
Pianis George Harliono baru saja menyapa kembali publik Tanah Air dalam konser gala pada 29 April 2026 di TIM Teater Besar, Jakarta. Konser ini sekaligus menjadi penampilan perdana “Jakarta Metropolitan Orchestra”, yang dipimpin oleh konduktor Vincent Wiguna. Dalam kesempatan tersebut, Harliono akan membawakan karya monumental Rachmaninoff Piano Concerto No. 2 in C minor, Op. 18, serta Tchaikovsky Romeo and Juliet.
Ditemui DEWI jelang konser, pianis kelahiran 16 Januari 2001 ini mengatakan bahwa sebuah konser musik klasik, keindahan sering kali terasa sulit didefinisikan. Baginya, tidak ada satu momen yang bisa disebut paling indah secara mutlak.
Setiap penonton datang dengan pengalaman dan cara mendengar yang berbeda, sehingga apa yang terasa istimewa bagi satu orang bisa saja terasa biasa bagi yang lain. Namun justru di situlah letak daya tariknyam bahwa musik tidak pernah hadir dengan makna yang tunggal.
Koneksi sebagai Inti dari Sebuah Pertunjukan
Sebagai pemain piano, pendengar musik klasik, dan pemirsa penampilan musik, George menemukan bahwa momen paling berharga bukan selalu pada bagian teknis atau klimaks musikal. Ia melihat momen itu justru hadir pada saat ia merasa benar-benar terhubung, baik dengan sesama musisi, maupun dengan penonton yang hadir.
“Buat saya, musik itu tentang koneksi,” ujarnya. “Seperti bahasa lain yang memungkinkan kita berkomunikasi tanpa kata, tetapi terasa.”
Dalam momen-momen tertentu, koneksi itu terasa lebih kuat; hampir seperti energi yang mengalir di antara panggung dan ruang penonton. Ia percaya, baik performer maupun audiens dapat merasakan ketika hubungan itu mencapai titik paling intens. Dan ketika itu terjadi, di situlah musik menemukan bentuknya yang paling indah.
Di Balik Panggung: Disiplin dan Keseimbangan
Keindahan yang terlihat di atas panggung sejatinya tidak lepas dari proses panjang di baliknya. George menjalani rutinitas latihan yang intens, terutama saat sedang dalam perjalanan konser. Ia bisa menghabiskan enam hingga tujuh jam sehari untuk berlatih, berpindah dari satu kota ke kota lain dengan jadwal yang padat.
Meski demikian, ia tetap berusaha menjaga keseimbangan. “Tidak ada akhir pekan untuk musisi,” katanya sambil tersenyum. Namun di sela-sela kesibukan, ia tetap menyempatkan diri untuk melakukan hal-hal sederhana, seperti bersepeda, menonton film, atau menghabiskan waktu bersama teman.
Baginya, menjaga ruang di luar musik sama pentingnya dengan latihan itu sendiri. Ia menyadari bahwa bekerja terlalu keras tanpa jeda justru bisa menghilangkan esensi dari apa yang ia lakukan. “Saya bisa saja latihan 10 jam sehari, tapi saya tidak mau,” ujarnya. “Saya selalu mencari waktu untuk melakukan hal-hal yang aku nikmati di luar musik.”
Menikmati dan Membagikan Musik
Menjelang pertunjukan, perasaan gugup tetap menjadi bagian yang tak terpisahkan. Namun George memilih untuk tidak terjebak di dalamnya. Ia lebih fokus pada satu hal: menikmati musik yang ia mainkan, dan membagikannya kepada orang-orang yang datang untuk mendengarkan.
“Setiap konser berbeda,” katanya. “Kadang lebih gugup, kadang tidak. Tapi yang paling penting adalah aku mencoba menikmati musiknya, dan menikmati momen berbagi itu dengan penonton.”
Pada akhirnya, di balik teknik, latihan, dan tekanan, ada satu hal yang menjadi inti dari semuanya: rasa syukur. Kesempatan untuk memainkan musik yang ia cintai, dan menghadirkannya di hadapan orang lain, menjadi sesuatu yang ia anggap istimewa.
Dan mungkin, justru di situlah momen terindah itu berada. Bukan pada satu bagian tertentu dalam musik, melainkan pada hubungan yang tercipta, perlahan, antara manusia, bunyi, dan rasa.
Foto: Gayuh Prasongko