I La Galigo Sebuah Mahakarya dari Suku Bugis Hadir di Panggung Ciputra Artpreneur
I La Galigo telah diapresiasi oleh dunia, kini karya seni budaya Nusantara tersebut akan diperkenalkan kepada masyarakat luas, khususnya pecinta seni di Jakarta.



Sureq Galigo adalah sebuah cerita pahlawan tentang mitos penciptaan suku Bugis yang terabadikan lewat tradisi lisan dan naskah-naskah; terekam dalam bentuk syair dalam bentuk puisi bahasa Bugis kuno yang juga ditulis dalam huruf Bugis kuno. Puisi ini terdiri dalam sajak bersuku lima yang menceritakan kisah asal usul manusia.
 
Seorang teaterawan asal Amerika bernama Robert Wilson kemudian mengadaptasi Sureq Galigo dalam pementasan teater. Berjudul I La Galigo, pementasan ini menampilkan pemain-pemain asli Indonesia. Kolaborasi antara pemain lokal dan manajemen produksi kelas internasional membawa I La Galigo berkeliling sejumlah negara maupun kota.
 
Sejak pentas perdananya di Esplanade Theatres on the Bay (Singapura) pada 2003, lakon ini terus menuai pujian saat digelar di kota-kota besar dunia, seperti: Lincoln Center Festival (New York) , Het Muziektheater (Amsterdam), Fòrum Universal de les Cultures (Barcelona), Les Nuits de Fourvière (Rhône-France), Ravenna Festival (Italy), Metropolitan Hall for Taipei Arts Festival (Taipei), Melbourne International Arts Festival (Melbourne), Teatro Arcimboldi (Milan), sebelum akhirnya kembali ke Makassar untuk dipentaskan di Benteng Rotterdam, dan baru-baru ini dipilih sebagai pementasan khusus berkelas dunia pada saat Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali.
 
I La Galigo  menggambarkan petualangan perjalanan, peperangan, kisah cinta terlarang, upacara pernikahan yang rumit, dan pengkhianatan. Semua ini merupakan plot cerita yang kemudian membentuk sebuah cerita besar yang begitu menarik, dinamis, dan ternyata masih memiliki relevansi dengan kehidupan modern di zaman sekarang. Ciputra Artpreneur dan Yayasan Bumi Purnati membawa kembali I La Galigo yang  akan dipentaskan kembali pada 4-7 Juli 2019 mendatang, bertempat di Ciputra Artpreneur Theater Jakarta. (WHY) Foto: Dok. Istimewa
 
 

 



JOIN OUR COMMUNITY