Hian Tjen untuk DEWI Fashion Knights 2026: Interpretasi Baru Kebaya melalui Koleksi “Anyar”

"Anyar", koleksi terbaru Hian Tjen untuk DEWI Fashion Knights mengeksplorasi kembali siluet kebaya melalui konstruksi modern dan material khas Indonesia.
2
Songket Sambas, kayu pahatan, kerang, dan batu alam diolah melalui proses eksperimental. Melalui koleksi ini, Hian mempertemukan warisan busana Indonesia dengan perspektif kontemporer, sekaligus memperlihatkan ketelitian craftsmanship yang menjadi identitas desainnya.

Nama Hian Tjen telah menjadi salah satu bagian penting dalam lanskap mode Indonesia, khususnya melalui karya couture dan busana pengantin yang dikenal akan siluet feminin, detail rumit, serta pengerjaan tangan yang presisi. Lulusan ESMOD Jakarta ini memulai kariernya di industri mode pada 2003 sebelum mendirikan label atas namanya sendiri pada 2008. Sejak itu, ia membangun identitas desain yang bertumpu pada keanggunan, konstruksi modern, dan eksplorasi craftsmanship. Perjalanannya juga membawanya ke panggung internasional, termasuk Milan Fashion Week pada 2020 dan Arab Fashion Week pada 2022.

Di DEWI Fashion Knights 2026, Hian kembali mengeksplorasi karakter desainnya melalui koleksi bertajuk Anyar, yang dalam bahasa Indonesia berarti sesuatu yang baru. Kali ini, ia mengambil siluet kebaya sebagai titik berangkat, lalu menerjemahkannya melalui konstruksi, material, dan teknik pengerjaan yang berbeda dari bentuk kebaya yang lazim dikenal. Hasilnya adalah pertemuan antara elemen tradisional dan ekspresi modern yang tetap membawa karakter khas Hian Tjen.

Anyar: Membaca Ulang Siluet Kebaya

Dalam koleksi ini, siluet kebaya hadir melalui pendekatan yang lebih kontemporer. Hian memadukan bagian atas busana dengan bentuk kebaya dan memasangkannya dengan celana berpotongan modern. Pada tampilan lain, siluet rok ramping yang menjadi salah satu elemen koleksi diperkaya dengan belahan untuk menghadirkan kesan feminin dan sensual. Ia ingin menciptakan busana yang tetap memiliki identitas kebaya, tetapi dapat dikenakan oleh perempuan dengan selera dan gaya hidup masa kini.

Advertisement

Eksplorasi tersebut juga terlihat melalui pemilihan material. Hian menggunakan kain songket Sambas dengan motif yang dirancang khusus dan ditenun untuk koleksi ini. Sebagian kain kemudian dipadukan dengan teknik pengerjaan khas atelier Hian Tjen, sementara elemen lainnya diolah menjadi busana dengan konstruksi yang lebih modern. Ada pula penggunaan unsur kayu Indonesia yang dipahat menjadi bentuk menyerupai bustier, kemudian dipadukan dengan selendang berbahan velvet. Perpaduan ini menghadirkan karakter lokal melalui material dan detail, sementara keseluruhan siluet tetap terasa kontemporer.

Craftsmanship yang Dimulai dari Nol

Salah satu aspek yang paling menonjol dari Anyar terletak pada proses pengerjaannya. Bagi Hian, koleksi ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan memilih material yang sudah tersedia lalu mengolahnya menjadi busana. Sebagian besar elemen justru dikembangkan dari awal, mulai dari pembuatan motif, pengolahan bahan, hingga teknik dekoratif yang diterapkan pada setiap tampilan.

Songket Sambas menjadi salah satu proses yang paling menantang. Bersama timnya, Hian mengembangkan motif dengan komposisi yang berbeda dari pola songket konvensional yang umumnya simetris. Ia menginginkan susunan motif yang berpusat pada bagian tertentu, sehingga diperlukan serangkaian percobaan dan penyempurnaan selama kurang lebih satu tahun hingga teknik tersebut berhasil diwujudkan.

Mencipta Karakter Kebaya Baru

Eksplorasi material juga terlihat melalui penggunaan kerang yang dipecah menjadi bagian-bagian kecil, kemudian dipasang satu per satu pada permukaan busana. Batu alam dipotong menjadi kepingan tipis sebelum diaplikasikan sebagai ornamen, sementara kayu dipahat dan dibentuk menjadi elemen struktural. Beberapa detail tersebut dipadukan dengan teknik beading dan konstruksi khas Hian Tjen. Setiap material membutuhkan perlakuan tersendiri, menjadikan proses pengerjaan koleksi ini sebagai rangkaian eksperimen yang panjang.

Bagi Hian, pendekatan tersebut merupakan cara untuk menghadirkan kebaya dengan karakter yang belum banyak dieksplorasi olehnya. Ia ingin mempertahankan identitas siluetnya, tetapi memperkaya bentuknya melalui teknik dan material yang tidak biasa. Pada tampilan akhir di atas panggung, unsur tradisional mungkin hadir secara subtil, namun detail pengerjaan dan konstruksi busananya menyimpan proses eksplorasi yang jauh lebih mendalam.

Melalui Anyar, Hian Tjen kembali menunjukkan bagaimana identitas desain dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar kreativitasnya. Kebaya menjadi ruang eksplorasi bagi siluet dan teknik baru, sementara songket Sambas, kayu, kerang, dan batu alam menghadirkan kekayaan material yang diolah dengan ketelitian couture. Sebuah interpretasi yang mempertemukan warisan busana Indonesia dengan perspektif modern, sekaligus memperlihatkan perjalanan seorang desainer yang terus mencari kemungkinan baru dalam berkarya.

***

Presentasi Hian Tjen bertajuk “Anyar” ini merupakan bagian dari DEWI Fashion Knights 2026, perhelatan tahunan Majalah DEWI yang tahun ini menandai perjalanan 35 tahun dalam mendokumentasikan perkembangan gaya hidup, budaya, dan mode Indonesia. Diselenggarakan di Museum Nasional Indonesia pada 2 November 2026 sebagai salah satu momen puncak sekaligus penutup Jakarta Fashion Week 2027, DFK menghadirkan lima desainer dan label terpilih melalui tiga format presentasi, yakni runway, pameran, dan living mannequin. Melalui kurasi tim editorial DEWI bersama panel pakar mode, perhelatan ini memberikan apresiasi kepada para ksatria mode Indonesia atas visi kreatif, keunggulan keterampilan, karakter estetika, serta kontribusi mereka bagi perkembangan industri mode nasional.

Previous Post
1

ANW untuk DEWI Fashion Knights 2026: Eksplorasi Cahaya, Refleksi, dan Bayangan

Next Post
3

Studio Jeje Homme untuk DEWI Fashion Knights 2026: Wahyu Keprabon, Dialog Tradisi Jawa dan Tailoring Eropa

Advertisement
Sign in