Bombo Space Resmi Dibuka di Pacific Place, Hadirkan Pameran “The Lighted Heart”

Ruang seni dan komunitas baru, Bombo Space, resmi dibuka di Pacific Place, Jakarta. Mengawali kehadirannya, Bombo langsung menggelar pameran bertajuk The Lighted Heart yang mengajak publik melakukan perjalanan reflektif ke dalam diri.

Bombo Space merupakan bagian dari multi-brand store Bimbi yang menghadirkan ruang khusus untuk seni dan aktivitas komunitas. Ruang ini dirancang sebagai tempat bertemu, berdialog, dan merayakan praktik kreatif yang berakar pada nilai kebersamaan.

Cahaya sebagai Perjalanan Batin

Mengambil inspirasi dari kutipan penyair sufi Rumi, “Jika cahaya ada di hatimu, kau akan menemukan jalan pulang,” pameran ini mengangkat tema perjalanan ke dalam diri. Sekar menjelaskan bahwa “rumah” yang dimaksud bukan sekadar bangunan fisik, melainkan kondisi batin.

Advertisement

The Lighted Heart mengusung pemahaman bahwa rumah bukan semata ruang fisik, melainkan kondisi batin. Kedamaian dan kebahagiaan tidak selalu ditemukan di luar diri, tetapi tumbuh melalui kesediaan untuk mendengarkan hati tanpa tergesa-gesa menghakimi,” ujar Sekar Atika, kurator pameran.

Tema ini dipilih untuk merespons suasana Ramadan dan menjelang hari raya, momen yang identik dengan jeda dan pembersihan diri. Meski tidak menampilkan simbol-simbol religius secara eksplisit, pameran ini mengajak pengunjung merenung lewat narasi yang terkandung dalam setiap karya. Cahaya dimaknai sebagai kesadaran, sebagai cara melihat diri dan dunia dengan lebih jernih.

Menghidupkan Ruang, Merawat Komunitas

Dalam merancang pameran ini, Sekar memulai dari pembacaan ruang. Tata letak Bombo yang lebih ideal untuk karya dua dimensi memengaruhi pemilihan seniman dan medium. Enam partisipan terlibat, dengan lima di antaranya berasal dari Yogyakarta dan satu dari Bandung, serta memiliki latar praktik yang dekat dengan kerja-kerja komunitas.

Sekitar 20 karya ditampilkan, mulai dari lukisan, patung kecil, hingga instalasi. Salah satu yang menonjol adalah karya kolektif Matrahita, yang mengolah limbah kain menjadi instalasi patchwork. Penempatannya di bagian depan ruang menjadi simbol keterbukaan—tentang bagaimana keindahan bisa lahir dari sisa, dan bagaimana praktik seni dapat terhubung dengan keberlanjutan.

“Fokusku adalah menghidupkan ruang ini untuk komunitas,” kata Tika. “Bukan soal brand-nya, tapi bagaimana orang bisa datang, merasa dekat, dan menemukan ruang refleksi di sini,” pungkasnya.

Sebuah ruang baru hadir di tengah hiruk-pikuk pusat perbelanjaan Jakarta. Dan pendekatan ini menjadikan Bombo bukan sekadar galeri, melainkan ruang sosial yang memungkinkan percakapan lintas gagasan.

Add a comment Add a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Previous Post

Hermès: Footsteps Across the World, Jejak yang Menyambung Zaman

Next Post

Jelajah Carte Blanche The Macallan dan JING Tea

Advertisement

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.