
Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, di mana memperbarui diri terasa seperti kewajiban. Lebih baru, lebih cepat, lebih terlihat. Di tengah segala kebisingan tuntutan akan kemajuan, seberapa sering kita bertanya dalam hati: apakah kita benar-benar membutuhkan ini?
Memilih untuk living below our means atau hidup di bawah kemampuan finansial kita pada akhirnya sering kali terasa asing. Padahal, keputusan itu bisa menjadi sikap yang sangat sadar (mindful). Tidak untuk hidup nelangsa dalam kekurangan, melainkan tentang keberanian untuk tidak larut dalam arus konsumsi yang tak pernah selesai.
Konsumsi dan Ilusi Nilai Diri
Sistem ekonomi modern hidup dari rasa kurang. Ia tumbuh ketika kita merasa tidak cukup: tidak cukup modis, tidak cukup sukses, tidak cukup relevan. Kita didorong untuk percaya bahwa nilai diri meningkat seiring bertambahnya kepemilikan. Namun, jika ditilik lebih dalam, kegelisahan eksistensial tidak pernah benar-benar terobati oleh barang baru. Konsumsi mungkin memberi sensasi sesaat, tetapi tidak menyentuh akar keresahan yang lebih dalam: kebutuhan untuk merasa bermakna, terhubung, dan utuh.
Membeli barang baru memang menyenangkan, namun ia tidak pernah benar-benar menyembuhkan kegelisahan yang lebih dalam tentang makna dan keutuhan diri.
Tidak Harus Selalu Baru
Bagaimana jika hidup dengan lebih lebih jujur ternyata membawa lebih banyak ketenangan dari yang kita bayangkan? Bukan dalam bentuk pernyataan besar atau estetika yang selalu baru, melainkan dalam pilihan sehari-hari yang sederhana. Menggunakan tas yang sama selama bertahun-tahun. Mengulang pakaian tanpa rasa bersalah. Memasak di rumah. Memilih hobi yang tidak mahal namun memperkaya batin. Memperbaiki barang yang rusak alih-alih menggantinya. Dalam dunia yang memuja ‘upgrade‘, mempertahankan justru menjadi bentuk keteguhan yang otentik.
Memilih dengan Sadar, Menghargai Apa yang Sudah Ada

Di sinilah mindfulness menjadi relevan. Dengan kesadaran penuh, kita mulai bertanya sebelum membeli: Apakah ini kebutuhan atau pelarian? Apakah ini memperkaya hidup, atau sekadar mengisi kekosongan? Kesadaran semacam ini bukan hanya menghemat uang, tetapi juga mengembalikan kita pada pengalaman yang lebih mendasar: menghargai apa yang sudah ada.
Kesadaran akan hal ini membantu kita menikmati benda yang sama dengan rasa syukur yang baru. Menghargai pakaian lama sebagai saksi perjalanan. Menghormati barang yang diperbaiki sebagai bentuk tanggung jawab. Mengalami hidup bukan sebagai etalase, melainkan sebagai proses.