Di ruang yang menolak beku, Le Temps d’un Instant membuka tirai kolektif: setiap detik adalah napas, setiap pandang menjadi saksi. Momen yang rapuh terasa, diselami, dan sekaligus telah melangkah ke masa depan.
Di antara tekstur, gambar, dan pengalaman yang menyentuh indera, karya-karya ini mengajak kita menafsir ulang waktu, instan, dan kefanaan yang melekat pada setiap tarikan napas. Bukan sekadar bentuk, melainkan pertanyaan dan bisik yang mengundang kita berhenti sejenak di tepi waktu.

Perjalanan ini diwarnai tangan-tangan kreatif: Linkan Palenewen, Julien Bernard, Anté Serge Michel, Tiroceli, Viknes Waren, Nino Filiu, dan Arthur Amrouche. Masing-masing menyulam realitas menjadi fragmen, menjahit waktu menjadi narasi yang bisa disentuh dan dirasakan. Kurasi @iscia__ menuntun pengunjung menelusuri lorong sensitif antara momen dan makna, hadir dan lenyap, di Espace Sylvia Rielle × Blue Monster Gallery. Vernissage digelar Rabu, 4 Februari, pukul 19.00–22.30, di 10 Place des Vosges, Paris.
DEWI menyoroti karya Viknes Waren & Linkan Palenewen

Viknes Waren: Spektrum Mimpi
Viknes Waren lahir di Bandar Lampung pada tahun 2000, adalah seniman muda sekaligus model. Dari potret realistis, ia beralih ke akrilik yang ekspresif dan kaya simbol. Praktiknya melintasi lukisan, tekstil, dan keramik secara intuitif dan eksperimental, menghadirkan figur manusia, warna vibran, dan nuansa onir yang mengajak menyelami kerentanan serta kelembutan.

Linkan Palenewen: Tubuh dan Identitas
Linkan Palenewen menapaki seni Bali sebelum pameran perdananya di Prancis. Karyanya menelisik tubuh dan identitas melalui refleksi sensitif tentang gender dan konstruksi sosial. Berawal dari fokus pada perempuan dan femininitas, ia mencapai titik balik lewat Nipple Series menyatukan identitas perempuan dan laki-laki dalam satu bentuk, menghadirkan bahasa visual yang memantik refleksi tentang kemanusiaan.

Le Temps d’un Instant bukan sekadar pameran; ia adalah undangan untuk meresapi, memahami, dan membiarkan diri terseret dalam aliran waktu yang lembut namun sarat jejak.
Ditulis oleh Rd. Andandika Surasetja, berdasarkan reportase koresponden DEWI di Paris, Hanisa Murti