
Film Hamnet (2025) dinobatkan sebagai Film Drama Terbaik di Golden Globe 2026. Ketika sang sutradara, Chloé Zhao, naik ke panggung, ia memilih menjauh dari euforia kemenangan personal. Alih-alih menyoroti pencapaian individu, Zhao mengarahkan perhatian pada proses, relasi, dan lapisan emosi yang menyertai lahirnya film ini. Sebuah pengingat bahwa karya seni kerap tumbuh dari pengalaman manusia yang tidak selalu mudah dirayakan.
“Desa Hamnet”: Film sebagai Kerja Bersama
Dalam pidatonya, Zhao menyebut tim produksinya sebagai “desa Hamnet”—sebuah metafora tentang kerja kolektif yang saling menopang. Bagi Zhao, pembuatan film bukanlah perjalanan yang terpisah dari kehidupan, melainkan ruang di mana realitas personal ikut hadir dan membentuk karya.
“Saya hanya ingin mengatakan bahwa ‘desa Hamnet’ yang membuat film ini bersama… sebagian dari kami kehilangan orang tercinta saat proses berlangsung, dan sebagian lainnya masih bergulat dengan banyak hal,” ujarnya. “Kami ingin mengatakan bahwa kami memikirkan kalian. Kami ada di sini karena kalian. Kami mencintai dan merindukan kalian.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa di balik layar terdapat kerja emosional yang nyata. Film, dalam pandangan Zhao, tidak lahir dari jarak aman, melainkan dari keterlibatan penuh—dari duka, ketahanan, dan rasa saling menjaga yang terjalin di sepanjang proses.
Belajar Rentan: Seni yang Jujur pada Diri Sendiri
Dari sana, pidato Zhao bergerak ke ranah yang lebih reflektif. Ia membagikan percakapannya dengan Paul Mescal, pemeran William Shakespeare dalam Hamnet, tentang pelajaran yang mereka petik selama pembuatan film.
“Pagi ini Paul mengatakan kepada saya bahwa membuat Hamnet menyadarkannya akan hal terpenting sebagai seniman: belajar cukup rentan untuk membiarkan diri kita terlihat apa adanya, bukan seperti seharusnya kita tampil.”
Kerentanan, dalam konteks ini, bukanlah kelemahan, melainkan keberanian untuk hadir tanpa topeng. Zhao menekankan bahwa memberi diri sepenuhnya pada dunia juga berarti mengakui bagian-bagian yang tidak sempurna—rasa takut, keraguan, bahkan rasa malu—agar karya yang lahir dapat menjadi cermin bagi orang lain untuk menerima dirinya sendiri.
Di tengah industri yang kerap menuntut ketegasan dan citra ideal, pesan Zhao terasa relevan dan membumi. Hamnet bukan hanya kisah tentang kehilangan, tetapi juga tentang keberanian untuk tetap terbuka—sebagai seniman, dan sebagai manusia.