
Film sering mengajarkan satu hal yang terdengar heroik: untuk menjadi luar biasa, seseorang harus rela hancur. Misalnya darah di tangan Andrew Neiman (Miles Teller) saat memukul drum di film Whiplash (2014), tubuh Nina Sayers (Natalie Portman) di film Black Swan (2010) yang semakin rapuh demi balet sempurna, hingga hidup Tonya Harding (Margot Robbie) di film I, Tonya (2017) yang dipenuhi kekerasan dan tekanan, semuanya dibungkus sebagai kisah dedikasi. Trope ini dikenal sebagai obsessive artist: karakter yang menjadikan karya, prestasi, atau keahlian sebagai pusat hidupnya, bahkan ketika itu berarti kehilangan kesehatan mental, relasi, dan identitas diri. Di layar, obsesivitas ini tampak dramatis dan memukau. Di kehidupan nyata, pola yang sama sering berakhir dengan burnout, kecemasan, dan perasaan “tidak pernah cukup”.
- Nina Sayers dalam Black Swan
Nina Sayers menjadikan balet bukan sekadar profesi, tapi identitas. Kesempurnaan menjadi satu-satunya cara ia merasa layak, hingga batas antara disiplin dan kekerasan pada diri sendiri menghilang. Tubuh dan pikirannya dikorbankan demi citra ideal yang terus menjauh, membuatnya kehilangan ruang untuk menjadi manusia di luar panggung.

- Andrew Neiman dalam Whiplash
Andrew Neiman, seorang mahasiswa musik dan drummer jazz, yang mentalnya perlahan dibentuk oleh pelatihnya, Terence Fletcher (J.K Simmons). Metode pengajaran yang penuh kekerasan verbal dan manipulasi membuat Andrew percaya bahwa trauma adalah harga yang wajar untuk kehebatan. Ambisi profesionalnya tumbuh bersamaan dengan ketakutan untuk dianggap biasa-biasa saja.

- Tonya Harding dalam I, Tonya
Tonya Harding sebagai atlet figure skating yang tumbuh dalam lingkungan keras dan minim dukungan emosional. Hubungannya dengan sang ibu, LaVona Golden (Allison Janney), membuat Tonya terbiasa menerima penghinaan sebagai bentuk perhatian. Prestasi olahraga menjadi satu-satunya cara untuk bertahan dan keluar dari lingkaran hidup yang menyakitkan.

Ketiga kisah ini menunjukkan bahwa obsesivitas dalam pekerjaan jarang lahir sendirian. Ia tumbuh dari sistem yang memuja hasil, yaitu industri seni, institusi pendidikan, hingga keluarga. Sementara kondisi batin dikesampingkan. Tekanan eksternal itu lama-lama menetap di kepala, berubah menjadi suara yang kita kira ambisi pribadi, padahal sering kali hanya gema tuntutan yang tak pernah kita pilih sepenuhnya.
Ambisi yang sehat seharusnya seperti cahaya penunjuk jalan, bukan api yang membakar habis. Bekerja dengan tekun tidak harus berarti mengorbankan diri tanpa batas, dan passion tidak semestinya menuntut kita hancur agar pantas berhasil. Sebab mimpi yang baik bukan yang menyempitkan hidup, melainkan yang masih memberi ruang untuk bernapas, pulih, dan tetap menjadi manusia utuh.
Teks: Kinar Laimaura
Editor: Mardyana Ulva