
Rumah produksi Pal8 Pictures akhirnya mengumumkan jajaran pemeran lengkap film Laut Bercerita, mempertegas keseriusan adaptasi novel bestseller karya Leila S. Chudori ini menuju layar lebar. Setelah sebelumnya memperkenalkan para pemeran utama di ajang JAFF Market, yang terdiri dari Reza Rahadian sebagai Biru Laut, Yunita Siregar sebagai Asmara Jati, Christine Hakim sebagai ibu, Arswendi Bening Swara sebagai ayah, serta Dian Sastrowardoyo sebagai Kasih Kinanti, dan Eva Celia sebagai Ratih Anjani, kini deretan pemain lainnya resmi diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada 24 Februari 2026.
Para Pemeran di Film Laut Bercerita

Disutradarai oleh Yosep Anggi Noen, film ini juga menghadirkan Kevin Julio sebagai Daniel Tumbuan, Ben Nugroho (Alex Perazon), Dewa Dayana (Sunu Dyantoro), Yoga Pratama (Arifin Bramantyo), Nagra Kautsar (Naratama), Natalius Chendana (Julius), dan Afrian Arisandy (Gala Pranaya). Mereka memerankan lingkar diskusi mahasiswa Winatra, yaiitu ruang intelektual sekaligus emosional yang membentuk perjalanan Biru Laut.
Skenario film ditulis langsung oleh Leila S. Chudori bersama Yosep Anggi Noen, dan diproduseri oleh Gita Fara, Budi Setyarso, serta Leila sendiri. Pal8 Pictures menggandeng VMS Studio, Jagartha, Lynx Films, dan Brandlink dalam proses produksinya.
Dengan komposisi pemain dan tim kreatif yang solid, Laut Bercerita tak hanya menjanjikan adaptasi yang menyentuh hati pemirsanya kelak, tetapi juga pembacaan ulang yang sinematik atas luka sejarah. Di antara deretan nama besar itu, sosok Asmara Jati, yang diperankan Yunita Siregar, menjadi salah satu karakter yang paling dinantikan perwujudannya di layar.
Yunita Siregar: Menjadi Asmara Jati
Bagi aktris Yunita Siregar, memerankan Asmara Jati dalam film Laut Bercerita bukan sekadar menerima peran baru, melainkan menerima tanggung jawab besar. Ia menyadari sejak awal bahwa karakter ini sudah lebih dulu hidup kuat di hati para pembaca novel karya Leila S. Chudori.
“Ini sangat challenging buat aku,” ujarnya ketika DEWI berbincang tentang perannya. Ia mengaku bahkan sejak pertama kali mendapat kabar tentang karakter yang akan ia mainkan, ia sudah merasakan tekanannya. “Ternyata Asmara Jati itu salah satu karakter yang paling banyak disukai pembaca menurut Bu Leila (Chudori).”
Menemukan Kekuatan Asmara
Menariknya, Yunita tidak langsung jatuh hati pada Asmara saat pertama kali membaca novel tersebut. Ia justru lebih dulu terpesona pada perempuan-perempuan di gerakan Winatra.
“Kalau kita sudah baca bukunya, part Asmara, kan, memang munculnya agak belakangan. Di awal aku sangat terpesona dengan perjuangan para wanita di gerakan Winatra. Mereka berani dan pintar, tahu bagaimana menyuarakan pendapat mereka.”
“Di awal aku sangat terpesona dengan perjuangan para wanita di gerakan Winatra. Mereka berani dan pintar, tahu bagaimana menyuarakan pendapat mereka”
Yunita Siregar
Namun ketika sampai pada bagian Asmara Jati, perspektifnya berubah. Ia menemukan kekuatan yang berbeda, yang menurutnya terasa lebih senyap, tapi tak kalah kokoh. Di situlah Yunita mulai memahami bahwa kekuatan Asmara bukan terletak pada ledakan emosi, melainkan pada ketenangan dan kontrol diri.
“Ketika membaca bagian Asmara di novel Laut Bercerita , ternyata dia nggak kalah kuat. Menurutku, dia lebih tangguh secara emosional. Mungkin karena dia dokter, dia jadi lebih memilih realistisnya saja. Mungkin dia tipe yang cenderung logis dalam melihat berbagai hal.”
Duka dalam Diam
Tema kehilangan menjadi salah satu simpul emosional terkuat dalam film Laut Bercerita. Bagi Yunita, ini bukan sekadar adegan. Ia memiliki resonansi personal.
“Soal rasa kehilangan, saya pernah mengalami itu. Dan cara Asmara merepresentasikan duka menurutku berbeda.”
Ia menjelaskan bahwa Asmara bukan tipe yang meluapkan kesedihan dengan tangisan atau ekspresi dramatis. Prosesnya lebih internal, lebih hening.
“Dia bukan tipe yang harus nangis terus. Cara dia memproses itu unik. Dia berusaha tetap kuat di depan orang lain, tapi karena dia pintar, dia bisa memproses semuanya dengan lebih tenang. Jadi tipenya Asmara itu duka dalam diam.”
Peran yang Emosional

Meski durasi kemunculannya di layar tidak dominan, Yunita melihat Asmara sebagai karakter dengan beban emosi yang besar. Ia menjalani proses persiapan yang panjang. Ia membaca novel berkali-kali, berdiskusi intens dengan sutradara dan Leila Chudori, serta mengikuti beberapa sesi coaching. Bahkan, ia mengambil pelatihan akting intensif secara pribadi untuk memperdalam pemahaman emosionalnya.
“Memang part-nya bukan yang paling banyak,” katanya. “Tapi menurut saya, peran menjadi Asmara ini juga menantang.”
Baginya, tantangan bukan soal seberapa banyak adegan, melainkan seberapa dalam ia bisa menghadirkan sosok perempuan yang kuat, rasional, dan menyimpan dukanya dalam diam. Dan mungkin, justru dalam keheningan itulah Asmara Jati menemukan kekuatannya; serta Yunita Siregar menemukan salah satu peran paling menantang dalam perjalanan kariernya.