Grounding sebagai Cara Memulai Tahun dengan Utuh

Grounding adalah tombol jeda: cara lembut untuk kembali ke tubuh, agar kita tidak habis sebelum perjalanan benar-benar dimulai.

Awal tahun kerap datang bersama dorongan untuk memulai ulang: resolusi baru, target baru, versi diri yang “lebih baik”. Namun bagi banyak perempuan, lembaran baru ini sering dibuka dengan tubuh yang masih lelah dan hati yang belum sepenuhnya selesai dengan tahun sebelumnya. Di sinilah praktik grounding menjadi relevan, namun bukan sebagai cara untuk mempercepat perubahan, melainkan sebagai jeda lembut untuk kembali ke diri.

DEWI kembali berbincang dengan Tsamara Fahrana, Human Design Coach di Jivaraga Wellness Space, yang juga melihat bahwa kebutuhan untuk grounding semakin terasa karena hidup perempuan hari ini dipenuhi peran dan tuntutan. Kita bergerak dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain, sering kali tanpa benar-benar hadir di tubuh sendiri. Grounding, baginya, adalah tombol jeda. Cara untuk kembali merasakan napas, sensasi tubuh, dan energi diri, agar ketika kita melangkah lagi, kita tidak melakukannya dengan kondisi yang sudah terkuras.

Grounding yang Lebih Sadar, Bukan Sekadar Diam

Menurut Tsamara, praktik grounding sejatinya berkaitan erat dengan apa yang disebut sebagai pressure energy centers, seperti Head dan Root. Ini merupakan pusat energi yang kerap memunculkan rasa terburu-buru, tekanan, dan keharusan untuk terus bergerak. Grounding, dalam konteks ini, bukan hanya tentang menenangkan diri, tetapi memahami mengapa kita merasa terpicu (triggeredd) sejak awal. Kesadaran ini membuat jeda menjadi lebih bermakna.

Advertisement

Human Design, sistem yang memadukan astrologi, I ChingKabbalah, dan ilmu modern untuk memetakan “cetakan energi” bawaan seseorang, kemudian hadir sebagai pintu masuk untuk memahami diri secara lebih personal. Pendekatan ini menjawab pertanyaan: Bagaimana kita dirancang untuk mengambil keputusan, bekerja, dan berinteraksi dengan dunia?

Tsamara menggambarkannya sebagai kaca pembesar yang membantu kita melihat pola energi masing-masing. Setiap orang memiliki cara berbeda untuk mengisi ulang energi; dan ini penting sebelum memilih praktik grounding. Ada yang merasa lebih tenang saat bergerak, ada yang justru perlu keheningan atau berada di alam. Dengan memahami pola ini, grounding tidak lagi terasa seperti kewajiban, melainkan sesuatu yang mengalir alami.

Membaca Pola Diri dengan Lebih Jujur

Sebagai sebuah blueprint, Human Design membantu kita lebih sadar terhadap cara kita berpikir, merasa, dan bereaksi. Tsamara menjelaskan, konsep defined dan undefined energy centers mengajarkan bahwa tidak semua yang kita rasakan berasal dari diri sendiri. Ada kalanya kita menyerap energi, emosi, atau kecemasan dari lingkungan sekitar. Kesadaran ini memberi jarak yang sehat, sebuah ruang untuk bertanya dengan jujur: “Apakah ini benar-benar milikku?”

Pemahaman ini juga menjelaskan mengapa setiap tipe energi membutuhkan bentuk grounding yang berbeda. Manifestor, misalnya, sering merasa lebih lega setelah mengomunikasikan niatnya dengan tenang. Generator dan Manifesting Generator menemukan kestabilan lewat gerak. Projector membutuhkan waktu untuk berhenti dan merefleksikan, sementara orang dengan tipe energi Reflector sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat ia berada. 

“Tidak ada satu cara yang berlaku untuk semua, dan itu bukan kelemahan, melainkan keunikan,” jelas Tsamara.

Pulang ke Diri, dengan Lembut

Bagi banyak perempuan, tantangan terbesar justru datang dari rasa bersalah ketika tidak produktif. Human Design mengingatkan bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa sibuk kita. Ada fase ketika tubuh meminta istirahat, dan itu sama berharganya dengan kerja keras. Memulai tahun baru dengan grounding berarti belajar mempercayai ritme alami energi tubuh, tanpa perlu terus membuktikan diri.

Pada akhirnya, grounding bukan hanya soal menenangkan pikiran, melainkan tentang penerimaan diri. Human Design membantu kita memahami bahwa kita tidak perlu hidup dengan standar orang lain untuk merasa cukup. Ketika kita kembali ke pola energi alami kita, rasanya seperti pulang ke rumah setelah lama tersesat. Lebih ringan, lebih jujur, dan tidak lagi sibuk membandingkan diri.Untuk memulai, Tsamara menyarankan langkah yang sangat sederhana: ambil napas, lalu tanyakan pada diri sendiri, “Berapa energiku hari ini?” Dengarkan respons tubuh, sekecil apa pun. Dari jeda kecil itulah, praktik grounding tumbuh, sebagai cara memulai tahun dengan halaman baru, tanpa meninggalkan diri yang lama.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Sambal: Lebih dari Sekadar Pedas, Sebuah Manifestasi Budaya dan Identitas

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.