Di Antara Langit dan Tanah, Syrco BASÈ Pop-Up di Jakarta
Di Tengah Obsesi untuk Terus Upgrade, Bisakah Kita Memilih untuk Merasa Cukup?

Di Tengah Obsesi untuk Terus Upgrade, Bisakah Kita Memilih untuk Merasa Cukup?

Tidak semua yang baru membuat kita lebih utuh. Kadang, yang dirawat justru lebih bermakna.
Pada akhirnya, memilih untuk hidup lebih sederhana adalah cara untuk menghormati hidup itu sendiri. Bukan karena kita tidak mampu memiliki lebih, tetapi karena kita sadar bahwa kebahagiaan yang sejati tidak lahir dari akumulasi

Kita hidup dalam zaman yang bergerak cepat, di mana memperbarui diri terasa seperti kewajiban. Lebih baru, lebih cepat, lebih terlihat. Di tengah segala kebisingan tuntutan akan kemajuan, seberapa sering kita bertanya dalam hati: apakah kita benar-benar membutuhkan ini?

Memilih untuk living below our means atau hidup di bawah kemampuan finansial kita pada akhirnya sering kali terasa asing. Padahal, keputusan itu bisa menjadi sikap yang sangat sadar (mindful). Tidak untuk hidup nelangsa dalam kekurangan, melainkan tentang keberanian untuk tidak larut dalam arus konsumsi yang tak pernah selesai.

Konsumsi dan Ilusi Nilai Diri

Sistem ekonomi modern hidup dari rasa kurang. Ia tumbuh ketika kita merasa tidak cukup: tidak cukup modis, tidak cukup sukses, tidak cukup relevan. Kita didorong untuk percaya bahwa nilai diri meningkat seiring bertambahnya kepemilikan. Namun, jika ditilik lebih dalam, kegelisahan eksistensial tidak pernah benar-benar terobati oleh barang baru. Konsumsi mungkin memberi sensasi sesaat, tetapi tidak menyentuh akar keresahan yang lebih dalam: kebutuhan untuk merasa bermakna, terhubung, dan utuh.

Advertisement

Membeli barang baru memang menyenangkan, namun ia tidak pernah benar-benar menyembuhkan kegelisahan yang lebih dalam tentang makna dan keutuhan diri.

Tidak Harus Selalu Baru

Bagaimana jika hidup dengan lebih lebih jujur ternyata membawa lebih banyak ketenangan dari yang kita bayangkan? Bukan dalam bentuk pernyataan besar atau estetika yang selalu baru, melainkan dalam pilihan sehari-hari yang sederhana. Menggunakan tas yang sama selama bertahun-tahun. Mengulang pakaian tanpa rasa bersalah. Memasak di rumah. Memilih hobi yang tidak mahal namun memperkaya batin. Memperbaiki barang yang rusak alih-alih menggantinya. Dalam dunia yang memuja ‘upgrade‘, mempertahankan justru menjadi bentuk keteguhan yang otentik.

Memilih dengan Sadar, Menghargai Apa yang Sudah Ada

Memakai yang kita punyai, merawat yang sudah ada… Kesadaran akan hal ini membantu kita menikmati hidup dengan rasa syukur dan ketenangan batin.

Di sinilah mindfulness menjadi relevan. Dengan kesadaran penuh, kita mulai bertanya sebelum membeli: Apakah ini kebutuhan atau pelarian? Apakah ini memperkaya hidup, atau sekadar mengisi kekosongan? Kesadaran semacam ini bukan hanya menghemat uang, tetapi juga mengembalikan kita pada pengalaman yang lebih mendasar: menghargai apa yang sudah ada.

Kesadaran akan hal ini membantu kita menikmati benda yang sama dengan rasa syukur yang baru. Menghargai pakaian lama sebagai saksi perjalanan. Menghormati barang yang diperbaiki sebagai bentuk tanggung jawab. Mengalami hidup bukan sebagai etalase, melainkan sebagai proses.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Di Antara Langit dan Tanah, Syrco BASÈ Pop-Up di Jakarta

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.