
Memasuki edisi keempatnya pada Januari 2026, perhelatan seni ART SG kembali menjadi panggung kolaboratif. Sebagai pameran seni kontemporer terkemuka di Asia Tenggara, ART SG menghadirkan 106 galeri dari 30 negara, menjadikannya titik temu lintas geografi, praktik artistik, dan wacana zaman.
Di dalam kerangka besar tersebut, integrasi strategis hadir melalui program S.E.A Focus, yang merajut visi global dengan kekhasan Asia Tenggara. Di tengah kemegahan instalasi dan keberanian inovasi kuratorial, ART SG 2026 mempertemukan para maestro yang melalui karya-karyanya bertindak sebagai narator utama zaman, yang mengartikulasikan pesan-pesan transformatif yang bergerak dari kedalaman tradisi hingga proyeksi masa depan.
Melati Suryodarmo, “I Love You”
Salah satu suara yang paling menggugah datang dari Melati Suryodarmo. Seniman asal Solo ini telah lama dikenal melalui praktik seni performa berdurasi panjang dengan tubuh sebagai medium utama. Di ART SG 2026, ia menampilkan I Love You (2007) di UBS Art Studio—sebuah karya performatif di mana Melati bergerak di dalam ruang merah menyala sambil memapah selembar kaca besar yang berat, seraya berulang kali mengucapkan kalimat “I love you”. Di titik tertentu, bahasa kehilangan maknanya, berubah menjadi beban fisik dan emosional. Melalui repetisi dan ketahanan raga, Melati mengajak penonton merenungkan rapuhnya bahasa, sekaligus beratnya komitmen yang sering kali kita ucapkan dengan ringan.
Citra Sasmita,“Bedtime Stories”
Dari tubuh sebagai medium, narasi kemudian bergerak ke ingatan kolektif dan mitologi melalui karya Citra Sasmita. Perupa kontemporer asal Bali ini dikenal atas praktiknya yang mendekonstruksi narasi tradisional Bali melalui perspektif feminisme. Di bawah naungan Yeo Workshop, ia menghadirkan instalasi berskala besar Bedtime Stories. Karya ini mewujud dalam bentuk konstelasi kain gantung imersif yang memadukan kosmologi Bali dengan pemikiran feminis kontemporer. Karya ini mengeksplorasi konsep taksu, energi spiritual yang menghidupkan karya seni, sekaligus menciptakan ruang kontemplatif tempat memori leluhur, tubuh perempuan, dan sejarah saling berkelindan.
John Clang dan Seni Pertunjukan Interaktif
Sementara itu, talenta tuan rumah John Clang membawa pendekatan yang lebih personal dan interaktif ke lantai pameran. Dikenal lewat praktik fotografi, film, dan seni pertunjukan, seniman asal Singapura ini menghadirkan performa berbasis sistem Astrologi Bintang Ungu. Melalui dialog langsung dengan pengunjung, John Clang mengubah ramalan kuno menjadi arsip penyelidikan sosial yang hidup. Karya ini terasa intim, cair, dan sarat refleksi tentang bagaimana manusia mencari makna di tengah ketidakpastian.
Robert Zhao & Atul Bhalla
Pendekatan riset dan ekologi hadir melalui kolaborasi Robert Zhao Renhui dan Atul Bhalla. Mengambil latar situs warisan dunia Hampi di India, karya mereka menyuguhkan pembacaan puitis atas lanskap dan luka ekologis. Di tangan keduanya, seni menjadi bahasa universal yang paling jujur untuk membicarakan kehancuran lingkungan, tanpa kehilangan kepekaan terhadap keindahan alam yang tersisa.
Bingyi, “Lightning Series”
Dialog antara manusia dan semesta berlanjut melalui karya Bingyi. Seniman asal Tiongkok ini menghadirkan Lightning Series, sebuah rangkaian lukisan di atas kertas xuan monumental. Dengan gestur kuas yang ekspresif dan ritmis, Bingyi menangkap esensi cuaca dan lanskap sebagai tarian alam, membawa kekuatan geologis dan kosmik ke dalam ruang pameran kontemporer.
Lee Bae, Puisi tentang Arang dan Volume
Keheningan yang penuh bobot ditawarkan oleh Lee Bae, maestro asal Korea Selatan. Melalui penggunaan material arang dan perunggu, karyanya menghadirkan puisi tentang volume, ruang, dan kehadiran. Di tengah hiruk-pikuk visual ART SG, karya Lee Bae mengajak pengunjung untuk berhenti, merasakan, dan menyadari keberadaan tubuh serta materi di dalam ruang kosong yang kontemplatif.
Lawrence Lek, “Future Travels”
Sebagai pelengkap yang visioner, Lawrence Lek di ArtScience Museum membawa penonton “terbang” ke masa depan melalui Future Travels. Lewat eksplorasi relasi manusia dan mesin, Lek mempertanyakan batas kesadaran digital dan bagaimana teknologi akan membentuk ulang pengertian kita tentang kemanusiaan.
***
Di koridor-koridor ART SG 2026, setiap langkah adalah perjumpaan dengan gagasan, tubuh, ingatan, dan masa depan. Indonesia hadir dengan representasi yang kuat melalui seniman-seniman yang berbicara lantang lewat kekhasan praktiknya masing-masing. Bersama suara-suara dari Asia dan dunia, ART SG 2026 membentuk sebuah ekosistem pemikiran—tempat seni tidak hanya dipamerkan, tetapi dipertanyakan, dirasakan, dan dihidupi sebagai cerminan zaman yang terus bergerak.
Teks: Kinar Laimaura
Editor: Mardyana Ulva
Foto: ART SG