
Tidak semua film perlu mengejutkan untuk membekas. Ada horor yang justru terasa lembut, ada peran kecil yang tinggal lama di ingatan, dan ada film Indonesia yang membuat kita pulang dengan perasaan penuh. Dari pengalaman menonton, kita belajar bahwa sinema terbaik sering kali bekerja dengan jujur, manusiawi, dan tanpa ego.
Bagi Prilly Latuconsina, menonton bukan sekadar hiburan. Ia adalah ruang belajar. Lewat film dan serial yang beragam, Prilly menemukan cara-cara baru memahami emosi, karakter, dan kejujuran dalam berkarya.
The Haunting of Hill House: Ketika Horor Menjadi Lembut

Salah satu karya yang paling berkesan bagi Prilly adalah serial The Haunting of Hill House (2018). Serial ini, menurutnya, mengubah cara pandangnya terhadap horror. Bukan sebagai genre yang harus selalu mengejutkan, tetapi sebagai ruang psikologis yang bekerja perlahan.
“Biasanya, saat hantu muncul, ada musik ‘jeng jeng!’ atau ada shoot yang bikin kaget,” ujarnya. “Tapi di series ini justru sebaliknya. Saat hantunya muncul, scoring-nya sedih.”
Alih-alih mengandalkan jump scare, menurut Prilly, The Haunting of Hill House bermain dengan ekspektasi. Banyak momen yang terasa tenang, bahkan nyaris biasa, justru menjadi ruang munculnya ketegangan. Dalam adegan-adegan tertentu, tidak ada kejadian besar, tidak ada hantu yang tiba-tiba muncul, namun rasa cemas terus membangun karena penonton menunggu sesuatu yang mungkin tak pernah datang.
Bagi pemeran sosok Risa di film Danur ini, di situlah keindahan horor yang paling jujur. “Kita tetap takut, tapi dengan cara yang lebih halus dan psikologis.”
Menonton karya-karya seperti ini membuat Prilly menyadari bahwa setiap kreator punya cara sendiri dalam bercerita. Dan sebagai aktor, keberagaman pendekatan itu memperkaya cara memahami karakter dan dunia yang mereka huni.
One Battle After Another: Tentang Akting dan Kerendahan Hati

Dari horor yang halus, Prilly beralih pada pengalaman menonton yang memberi pelajaran lain, yakni tentang ego. Menonton film One Battle After Another (2025), meninggalkan kesan mendalam dan ia sebut sebagai pengalaman yang ‘membuka mata’.
Film ini dibintangi deretan aktor pemenang Oscar, namun tidak semua mendapatkan porsi utama. Leonardo DiCaprio memegang peran sentral, Sean Penn hadir sebagai antagonis, sementara karakter Sensei Sergio St. Carlos (Benicio del Toro) hanya muncul dalam beberapa adegan, bahkan tanpa payoff besar di akhir cerita. Meski begitu, menurut Prilly, performanya tetap melekat di ingatan.
“Dari situ saya belajar,” kata Prilly, “Menjadi aktor itu bukan soal siapa yang paling banyak scene-nya atau harus selalu jadi yang utama.”
Baginya, kekuatan akting terletak pada kejujuran menyampaikan emosi, sekecil apa pun ruang yang diberikan. Penonton, ia percaya, selalu bisa merasakan itu.
Pemahaman ini juga yang melatari keputusannya mengambil peran pendukung di Budi Pekerti (2023). Ia tidak berada di pusat cerita; dan itu tidak menjadi masalah. “Saya melihat film itu sebagai ruang belajar,” ujarnya. “Saya ingin berkembang, bukan hanya bersinar.”
Film Indonesia yang Membekas di Hati

Kedekatan emosional itu juga ia temukan dalam film Indonesia. Dua judul yang paling membekas baginya adalah Pengepungan di Bukit Duri (2025) dan Tinggal Meninggal (2025), dua film dengan pendekatan yang sangat berbeda, namun sama-sama jujur.
Pengepungan di Bukit Duri terasa dekat dengan realitas hari ini. Dunia remaja yang digambarkan, lengkap dengan kekerasan, kriminalitas, dan ketegangan sosial, bukan sesuatu yang asing. Isu rasisme dan minoritas yang diangkat pun, menurut Prilly, menjadi refleksi penting bagi Indonesia. Film ini menegangkan, namun tetap memberi ruang untuk empati.
Sementara itu, Tinggal Meninggal, debut penyutradaraan Kristo Immanuel, menawarkan pengalaman yang lebih playful. Menurut Prilly, teknik breaking the fourth wall—ketika karakter berbicara langsung ke kamera—mungkin belum lazim bagi penonton Indonesia. Namun justru di situlah letak daya tariknya.
“Saya merasa diajak masuk ke dalam cerita,” kata pemeran sosok Tita di film Budi Pekerti ini. Katanya lagi, meski tidak semua orang akan merasa relate dengan karakternya, film ini berhasil menciptakan kedekatan yang personal.
Yang menarik, kedua film tersebut bukan film yang mengundang sedih, namun Prilly mendapati dirinya tetap membawa perasaan pulang yang penuh haru. Ada emosi-emosi kecil yang menempel. Ada karakter-karakter yang terasa akrab, seolah cermin dari diri sendiri.
***

Bagi Prilly, film selalu lebih dari sekadar tontonan. Ia adalah ruang refleksi: tentang manusia, tentang ego, tentang keberanian untuk jujur. Kadang lewat ketakutan yang sunyi, kadang lewat karakter kecil yang tak banyak bicara, kadang lewat cerita yang diam-diam berbicara tentang hidup kita sendiri.
“Menonton membuatku jadi aktor yang lebih peka,” ujarnya. “Tapi yang lebih penting, menonton membuatku jadi manusia yang lebih lengkap.”
Di situlah sinema bekerja paling kuat: tidak berisik, tidak memaksa, namun tinggal lama. Seperti perasaan yang sulit dijelaskan, tapi enggan dilepaskan.