak sebagai produser eksekutif serial ini.

“Ini memberi saya kesempatan untuk mencoba memahami karakter-karakter tersebut, memahami alasan di balik keputusan yang mereka ambil, berempati kepada mereka, dan memberi ruang agar kisah mereka dapat dilihat lebih luas daripada sekadar fakta bahwa pada suatu titik dalam hidupnya, mereka pernah membuat keputusan yang jahat,” pungkasnya.

***

Kisah yang dituturkan dalam bentuk novel dan adaptasinya dalam format film tampaknya membuat sosok Cathy ini punya nuansa yang berbeda. Meski demikian, rasanya kedua bentuk bercerita ini sama-sama menggambarkan sosok Cathy sebagai perempuan yang berbeda dari yang diharapkan oleh masyarakat. Rasanya akan lebih mudah untuk menyebutnya “Perempuan gila!” dengan penuh amarah, ketimbang memahaminya ‘dari perspektif yang berbeda’. Namun, jika Anda sudah sempat mengikuti kisahnya (baik di novel maupun versi mini series), akankah Anda memilih untuk membencinya?

Previous Post
The Modern Menu_2

“Future of Food APEC 2027” Marriott International: Mengintip Cara Kita Bersantap di Masa Depan

Advertisement
Sign in