
ArtScience Museum di Marina Bay Sands membuka pameran terbaru bertajuk “Flesh and Bones: The Art of Anatomy” mulai 21 Maret 2026. Pameran ini mengajak pengunjung melihat tubuh manusia dari sudut pandang yang lebih luas. Tidak hanya tubuh sebagai bentuk fisik, tetapi juga sebagai ruang yang dipahami melalui seni, ilmu pengetahuan, ingatan, dan tradisi lintas budaya.
Digelar bertepatan dengan peringatan 15 tahun ArtScience Museum, pameran ini menghadirkan lebih dari 160 artifak dan karya seni. Sebagian di antaranya berasal dari proyek yang dikembangkan oleh Getty Research Institute di Los Angeles pada 2022, termasuk ilustrasi anatomi berukuran besar, atlas medis, manuskrip, hingga buku-buku langka yang mengungkap bagian dalam tubuh manusia.
Tubuh sebagai Titik Temu Seni dan Sains
“Flesh and Bones: The Art of Anatomy” memperlihatkan bagaimana pemahaman tentang tubuh manusia berkembang dari waktu ke waktu, dipengaruhi oleh praktik para seniman, ilmuwan, dokter, dan printmaker dari berbagai belahan dunia.
“Pameran ini menelusuri hubungan panjang antara seni, kedokteran, dan rasa ingin tahu manusia terhadap tubuh,” ujar Honor Harger, Vice President ArtScience Museum. Ia menambahkan bahwa anatomi tidak hanya dibentuk oleh pendekatan ilmiah, tetapi juga oleh sistem kepercayaan, teknologi, dan praktik artistik yang terus berubah.
Versi terbaru dari Flesh and Bones ini dikembangkan lebih lanjut oleh ArtScience Museum dengan memasukkan perspektif Asia serta menghadirkan 33 karya dan instalasi kontemporer. Dengan mempertemukan karya historis dan praktik seni masa kini, pameran ini menunjukkan bahwa cara kita memahami tubuh terus berkembang, mengikuti konteks budaya dan zamannya.
Dari Ilustrasi Anatomi hingga Instalasi Imersif

Pameran dibuka dengan instalasi The Network Within (2026) karya seniman Jepang Chiharu Shiota. Perupa ini dikenal dengan karyanya yang menggunakan benang merah yang menjadi ciri khasnya, instalasi ini menggambarkan tubuh sebagai jaringan—mengingatkan pada aliran darah dan sistem pernapasan, sekaligus hubungan antara ingatan, sejarah, dan manusia. Karya ini ditempatkan di bagian awal pameran, mengajak pengunjung untuk “masuk” dan merasakan tubuh sebagai pengalaman ruang.

Salah satu sorotan utama dalam pameran ini adalah karya ilustrasi anatomi berskala besar dari seniman Italia abad ke-18, Antonio Cattani. Ilustrasi tersebut dikenal karena detailnya dalam menggambarkan tubuh manusia yang telah dibedah, sekaligus menunjukkan bagaimana anatomi berkembang sebagai disiplin visual melalui teknik cetak.
Karya-karya ini dipresentasikan bersama praktik kontemporer, seperti karya seniman Hong Kong Angela Su, yang menghadirkan figur-figur tubuh dengan pendekatan yang lebih spekulatif dan menggugat cara pandang klasik tentang anatomi.
Mengalami Tubuh dari Dalam

Di bagian tengah pameran, pengalaman tersebut berlanjut melalui karya imersif Evolver (2022) oleh kolektif seni berbasis London, Marshmallow Laser Feast. Melalui proyeksi berskala besar dan pengalaman virtual reality, pengunjung diajak mengikuti perjalanan oksigen di dalam tubuh; dari mulut hingga paru-paru, membuat sistem yang tak terlihat menjadi terasa nyata.
Karya ini diawali dengan meditasi terpandu yang dinarasikan oleh aktris pemenang Oscar Cate Blanchett, dengan musik dari Jonny Greenwood (Radiohead) dan komposer Islandia Jóhann Jóhannsson. Untuk pertama kalinya ditampilkan di Singapura, Evolver menghadirkan pendekatan yang lebih sensorik dalam memahami tubuh—bukan hanya dilihat, tetapi juga dirasakan.
Selain itu, pengunjung juga dapat melihat sekitar 20 spesimen tubuh manusia, termasuk spesimen patologis dan plastinasi yang biasanya digunakan untuk pendidikan medis. Presentasi ini dilengkapi dengan kisah tentang program Silent Mentor, yang menghormati individu yang mendonasikan tubuh mereka untuk pendidikan dan penelitian. Melalui refleksi para mahasiswa kedokteran, bagian ini menyoroti nilai empati, rasa hormat, dan dimensi kemanusiaan dalam proses mempelajari anatomi.
Melalui pertemuan antara karya historis, praktik kontemporer, dan pendekatan ilmiah, Flesh and Bones: The Art of Anatomy menghadirkan tubuh manusia sebagai sesuatu yang terus ditafsir ulang. Ia tidak hanya memperlihatkan apa yang ada di balik kulit, tetapi juga bagaimana manusia, dari berbagai budaya dan waktu, berusaha memahami dirinya sendiri.